Subscribe: BILA BALI - ngobrolin bali
http://ibedbilabali.blogspot.com/feeds/posts/default
Added By: Feedage Forager Feedage Grade B rated
Language: Malay
Tags:
ada  adalah  atau  bali  dalam  dari  dengan  ini  itu  oleh  orang bali  orang  saya  tidak  untuk  yang   
Rate this Feed
Rate this feedRate this feedRate this feedRate this feedRate this feed
Rate this feed 1 starRate this feed 2 starRate this feed 3 starRate this feed 4 starRate this feed 5 star

Comments (0)

Feed Details and Statistics Feed Statistics
Preview: BILA BALI - ngobrolin bali

Bila Bali



obrolan tentang bali



Updated: 2017-09-08T07:08:23.264+07:00

 



Membaca Bali dari Candi Sukuh

2014-07-08T21:08:45.995+07:00

Oleh: Ibed Surgana Yuga Mencari wajah Bali pada batu-batu purba di Jawa.  BANYAK ahli seni yang menyebut wayang kulit Bali memiliki bentuk yang lebih sederhana dibandingkan dengan wayang kulit Jawa yang lebih rumit dan memiliki stilisasi bentuk yang mengarah ke perkembangan dari bentuk sederhana. Mengapa hal ini bisa terjadi, padahal wayang kulit Bali juga memiliki akar pada wayang kulit Jawa (pada masa yang lebih kuno)? Jawabannya tentu saja perkembangan. Namun perkembangan yang macam apa? Beberapa argumen mengatakan bahwa wayang kulit Jawa mengalami perkembangan yang pesat dan kompleks, baik secara bentuk, lakon dan filsafatnya pada masa pengaruh Islam. Sedangkan wayang kulit Bali yang tetap berada di bawah kultur Hinduisme, tidak mengalami perkembangan sebagaimana sejawatnya di Jawa. Saya sendiri baru saja mendapat jawaban (yang masih kabur) tentang perbedaan ini, setelah berkunjung ke Candi Sukuh, di lereng Gunung Lawu, Karanganyar, Jawa Tengah. Candi Sukuh: Kembali ke Jiwa “Primitif” yang “Kasar” Jika kita melihat bentuk umum candi-candi di Jawa, maka ketika melihat Candi Sukuh sebagai candi Hindu, kita akan disuguhi bentuk candi yang “aneh”. Seakan ia tidak bisa dilacak dari arsitektur kebudayaan Hindu. Bentuknya yang berupa piramida, lebih mengingatkan kita pada kebudayaan Mesir, Meksiko, Peru atau Polynesia. Candi Sukuh diperkirakan dibangun antara tahun 1416 dan 1459, pada masa akhir kejayaan Hinduisme di Jawa. Yang menarik, candi ini justru dibangun jauh dari pusat peradaban Hindu ketika itu, yaitu Majapahit di Jawa Timur. Ia malah lebih dekat dengan pusat Hinduisme sebelumnya, yaitu Mataram Lama di Jawa Tengah, pada sekitar abad ke-9. Dugaan yang beredar adalah bahwa candi ini dibangun oleh orang-orang yang menyingkir dari Majapahit karena kerajaan itu telah dikalahkan oleh Demak. Kita tahu bahwa ketika itu pula ada eksodus orang-orang Majapahit ke Bali, yang mana kini menjadi nenek moyang sebagian besar orang Bali. Secara garis besar, Candi Sukuh dilingkupi dengan simbol-simbol besar lingga-yoni. Di lantai gerbang masuk utama, lingga (kelamin laki-laki) dan yoni (kelamin perempuan) digambarkan dengan gamblang dan cenderung bergaya realis. Pada beberapa relief dan arca, alat kelamin (terutama laki-laki) digambarkan dengan vulgar dan cenderung dibesar-besarkan. Simbol lingga-yoni sering dibaca sebagai simbol kesuburan. Saya jadi teringat sebuah relief yang menggambarkan persenggamaan yang terpahat di Pura Maduwe Karang, Singaraja. Dari relief-relief yang ada di Candi Sukuh, terbaca tiga cerita besar, yaitu “Garudeya”, “Sudamala” dan “Dewaruci”. “Garudeya” bercerita tentang burung garuda yang menyelamatkan ibunya, Dewi Winata, dari perbudakan dengan mencuri tirta amerta dari para dewa. Sadewa meruwat Dewi Durga hingga kembali menjadi Dewi Uma dalam cerita “Sudamala”. Dan Bima mencari tirta amerta di dasar samudera, hingga ia menemukan “dirinya sendiri”, yaitu Dewaruci. Dari cerita ini muncul dugaan besar bahwa Candi Sukuh merupakan candi yang digunakan untuk ritual-ritual ruwatan atau penyucian. Dari segi arsitektural, Candi Sukuh diduga dibangun dengan menyalahi pola dari kitab tentang arsitektur Hindu, yaitu Wastu Widya. Dalam kitab ini konon dijelaskan tentang bentuk candi harus bujur sangkar dengan pusat persis di tengah-tengah, yang merupakan wilayah paling suci. Argumen yang kemudian muncul adalah, candi ini dibangun pada masa pudarnya kejayaan Hindu di Jawa, sehingga bentuk-bentuk yang lebih mengemuka kemudian justru dari kebudayaan yang lebih kuno dan arkaik, yaitu masa megalitik. Argumen ini dapat kita buktikan jika melihat bentuk-bentuk yang tergambar pada arca dan relief di kompleks candi. Figur-figur yang tergambar dari pahatan batu itu terlihat lebih “kasar” dan “primitif” dibandingkan dengan berbagai figur yang terpahat pada batu-batu candi yang dibangun berabad-abad sebelumnya, seperti Prambanan dan Borobudur. Adakah ini menunjukkan bahwa Candi Sukuh merupakan sebuah refleksi kembalinya jiwa “primitif” manusia setelah mengalami masa kejayaan? Ku[...]



Tradisi Kontemporer

2014-07-07T04:12:28.831+07:00

Oleh: Ibed Surgana Yuga Kini saatnya Bali meng-cancel pendikotomian tradisi dengan modern.   INI adalah wacana yang terlalu sering diulang. Tentang tradisi di masa mutakhir. Dan tulisan ini mengulangnya lagi. Tapi bagi saya tak mengapa. Wacana semacam ini memang memerlukan pengulangan demi pengulangan. Per-ingat-an demi per-ingat-an. Sebagaimana sebuah tradisi yang adalah bentukan dari pengulangan yang terus-menerus, hingga mendapat pengakuan secara komunal, mapan dan memiliki pakemnya tersendiri. Mudah-mudahan sebagaimana tradisi pula, pengulangan demi pengulangan wacana semacam ini menjadi terbiasa, lalu “dilupakan”, karena tanpa disadari telah dijalani.Walaupun tradisi adalah masalah pelakonan, bukan wacana yang diverbalkan, namun bukan salah jika tradisi diterjemahkan ke dalam bahasa verbal. Sering kali para pelakon tradisi gagap dalam menjelaskan tradisinya, misal kepada generasi selanjutnya dari tradisi tersebut. Ini dapat dipahami sebab pelakonan adalah cara paling jitu dalam proses regenerasi tradisi.Contoh kasus di atas saya temui ketika seorang gadis kelahiran Denpasar bercerita pada saya tentang orangtuanya yang tidak bisa menjelaskan apa makna dari banten yang dibuat dan di-atur-kannya saban hari. Barangkali karena pengaruh pendidikan yang selalu menuntut kejelasan (verbal!) tentang sesuatu, si gadis ingin tahu seperti apa tradisi yang akan diwariskan padanya. Sebelum memutuskan diri untuk menceburkan diri dalam tradisi itu, barangkali ia menanam kecurigaan jangan-jangan itu adalah tradisi yang keliru.Apa yang dialami gadis itu bukan sesuatu yang aneh dalam konteks tradisi Bali di masa mutakhir. Sejarah telah membeberkan bukti bahwa tradisi Bali mencapai maknanya dalam pelakonan, bukan pemverbalan, sehingga sering kali tidak memiliki kemampuan untuk menjelaskan diri secara verbal. Pernyataan ini bukan menampik kenyataan bahwa sebagian dari tradisi Bali adalah tradisi lisan yang sangat dekat dengan verbalitas. Namun verbalitas dalam tradisi lisan merupakan bagian dari pelakonan, bukan verbalitas dalam hal menerjemahkan atau mewacanakan perihal tradisi itu sendiri.Sistem transmisi tradisi kepada generasi selanjutnya dengan cara pelakonan akan mengantarkan generasi baru itu pada pemahaman demi pemahaman secara otomatis. Dengan kata lain, pelakonan akan dengan sendirinya memberikan penjelasan, menerjemahkan, memverbalkan tradisi itu sendiri kepada generasi baru.Meng-“cancel” Tradisi vs ModernMasalah yang selama ini disebut sebagai pelestarian tradisi atau pewarisan tradisi yang sering mengkhawatirkan banyak pihak sebenarnya adalah masalah yang di atas disebut sebagai transmisi tradisi. Dalam konteks mutakhir, ketika masalah transmisi tradisi ini megalami ketersendatan, walaupun di sisi lain generasi demi generasi baru terus lahir, maka sering kali modernitaslah yang dituduh sebagai biang keladi dari terganggunya proses transmisi tersebut. Tidak terkecuali di Bali. Berbagai konflik dan polemik yang terjadi dan berkatian dengan tradisi juga selalu memunculkan pemikiran yang mengkonfrontasikan tradisi dengan modern. Hal ini kemudian menimbulkan sikap yang mendikotomikan tradisi dengan modern. Keduanya ditaruh pada dua kutub yang berbeda dan berlawanan.Pemikiran semacam itu mesti ditinjau ulang. Walaupun ada kebenaran semacam itu, namun perlu dilihat dulu lebih jauh ke belakang, di mana modernitas belum terlalu kuat mempengaruhi kehidupan Bali. Dari cara penilikan seperti ini akan terlihat bahwa sebenarnya, tanpa dikonfrontasikan dengan modernitas sekalipun, tradisi telah melahirkan berbagai konflik dan polemik yang serupa. Tradisi memiliki potensi konflik dan mampu meledakkan konflik itu tanpa adanya gesekan elemen di luar tradisi itu sendiri.Kini saatnya Bali untuk sejenak meng-cancel pendikotomian tradisi dengan modern. Tradisi mesti mutakhir mesti dilihat sebagai sebuah kebudayaan kontemporer yang menghidupi dan dihidupi oleh manusia Bali mutakhir. Dengan kata lain, segala elemen yang selama ini diklaim sebagai pengaruh luar mesti dipandang sebagai bagian dari tradisi itu [...]



Dan Drama Gong Itu ...

2014-07-07T04:14:23.765+07:00

Oleh: Ibed Surgana Yuga Apakah Bali memang tak lagi membutuhkan drama gong? SALAH satu keunggulan sebuah kebudayaan adalah kemampuannya untuk berubah. Untuk berubah, sebuah kebudayaan harus meraih sesuatu. Untuk berubah, sebuah kebudayaan harus rela kehilangan sesuatu. Dan kehilangan harus dicatat. Karena keunggulan lain dari sebuah kebudayaan adalah kemampuan dan kebetahannya untuk mencatat kehilangan demi kehilangan. Lalu untuk tidak melupakannya.Tapi kehilangan bukanlah dosa. Barangkali bukan pula kesalahan. Hanya sedikit kekeliruan. Untuk menyenangkan hati, kita sebut saja sebagai keniscayaan zaman.Ini adalah secarik catatan tentang kehilangan dari sebuah kebudayaan bernama Bali. Ya, walaupun belum sepenuhnya, Bali tengah menghadapi tanda-tanda akan kehilangan drama gong, sebuah bentuk teater yang belum terlalu lama kelahirannya, dibanding dengan bentuk-bentuk teater tradisi Bali pendahulunya. Kejayaannya di masa 1980-an hingga pertengahan 1990-an hanya “puncak kesementaraan”, di mana salah satu bentuknya mencapai kemapanan. Belum ada bentuk-bentuk baru, hasil upgrade baru, yang muncul, apalagi mapan. Pengulangan demi pengulangan yang dilakukan membosankan bagi penonton dan bagi orang-orang drama gong sendiri.Makanya, siapa yang mau menonton drama gong sekarang? Bahkan di kamarnya sendiri, orang telah terlalu berlimpah dengan hiburan. Pun, siapa yang mau memainkan drama gong lagi? Petruk dan Dolar sudah main lawakan secara idependen di panggung lawak dan televisi, lepas dari komunitas drama gong yang lama membesarkannya. Mereka juga sudah ditarik industri hiburan televisi untuk main lawakan sepintas lalu atau berperan dalam video iklan produk-produk komersial. Beberapa pemain lain terdengar mencoba peruntungan di dunia politik praktis.Apakah Bali memang tak lagi membutuhkan drama gong?Selera Massa yang Dipermainkan Dengan berbekal teori evolusi budaya, Koes Yuliadi (2005) mencatat masa kejayaan drama gong sebagai sebuah bentuk produk seni pertunjukan yang lebih mewakili kegelisahan, pandangan dan selera masyarakat. Menurutnya, drama gong mengambil hati masyarakat dan kemudian memudarkan popularitas arja dan topeng. Sebelumnya, topeng pernah menggeser posisi popoler gambuh di hati masyarakat.Dan kini drama gong digempur dari segala lini oleh sebuah kekuatan besar yang menjelma di sekian banyak tubuh agen perubahan kebudayaan. Yang digempur sebenarnya bukan drama gong secara langsung, namun massa dengan tawaran-tawaran citra yang menggugah selera, merangsang pencapaian sebentuk gaya hidup baru. Drama gong lalu ditinggalkan massa, ditinggalkan penonton dan calon-calon penontonnya.Di tengah arus teknologi informasi yang demikian cepat sekarang ini, selera massa memang tengah dipermainkan. Massa dijejali oleh citra demi citra yang selalu memunculkan keheranan dan prestise. Setelah televisi, massa diberikan VCD player, lalu handphone, lalu .... Seakan tak diberikan kesempatan untuk bernapas, massa disugesti untuk meninggalkan apa yang baru saja diraihnya untuk menuju ke peraihan berikutnya yang lebih bergengsi.Dalam hal permainan yang membuahkan peninggalan terhadap berbagai produk budaya lama tentu saja bukan hanya dialami oleh drama gong. Akan banyak sekali nama yang mengisi daftar peninggalan ini.Ada satu contoh kasus menarik pada drama gong di tengah permainan yang demikian. Sebuah komunitas drama gong dari Banyuning, Singaraja, menawarkan sebuah bentuk baru dalam drama gong dengan memasukkan lebih banyak konsep-konsep teater modern ke dalamnya. Namun sepertinya bentuk ini hanya mampu mengisi event-event festival semacam PKB. Ia tidak terlalu berhasil mencapai puncaknya di masyarakat yang menanggapnya secara terbuka tanpa embel-embel festival.Televisi Lokal dan PemerintahDulu salah satu lahan hidup drama gong adalah TVRI Denpasar. Kini ketika teknologi informasi jauh lebih canggih dan beragam dibanding sekadar TVRI Denpasar, drama gong tak ambil bagian di dalamnya. Drama gong yang salah satunya memegang peran sebagai penghibur masyarakat tak cekatan meng-upgrad[...]



Baliho Caleg dan Komunikasi Politik Jalanan

2014-07-07T13:12:48.714+07:00

Oleh: Ibed Surgana Yuga Caleg: “Aku bisa (gengsi di mata calon pemilih)!” DI masa panjang kampanye pemilu ini, di Bali, baliho-baliho caleg tumbuh subur di pinggir-pinggir jalan, seperti benih-benih yang bersemaian karena curah hujan yang tinggi. Jika anda menyusuri jalur Jogja-Bali dengan bus AKAP, hanya di Bali saja pemandangan baliho caleg paling ramai bisa dipirsa. Bukan hanya di pinggir jalanan ramai; seperti jamur, baliho caleg berbiak hingga jalanan pelosok desa becek tak beraspal. Semuanya menciptakan pemandangan baru bagi jalanan di Bali; seakan mengusir hiruk-pikuk iklan dengan kesemrawutan yang baru; seakan menggantikan keteduhan pohon-pohon pinggir jalan dengan kegerahan yang warna-warni.Selamat datang di dunia kemeriahan citra visual dari sebuah pesta rebutan kursi! Inilah dunia citraan yang gemebyar, penuh sapaan manis, warna-warni, ramai, namun banal dan latah. Inilah medan tempur pseudo penuh seruan, ajakan, teriakan, permohonan, dengan baju dan wajah yang klimis tanpa keringat.Ya, inilah perang baliho antarcaleg, sebagaimana perang bendera partai. Ini bukan sekadar perang merayu calon suara untuk menuju perang perebutan suara di hari H pemilu nanti. Ini adalah perang gengsi antarcaleg. Lewat perang baliho di pinggir jalan, mereka tengah bersaing membuat citra visual yang megah yang bisa dilihat dari jumlah, ukuran, posisi serta penampilan fotografi. Sebelum kemenangan suara bisa dilihat, karena belum pemungutan dan penghitungan suara, saatnya mencari kemenangan gengsi. Saatnya caleg bicara, “Aku bisa (gengsi di mata calon pemilih)!”Media yang Latah Memang, jalanan jadi lebih ramai; sebuah pertanda bahwa masa kampanye ini memang semarak. Tapi semarak pada sisi ini bukan berarti semarak di sisi lainnya, sisi kinerja politik yang benar misalnya. Dan betapa, baliho-baliho itu, yang membikin semarak itu, nyaris semuanya seragam. Ada sekian banyak partai, dan lebih banyak lagi caleg, namun begitu dominan kesamaan baliho mereka. Lihatlah apa yang mereka visualkan: wajah, nama, nomor urut, partai dan sedikit slogan kering. Selesai. Hampir keseluruhannya begitu. Dan jalanan sebagai tempatnya memang sangat potensial untuk peniruan, pengulangan, kelatahan. Jalanan adalah ruang yang berbaring panjang, yang menyerahkan tubuhnya untuk kontes tren demi tren.Dan memang ada semacam tren yang terjadi dalam media kampanye caleg jenis baliho ini. Tren teknologi baru, dalam hal ini teknik cetak digital di atas colibrite yang dipakai memproduksi baliho-baliho itu, dimanfaatkan oleh para caleg tanpa memperhatikan kualitas substansi dan efektivitas media kampanye. Ini mirip dengan tren handphone yang melanda masyarakat kita hingga ke pelosok-pelosok kampung.Pada satu sisi, tren adalah manifestasi dari sifat latah manusia. Ia muncul dari peniruan personal demi personal, yang di dalamnya melibatkan pesona sesuatu. Pesona suatu produk dengan konstruksi gengsinya mempengaruhi masyarakat untuk meraihnya, dengan tujuan tertentu atau sekadar mengikuti tren semata, sekadar gaya hidup. Gaya hidup jarang mementingkan substansi karena “substansi”-nya adalah gaya itu sendiri, citra itu.Barangkali pada sebuah titik, dan ini bisa dilihat pada kenyataan mutakhir, para caleg hanya citra visual semata. Ia bukan sosok yang sebenarnya. Di mata pemilih, mereka berakhir pada citra visual dua dimensi, sebagaimana juga di atas kertas suara. Jean Baudrillard, sebagaimana dikutip Garin Nugroho dan Yasraf Amir Piliang, mengemukakan bahwa media menciptakan second reality yang punya logika tersendiri dan bisa membunuh realitas sosial-politik sebenarnya. Dengan demikian, baliho caleg beserta segenap pencitraan terhadap sang caleg di dalamnya mengalami semacam keterputusan dengan realitas sosial-politik sang caleg di dunia nyata. Demikian juga halnya terhadap realitas politik. Baliho caleg bukan representasi dari ke-caleg-an caleg itu sendiri.Dan rakyat yang begitu dekat dengan realitas nyata harus memilih!Komunikasi yang Banal Tentang media komunikasi se[...]



Dari Politik Pan Belog ke Politik Pan Balang Tamak

2014-07-07T13:42:48.054+07:00

Oleh: Ibed Surgana Yuga Para caleg dan partai politik berhati-hatilah! Rakyat sekarang tak bodoh, tapi banyak akal. TUDUHAN terhadap partai politik yang tidak memberikan pendidikan politik kepada rakyat tidak sepenuhnya benar. Partai politik telah mendidik rakyat tentang makna politik sebagaimana yang dipraktikkannya. Buktinya kini, di tengah masa kampanye yang demikian panjang, beberapa partai politik lewat caleg-calegnya tengah menyusur hingga ke jalan-jalan becek tak beraspal di pelosok desa. Mereka menjajakan nomor dan nama sambil secara tidak langsung mendidik rakyat di sana, tentu saja dengan manufer yang jitu dan telah jadi tren: money politic!Kondisi di atas memunculkan kecenderungan bahwa kini pemilu bagi sebagian besar rakyat bukan lagi suatu keagungan mimbar guna menyuarakan cita-cita keberlangsungan hidup bangsa dan negara. Oleh partai politik, rakyat kini telah dididik untuk memaknai pesta politik – terutama masa kampanye – sebagai mimbar untuk saling berbagi. Ya, saling berbagi kucuran materi dari para caleg, cagub, cabup atau partai politik. Jadi tidak salah ketika rakyat sebuah desa di pelosok Jawa Tengah dalam masa kampanye Pilgub Jateng lalu mengeluh, “Kok sepi ya? Nggak ada yang bagi-bagi beras kayak dulu.”Begitu pula di sebuah banjar di pelosok utara Jembrana. Ketika beberapa caleg masuk menawarkan bendera dan wajahnya yang tersenyum santun, masyarakat banjar itu pun cerdik. Mereka seakan dengan otomatis membelah jadi beberapa kelompok, kemudian masing-masing mendekati satu caleg, tepatnya mendekati isi kantongnya. Dari proses pendekatan ini terlihatlah hasil kecerdikan rakyat. Jalan-jalan tak beraspal yang sebagian besar konturnya curam dan selalu becek saat musim hujan, sehingga tak bisa dilewati sepeda motor, mendapat “sumbangan” pembetonan, walau sekadar sejalur sepeda motor. Demikian pula sekaha angklung bisa menambal kekurangan beberapa instrumen dengan “bantuan” kocek para caleg.Pan Belog sudah Jadi Pan Balang Tamak  Setelah belajar dari sekian banyak pengalaman pilbup, pilgub dan pemilu, masyarakat tak lagi menjadi Pan Belog yang selalu kabelog-belog. Rakyat bilang, “Bukan saatnya lagi kita diperdaya!” Kini saatnya rakyat nyalanang daya, seperti Pan Balang Tamak yang terkenal sing kuangan daya. Ya, karena politik praktis di Indonesia sekarang adalah daya (bahasa Bali), dayan partai politik. Karena kini, menurut Goenawan Mohamad, orang memandang politik dengan cemooh. Partai-partai berpura-pura menja­lankan politik, namun sejatinya mereka melecehkan politik itu sendiri sebagai sesuatu yang layak diremehkan.Maka jangan heran kalau kini senjata utama seorang caleg adalah kalkultor. Hari-harinya dipenuhi dengan kesibukan menekan-nekan tombol kalkulator, karena di matanya rakyat memang deretan angka-angka, bukan suara-suara pengharapan tentang masa depan. Kalkulator para caleg menghitung berapa rupiah untuk berapa peluang contrengan pada nomor atau namanya nanti.Melihat kecenderungan yang telah berlangsung lama itu, walau tak punya kalkulator, rakyat yang telah menjadi Pan Balang Tamak pun nyalanang daya: siapa yang pegang caleg ini untuk “bantuan” membeton jalan di sebelah sana, siapa pegang caleg itu untuk “sumbangan” penambah instrumen angklung yang belum lengkap, dan seterusnya. Setelah lama diangkakan, rakyat kini malah akrab dengan angka-angka. Dengan cerdik rakyat mengatur siasat, walau banyak dari mereka yang belum mengambil sikap mau memilih yang mana saat pemilu nanti. Siasat mereka untuk membelah jadi beberapa kelompok yang seolah-olah memberikan dukungan pada caleg masing-masing merupakan sikap politik rakyat yang nyalanang daya sekaligus madadayan.“Daya”: Akal dan Kehati-hatian Kata “daya” dalam bahasa Bali merupakan istilah yang cukup tepat untuk menyebut makna “politik” dalam kondisi Indonesia sekarang. Jika ditelusuri lebih mendalam, “daya” memiliki makna yang tunggal. Namun dalam perkembangan kebahasaan Bali, terut[...]



“Homo Pariwisatabaliensis”

2014-07-07T13:49:15.321+07:00

Oleh: Ibed Surgana Yuga Spesies yang militan! SEBUAH surat pembaca dari seorang masyarakat Badung di harian terbesar di Bali pada pertengahan November 2008 menyarankan suatu strategi tentang pembangunan Bali mutakhir. Penulis surat di antaranya menyarankan tentang sistem keamanan Bali yang harus melibatkan seluruh masyarakat yang ada di Bali, dengan memberikan insentif memadai bagi masyarakat pemberi informasi yang falid kepada pihak berwajib. Selanjutnya ia menulis tentang manusia Bali, budaya Bali serta pariwisata yang merupakan satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan. Dan yang paling penting adalah pembuka surat yang merupakan muara dari seluruh sarannya, yaitu Bali sebagai bangunan pariwisata yang kokoh dan tegar.Apa yang bisa dibaca dari surat pembaca itu di antaranya adalah bahwa pengukuhan terhadap entitas Bali sebagai suatu daerah industri pariwisata sehingga dikhawatirkan entitas itu akan rapuh jika manusia Bali, budaya Bali dan pariwisata dicerai-beraikan. Dengan demikian, seluruh orang yang ada di Bali harus turut serta aktif menjaga keutuhan entitas tersebut dengan tindakan nyata, misalnya dengan melaporkan masalah keamanan seperti keberadaan orang mencurigakan. Atas peran serta aktif tersebut, masyarakat akan diberikan imbalan yang pantas dalam bentuk material tentu saja.Memang benar bahwa manusia Bali, budaya Bali dan pariwisata adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan – atau lebih tepatnya, jangan sampai dipisahkan karena payuk jakan bisa buung makedus. Namun tentu saja ini bagi orang yang menikmati buah dari pohon besar pariwisata Bali. Orang Bali – apalagi orang luar Bali – yang sama sekali tidak memetik buah itu, baik karena pohonnya yang tak terjangkau atau karena sengaja memilih untuk tak memakan buah dari pohon itu, barangkali akan memandang hal terakhir sebagai sesuatu yang terpisah sama sekali atau justru harus diceraikan jika ada yang hendak menyatukannya.Dapat dipahami pemikiran orang-orang Bali yang memetik buah pariwisata sehingga mereka memberi sokongan maksimal terhadap pohon kehidupannya itu. Mereka adalah orang-orang yang merasa telah dihidupi oleh pariwisata, baik secara ekonomi, politik, sosial maupun budaya. Bukan cuma sebentuk kehidupan yang layak, namun mereka telah mendapat prestise, gengsi dan gaya hidup yang lebih. Mereka adalah orang-orang yang telah merasa diangkat harkat dan martabatnya oleh eksistensi pariwisata. Mereka adalah orang-orang yang menikmati eforia citra Bali dalam konstruksi turistik: unik, nyeni, indah, ramah, eksotis, religius. Mereka adalah orang-orang yang memiliki bayangan tentang identitas Bali sebagaimana yang dicitrakan oleh industri paiwisata. Mereka adalah para Homo pariwisatabaliensis – istilah penunjuk spesies yang saya gubah sendiri, mengadopsi istilah bidang arkeologi.Homo pariwisatabaliensis termasuk dalam kelompok spesies yang dirundung kepanikan luar biasa ketika bom meledak di Kuta, 12 Oktober 2002. Mereka kemudian menanam kebencian yang mendalam terhadap teroris. Demikian mendalam sehingga kebencian itu juga diarahkan pada latar belakang sosioreligi orang-orang yang diklaim teroris itu. Dan tentu saja mereka turut bersorak di atas kematian Amrozi, Mukhlas dan Imam Samudra yang (konon) telah dieksekusi oleh tiga regu tembak di Nirbaya.Pariwisata Bali sebagai sistem yang dibangun oleh kapitalisme global dan diberikan jalan yang amat mulus oleh rezim Orde Baru, dengan kepentingan ekonomi dan kuasa yang nyata, memberikan bujuk rayu dan buaian yang serasa nyata pula bagi orang Bali sebagai mahluk yang menghidupi dan dihidupi budaya Bali. Sistem ini bekerja secara terstruktur: bujuk rayu dan pujian berlebih di tahap awal, lalu janji kemakmuran dan pelestarian budaya, keuntungan material – yang tak seberapa dibandingkan hasil keuntungan sebenarnya –, pencokolan doktrin-doktrin kapitalis yang dengan lihai menyelusup ke dalam ruang konsep kearifan lokal, pendidikan ke arah materialistis dan semangat in[...]



Tubuh Orang Hindu Bali dalam Laku Seni dan Laku Upacara

2014-07-07T13:53:48.248+07:00

Oleh: Ibed Surgana Yuga Jujurkah tubuh orang Hindu Bali mutakhir dalam melakoni seni dan upacaranya? SAYA baru saja mengikuti sebuah diskusi dan menonton video dokumenter tentang workshop seorang penari Jepang bernama Min Tanaka. Salah satu metode yang dilontarkan Tanaka dan menarik bagi saya adalah tentang kejujuran tubuh manusia dalam bergerak, baik dalam konteks tari maupun gerak keseharian, sehingga ekspresinya menjadi suatu hal yang "berbeda", unik, menarik, baru. Saya sendiri belum paham benar apa yang dimaksudkan Tanaka sebagai kejujuran itu. Namun lontaran itu menyeret saya kepada diskursus yang barangkali berbeda dan barangkali juga begitu dekat dengan yang dimaksudkan Tanaka. Diskursus yang saya maksud adalah tentang tubuh orang Hindu Bali dalam kaitannya dengan berbagai upacara serta seni yang menjadi keseharian – walau tidak semua – orang Hindu Bali. Orang Hindu Bali memiliki konsep tentang bhuana agung dan bhuana alit, jagat besar dan jagat kecil, alam semesta dan tubuh manusia. Pola hubungan antara kedua jagat ini oleh orang Hindu Bali dibangun melalui sistem serta pola fisik dan transenden. Hubungan ini diciptakan untuk mencapai "kehidupan yang lebih baik", dengan kebutuhan duniawi sebagai pembenaran dalam hal hubungan fisik dan agama Hindu Bali sebagai pembenar hal transenden. Di samping itu, ada pula pembenar-pembenar lain yang digunakan, seperti keyakinan metafisik tertentu, filsafat lokal, ajaran lainnya serta seni.Sistem-sistem hubungan itu yang didasari oleh keyakinan ditransmisikan secara turun-temurun lalu menjelma sebagai tradisi. Eksistensinya sebagai sesuatu yang telah mentradisi tidak serta merta memposisikannya sebagai sebuah ekspresi kejujuran bagi orang-orang yang melakukannya. Sebab dalam sebuah tradisi, unsur kolektif sangat kuat mengikat. Sedangkan kejujuran sendiri lebih merupakan hal yang individual.Tubuh yang DiserahkanSaya teringat Michel Foucault yang berbicara tentang kuasa-kuasa tertentu yang melakukan pengaturan terhadap tubuh individu. Misalnya, individu sebagai warga negara "menyerahkan" tubuhnya kepada kuasa pemerintah melalui kepatuhan terhadap berbagai hukum yang mengatur laku tubuh warga negara. Dalam hal ini tubuh individu diatur atau dibentuk sedemikian rupa, baik karakter maupun lakunya, agar sesuai dengan tata nilai tertentu yang dianut oleh suatu negara.Dalam wilayah budaya Hindu Bali, sejak tubuh seseorang belum terlahir ke bumi, ia telah diperlakukan dengan upacara. Hal ini terus berlangsung hingga tubuh itu ditinggalkan jiwa dan akhirnya dimusnahkan sisi kebentukannya. Upacara demi upacara membentuk tubuh orang Hindu Bali dalam menapaki kehidupan, atau dalam lingkup waktu yang lebih kecil yaitu dalam hidup kesehariannya. Hingga ketika kematian pun upacara tetap berusaha memberikan "bentuk" terhadap tubuh itu.Dengan demikian, orang Hindu Bali menyerahkan tubuhnya selama umur tubuh itu kepada upacara demi upacara yang dikonstruksi oleh ajaran agama yang sebelumnya telah – dianjurkan untuk – diyakini oleh orang Hindu Bali sendiri. Pembentukan itu, baik secara karakter fisik, psikis, maupun dalam hubungan transindividual, di satu sisi menempati posisi yang praktis dan verbal dalam keseharian. Di sisi lain pembentukan dilakukan untuk mewujudkan simbol-simbol tertentu yang menyangkut nilai-nilai keutamaan hidup. Hal ini memiliki pembenarannya dalam ajaran agama.Kita lihat salah satu contoh dalam upacara mapandes atau masangih, misalnya. Dalam upacara ini orang Hindu Bali "menyerahkan begitu saja" tubuhnya, atau lebih spesifik giginya, terhadap upacara untuk dihilangkan bagian-bagian tertentunya. Ini merupakan salah satu bentuk penyerahan tubuh secara fisik terhadap upacara, di mana gigi orang Hindu Bali dikikir bagian-bagian tertentunya sehingga mengalami pengurangan dan mencapai perubahan bentuk tertentu.Di samping pembentukan secara fisik, upacara mapandes juga turut membentuk tubuh orang Hindu Bali se[...]



Seni dan Gengsi

2014-07-07T14:06:12.951+07:00

Oleh: Ibed Surgana Yuga Ayo nyeni untuk nggaya! "ORANG Bali tidak bisa melihat bidang kosong. Tangan mereka selalu gatal ingin mengukirnya." Ini hanya guyonan seorang teman. "Eda baang polos kéto. Payasin gigis gén." Ini saran seorang tetua ketika membangun tempat banten menjelang sebuah upacara di kampung saya. Ada beberapa pernyataan analitis yang mengatakan bahwa perilaku seni orang Bali dapat dilihat dari hal-hal kecil dalam kesehariannya. Lihatlah, gagang pisau dapur yang tidak dibiarkan polos namun diisi sedikit cukilan motif sederhana, begitu juga dengan talenan kayu, atau perkakas dapur lainnya. Hal kecil ini akan menjadi demikian rumit ketika kita menilik berbagai jenis banten atau sarana upacara lainnya, namun tidak meninggalkan kesannya yang "kecil".Bentuk-bentuk praktik kehidupan di atas mengindikasikan bahwa ada sisi-sisi estetis yang disertakan pada hal-hal yang fungsional dalam hidup keseharian. Nilai fungsional dan esetetis ini mewujud dalam suatu bentuk yang muaranya adalah memerankan kehidupan. Di sana bentuk itu menunggal, menjadi satu keutuhan, tidak tercerai berai oleh kungkungan pengkategorian. Sehingga dalam hidup keseharian orang Bali tidak ditemukan munculnya pretensi untuk membedakan hal mana yang memiliki nilai fungsional dan mana yang estetis. Bahkan barangkali orang Bali – tanpa pengaruh analisis dari ilmu – tidak mengetahui tentang kategori nilai tersebut.Dalam penyikapan yang demikian, seni bukanlah suatu pranata yang mandiri. Ia adalah sesuatu yang "include". Bahkan penamaannya sebagai seni pun tidak ada – hal yang barangkali menyebabkan tidak adanya kosakata untuk menyebut kata "seni" dalam bahasa Bali. Ia hanyalah salah satu bagian dari sekian banyak modus pelakonan kehidupan, dari kompleksitas praktik kebudayaan, namun tidak serta merta kemudian dapat dihilangkan. Barangkali akan terjadi kecacatan pada modus pelakonan kehidupan jika ia dinihilkan, sebab dalam suatu titik ia adalah juga jiwa pelakonan hidup.Namun pada akhirnya di Bali seni pun dipranatakan secara mandiri oleh orang Bali, walaupun masih ada beberapa yang berperan mendukung pranata-pranata kehidupan lain seperti upacara agama. Ketika hal ini terjadi, maka ada pretensi untuk menjadikan seni itu untuk seni semata, an sich. Ia kemudian mewujud menjadi bentuk-bentuk yang kita sepakati sebagai benda seni atau kesenian. Selanjutnya, di tangan orang-orang yang menghidupinya, yang oleh bahasa modern kemudian disebut seniman, ia punya potensi untuk menjadi sesuatu yang besar, sesuatu yang mengambil kapling cukup luas dalam ranah kebudayaan orang Bali.Mengambil posisi sebagai sesuatu yang besar adalah merebut prestise. Dan prestise itu mahal. Anggapan umum mengatakan kemahalan sebagai kosekuensi logis dari perjuangan kerasnya untuk menjadi besar. Kemahalan hanya bisa diraih oleh orang-orang yang mengatasi kemahalan itu sendiri. Peraihan terhadapnya adalah otomatis juga prestise bagi yang meraih atau menjangkau kemahalannya.Maka seni tidak lagi milik semua orang. Ia bukan lagi milik dan ekspresi kolektif. Ia dibikin oleh individu, dibeli oleh individu, kadang bisa dinikmati secara kolektif. Namun penikmatan semacam ini tidak dengan serta merta membuat penikmat atau audiance-nya merasa memiliki seni itu karena kuasa diskursus tentang peraihan terhadap seni yang mahal seakan sudah diakui secara kolektif.Lihatlah upacara-upacara besar yang diselenggarakan oleh sebuah keluarga, misalnya. Di sana, seni dijadikan sebagai legitimasi (kemewahan) penyelenggaraan upacara itu. Memang, ada beberapa seni yang digunakan sebagai legitimasi upacara tertentu, yang mana seni macam ini kemudian digolongkan sebagai seni wali atau sakral. Namun yang dimaksudkan di sini adalah seni-seni hiburan yang memang tidak diharuskan ada dalam suatu upacara. Seni semacam ini kemudian menjadi salah satu simbol dari unjuk kekayaan material dari pelaksana upacara. Ia menja[...]



“Nyama Slam”

2014-07-07T19:51:29.259+07:00

Oleh: Ibed Surgana Yuga  Nyama Slam di Bali membuat canangsari dan palinggih untuk dijual. Lalu kenapa? Saya tak akan berpindah agama – dan dengan demikian sebenarnya saya memilih agama saya sekarang. [. . .] saya memilih tetap dalam agama saya sekarang bukan karena saya anggap agama itu paling bagus. [. . .] saya tahu dalam agama saya ada kebaikan seperti dalam agama lain, dan dalam agama lain ada keburukan yang ada dalam agama saya. Sejarah agama-agama senantiasa terdiri atas bab-bab yang paling represif dan buas, tapi juga pasase yang paling mulia dan memberikan harapan.- Goenawan Mohamad ADA baiknya membaca lagi sejarah masuknya Islam ke Bali hingga terbentuknya suatu tatanan sosiokultural nyama Slam. Menilik kembali hubungan Islam dengan Hindu di Bali, terutama dari segi sosiokultural, adalah pertualangan menarik yang mengantar ke arah kesadaran serta pengakuan tertentu berkaitan dengan realitas kehidupan mutakhir di Bali. Menarik juga menyimak berbagai bentuk akulturasi yang timbul dari hubungan tersebut. Lewat situs Bale Bengong saya membaca sebuah laporan jurnalistik tentang Desa Pegayaman, Buleleng, pada bulan Ramadhan. Ternyata tradisi yang merupakan akulturasi budaya Hindu Bali dan Islam, yang selama ini cuma saya dengar lamat-lamat, masih bertahan hingga sekarang. Saya membaca bagaimana tradisi ngejot masih bertahan, demikian juga panyajaan, panapéan dan panampahan menjelang hari raya seperti Idul Fitri, Idul Adha dan Maulid Nabi. Pegayaman juga masih mempertahankan subak, ogoh-ogoh, sekaa zikir juga penggunaan nama Bali, seperti Ketut Asghor Ali, Nengah Maghfiroh, Nengah Azmi. Bagi kebudayaan Hindu Bali sendiri, dapat dilihat beberapa contoh akulturasi seperti patra mesir dalam bidang arsitektur. Dalam kesusastraan Bali mengenal Geguritan Amat yang sering dilantunkan dengan tembang amat, ada pula bagian Geguritan Tamtam yang berkisah tentang I Tamtam nyelam sampai di istana Prabu Mesir (Soegianto Sastrodiwiryo, 1995). Di masa mutakhir, beberapa balé banjar dan pura di Bali mengadopsi tradisi azan dengan mengumandangkan Puja Tri Sandya tiga kali sehari. Konflik Berbau AgamaDi tengah semua itu, dalam kehidupan mutakhir di Bali terjadi pergolakan serta konflik sosial dan budaya yang salah satunya dipicu oleh sentimen sosial yang entah sejak kapan mengakar dalam kehidupan sosiokultural di Bali. Beberapa pemicu meledaknya pergolakan dan konflik ini adalah ledakan bom di Bali, beberapa tindak kriminal, pengabaian ruang-ruang sakral dan sebagainya yang kemudian diklaim sebagai ulah dari orang-orang luar Bali. Dan di antara orang-orang luar Bali itu adalah nak Jawa, yang mayoritas Muslim, nyama Slam. Lalu beberapa unsur dan lembaga dalam masyarakat Bali melakukan tindakan-tindakan "penertiban", berupa sweeping hingga "pengusiran", yang konon guna mencegah dan menanggulangi berbagai tindakan yang mengancam keamanan, ketentraman serta keutuhan bangunan sosiokultural Bali. Gerakan-gerakan yang mengklaim diri sebagai penjaga keutuhan budaya Bali pun bermunculan. Begitu juga dengan wacana-wacana penguatan dan pengajegan identitas kebalian yang konon harus berjiwakan Hindu. Dalam wacana identitas kebalian semacam itu, agama seakan menjadi muara atau titik sentral bagi pemecahan masalah. Hal ini adalah akibat dari perumusan – entah resmi atau tidak, namun seakan telah disepakati – tentang kebudayaan Bali yang berdasarkan agama Hindu, bukan Hindu yang malah digerakkan oleh kebudayaan Bali. Banyak anasir budaya yang lewat analisis kemudian dinilai bertentangan dengan agama Hindu. Berbagai praktik budaya dan adat yang demikian, yang sebagian merupakan warisan budaya pra-Hindu, dinegasi dari realitas kehidupan mutakhir. Proses negasi ini dilakukan tanpa usaha untuk menilik logika macam apa sebenarnya yang beroperasi jauh di dalamnya, walau sebenarnya ia bertentangan dengan logika agama Hindu. Di sam[...]



Bali, Tanah, Gaya Hidup

2014-07-07T14:27:54.171+07:00

Oleh: Ibed Surgana Yuga Menjual ataupun merebut tanah adalah sama, yaitu meraih gaya hidup. SAMPAI saya menulis artikel ini, di Gianyar masih berlangsung kasus rebutan tanah sétra antara Banjar Semana Desa Singakerta dengan Banjar Ambengan Desa Sayan, Kecamatan Ubud. Tawaran tanah seluas lima are dari Pemkab Gianyar untuk sétra baru ditolak oleh krama Semana. Mereka bersikukuh menuntut tanah seluas 20 are yang pernah dijanjikan mantan Bupati Gianyar A.A. Bharata. Permintaan pemakaian tanah negara seluas 30 are yang berada di wilayah Semana pun belum bisa dipenuhi Pemkab Gianyar dengan alasan hak perizinan ada di tangan Pemprop Bali. Di saat yang sama di Bali masih berlangsung wacana dan kenyataan empiris tentang penjualan bidang demi bidang tanah Bali oleh orang Bali sendiri kepada orang luar. Tentang masalah ini tentu kita sangat hafal dengan goyunan "orang Jawa jual bakso untuk beli tanah, orang Bali jual tanah untuk beli bakso". Banyak pewacana yang secara ekstrem mengkhawatirkan bahwa suatu saat nanti orang Bali tak lagi memiliki tempat berpijak di desanya sendiri, orang Bali hanya jadi penyewa, orang Bali tak lagi menjadi bos di negerinya sendiri. Putu Suasta (2001) menulis bahwa orang Bali telah mengalami perubahan orientasi terhadap keberadaan tanah. Tanah secara tradisional memiliki kompleksitas makna bagi orang Hindu Bali yang hidup dengan kebudayaan agraris. Tanah adalah penghidupan ekonomi sekaligus Dewi Sri yang sakral. Seiring pesatnya pembangunan modern, orientasi ini perlahan bergeser ke arah nilai ekonomi semata, yang mana dapat dilihat dari semakin banyaknya tanah yang dijual, terutama tanah sawah. Dari dua kasus di atas bisa dijadikan sampel bagaimana gejolak orientasi pemikiran, kebutuhan serta juga pandangan orang Bali terhadap tanah. Di satu sisi orang Bali tengah berjuang untuk "merebut" tanah, dan seakan paradoks di sisi lain orang Bali tengah "menyerahkan" tanahnya. Secara nilai, tanah dalam kedua kasus ini berbeda. Yang pertama adalah tanah sétra yang bisa dikatakan tidak memiliki nilai produksi secara ekonomi. Ia adalah tanah yang lebih memiliki nilai religi, sakral, spiritual, tanah pijakan terakhir bagi manusia di dunia minimal secara badaniah. Sedangkan tanah yang kedua mengandung hampir segala potensi, baik ekonomi, sosiokultural, politik maupun religi. Berhubungan dengan orientasi – dan kemudian karakter sikap – orang Bali terhadap keberadaan tanah, barangkali memang ada perubahan, paling tidak jika dilihaat dari pengaruh modernisme. Namun ditilik dari pengaruh yang sama (modernisme) barangkali pula ada yang tidak berubah sama sekali, dari generasi ke generasi. Dari dua fenomena yang seakan paradoks di atas, yaitu "menyerahkan" dan "merebut" tanah, ada hal yang sama yang ingin dicapai atau dicita-citakan. Keduanya ingin meraih "sesuatu". Fenomena "menyerahkan" tentu saja ingin meraih uang sebagai ganti dari bidang tanah yang diserahkannya. Dan "merebut" tidak lain ingin meraih tanah. Uang bagi orang Bali sekarang adalah nilai ekonomi semata. Ia untuk dibelanjakan. Untuk memenuhi konsumsi berbagai kebutuhan hidup. Walaupun kemudian ada untuk kebutuhan ritual, ia tetap diperhitungkan secara ekonomi – inilah yang berbeda dengan orientasi orang Bali dulu terhadap uang. Modernisme memang telah "mendidik" orang Bali untuk konsumtif dengan ukuran nilai uang. Konsumsi tidak dipandang dari nilai atau esensi yang terkandung dalam sesuatu yang dikonsumsi. Nilai atau esensi itu telah diuangkan, ditakar dengan nilai uang. Ketika nilai suatu konsumsi ditakar dengan nilai uang, maka kemudian yang lahir bukan esensi konsumsi, namun citra, gaya, prestise, gengsi. Bergeserlah kemudian pandangan terhadap esensi itu sehingga perlahan tapi pasti esensi yang sebenarnya terkesampingkan dan tergantikan oleh citra. Pendeknya, citra diamini sebagai esensi itu sendir[...]



“Tumpek Pariwisata”

2014-07-07T14:32:14.553+07:00

Oleh: Ibed Surgana Yuga Jangan-jangan ada yang telah memposisikan pariwisatasebagai "dharma" serta "bhakti" baru dalam hidupnya.DULU orang-orang di kampung saya, jika hendak menebang pohon untuk kebutuhan tertentu, ia akan menanam benih pohon yang sama di sampingnya berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun sebelum pohon tadi ditebang. Dulu bapak saya merayakan Tumpek Wariga dengan menanam berbagai bibit tanaman baru di kebun setelah ritual. Betapa, filosofi dan praktik yang berjalan beriringan!Sekarang, saya jadi ragu .... Benarkah Bali punya Tumpek Wariga? Atau Tumpek Kandang? Benarkah Bali punya Tri Hita Karana? Benarkah Bali punya Dewi Sri? Benarkah Bali punya Pura Ulun Suwi dan Pura Ulun Danu? Benarkah Bali punya banten? Benarkah Bali punya Bali?Orang pasti akan menjawab, "Tentu saja punya!" Ya, punya. Tapi apa yang ada di dalam kepunyaan ini? Bagaimana Bali mendefinisikan kepunyaannya ini? Kepemilikan konsep, kebendaan, perilaku, sejarah, warisan, ekonomi, iman, simbol, nilai, makna? Atau sekadar gaya?Yang jelas, sekarang kita tengah menyambut kehancuran lingkungan Bali. Saya tidak akan memberikan contoh kasus mana saja yang dimaksud karena sudah terlalu banyak berita tentangnya. Lagian saat ini kita begitu mudah menemukannya di sekeliling kita, bahkan di halaman rumah kita sendiri.Banyak orang, termasuk saya, menyalahkan pariwisata sebagai tokoh besar dalam perusakan ini – dan tentu masih ada tokoh-tokoh lainnya. Industri pariwisata Bali, kita tahu, begitu jor-joran sehingga pada suatu titik mengalahkan kepentingan demi kepentingan, eksistensi demi eksistensi, bahkan iman demi iman orang-orang yang sebelumnya begitu getol memelihara hubungan ekologis dan religius dengan suatu objek yang kemudian dijadikan lahan atau barang dagangan industri pariwisata. Sebutlah misalnya sungai, pantai, tanah, sawah, pura, gunung, bahkan pekarangan rumah.Objek-objek tersebut merupakan satu kesatuan hubungan hidup dengan orang Hindu Bali, sebagaimana yang tertuang dalam konsep Tri Hita Karana. Hubungan manusia dengan objek-objek itu adalah hubungan kehidupan lahir dan batin yang kesemuanya merupakan suatu kompleksitas untuk menuju kesejahteraan dan kedamaian hidup. Ini adalah hubungan yang saling memelihara.Perilaku-perilaku manusia (Hindu Bali) dalam memberikan respon terhadap hubungan ini kemudian melahirkan – di antaranya – berbagai upacara-upacara yang terkonsep baik secara waktu, ruang, maupun situasinya. Ada hubungan spiritual dengan tumbuh-tumbuhan yang terefleksikan dalam ritual rerainan Tumpek Wariga. Demikian pula dengan bangsa binatang pada Tumpek Kandang, dan sebagainya. Hubungan parktis yang lahiriah lebih banyak terdapat dalam keseharian.Bagi saya, rerainan-rerainan itu beserta ritual-ritual yang diberlakukan padanya merupakan reaksi manusia Hindu Bali terhadap hal-hal yang memberikan aksi positif terhadap kehidupannya. Aksi positif ini beserta reaksi yang diberikan manusia Hindu Bali merupakan suatu proses untuk melakoni hidup dan kehidupan yang sejahtera dan damai, baik secara ekonomi, sosial, budaya dan religi. Contoh-contoh mudah dapat dilihat ketika orang Hindu Bali yang berprofesi pedagang mengadakan pemujaan di Pura Melanting, nelayan di Pura Segara, dan sebagainya.Ketika perubahan terjadi di Bali, dari tradisi ke modern, dari agraris ke industri, dari ndesa ke urban, objek-objek yang sebelumnya lekat dengan tradisi, agraris, ndesa pun ikut berubah, atau bahkan hilang dan tergantikan dengan yang modern, industri, urban. Terjadi perubahan pula pada orientasi nilai kesejahteraan dan kedamaian.Dalam ruang yang sedemikian itulah kemudian industri pariwisata, dengan dukungan yang kuat dari kuasa pemerintah, mengambil hati manusia Bali. Perkembangan industri pariwisata Bali yang demikian pesat, yang artinya juga memiliki daya tawar kesejateraan hid[...]



Tradisi yang Mencari Rumah di Jalanan

2014-07-07T14:39:45.626+07:00

Oleh: Ibed Surgana Yuga Aku di jalanan, maka aku ada. BERIBU – bahkan mungkin berjuta – orang bisa menari Bali. Tapi, berapa yang bisa menarikan serta taksu-nya? (Mengadopsi perkataan Garin Nugroho dalam sebuah seminar di Yogyakarta: "Banyak orang yang bisa menari serimpi. Namun berapa yang bisa membawa mistiknya?")Tradisi kehilangan kelanjutannya dalam konteks perubahan yang dibawa oleh generasi selanjutnya. Tradisi tidak diwariskan ke generasi selanjutnya, namun ditaklukkan dan diringkus untuk kemasan gaya hidup. Tradisi terancam kehilangan sejarahnya ketika politik identitas dikuasai gaya hidup. Demikian kata Afrizal Malna.Banyak generasi mutakhir yang merasa mewarisi tradisi, namun sebenarnya hanya menguasai pada tataran teknis semata. Apalagi pewarisan itu dilakukan melalui sistem akademis yang sok menggunakan logika Barat, sehingga hal-hal yang bertentangan dengan logika ini dinafikan begitu saja. Hal ini menguntungkan di satu sisi. Di Bali misalnya, penguasaan terhadap tradisi, walau hanya dalam tataran teknis, adalah modal hidup yang cukup besar. Kekuatan-kekuatan yang tengah beroperasi di Bali, yang memiliki jaringan global, menghidupi tradisi yang demikian dengan semangat bisnis yang kuat.Tradisi (Bali), ah, siapa yang merasa memilikinya sekarang? Semua orang Bali? Yang karena pengaruh gembar-gembor politik identitas (etnis-agama) terkejut dengan perubahan sosiokultural yang menekannya, kemudian mendadak bersikap memproteksi identitas diri, padahal tanpa sadar menjadi fundamentalis? Orang-orang yang pernah bersentuhan dan mempelajari tradisi Bali? Semua warga dunia? Karena globalisasi menghapus jarak ruang dan waktu yang dulu ada – sehingga kemudian orang California lebih lihai dan cerdas (!) menabuh gambelan Bali? Pengusaha pariwisata yang memang lebih sering menjual pernak-pernik tradisi Bali kepada wisatawan, seperti seorang petani yang menjual hasil panen lahannya sendiri? Atau cuma "orang-orang Bali" yang kini sudah malingga di mrajan atau sanggah?Barangkali jawabannya adalah semua itu. Tapi kemudian siapa di antara semuanya benar-benar memiliki rumah untuk tradisi Bali dalam laku kehidupan sehari-harinya? Rumah yang bukan sekadar untuk berlindung dari cuaca atau singgah sebentar. Rumah yang benar-benar merupakan kompleksitas yang selalu memanggil untuk pulang. Rumah yang menjadi hulu sekaligus hilir pelakonan tradisi (baca: kehidupan). Rumah yang adalah sejarah tubuh pemiliknya.Masalahnya sekarang tradisi tak (hanya) berada di rumahnya. Tradisi tidak lagi (cuma) di pura-pura, sanggar-sanggar tari, balé-balé banjar, ritual-ritual inisiasi, hari-hari raya, rerainan dan sebagainya ruang-ruang yang dulu menjadi rumah bagi tradisi. Juga tak lagi di tubuh-tubuh orang Bali yang dulu lebur dengan ruang-ruang itu dengan sublim. Secara fisik barangkali tradisi masih berada di ruang-ruang itu sampai sekarang, masih tampak lestari, tak kehilangan kemegahannya, bahkan kesakralannya.Namun sejatinya, tradisi Bali kini tengah berada di jalanan! Dan jalanan itu lalu kita namai dengan kehidupan kontemporer.Pergerakan tradisi di jalanan mempunyai kecepatan dan gaya yang berbeda. Ada yang jalan santai, berlari, tertatih, angkuh, angker, aéng, sempoyongan seperti orang mabuk, lenggak-lenggok karena jalanan baginya tak ubahnya catwalk, ada yang menjajali berbagai cara berjalan yang justru membuatnya sulit berjalan, ada yang tersungkur ketika baru memasuki jalan karena daya kejut jalanan menyerang jantungnya.Di sana, di jalanan, praktik, intrik, politik, strategi diumbar. Kontestasi, promosi, negosiasi, lego digelar. Kepentingan, kepercayaan, kegembiraan, kepedihan, bahkan iman berseliweran. Kekacauan dan kedamaian seakan bisa melebur. Semuanya seakan ada di jalanan. Ya, karena memang ia disediakan sebagaimana sebuah pusat [...]



Mati “Leteh”

2014-07-07T14:46:33.650+07:00

Oleh: Ibed Surgana YugaAwas! Orang luar Bali dilarang mati di Bali! Apalagi mati di sembarang tempat.  SEMAYAT orok terbuang di selokan. Seorang pemulung mati di dasar jurang karena terpeleset dan jatuh. Turis terbunuh di kamar hotel. Ada mayat tergeletak di depan pura. Mayat hanyut di sungai. Mayat membusuk di semak-semak. Mayat teronggok di tempat sampah. Mayat mengambang di muara.Semua itu – dan banyak lagi contoh lain – sering disebut sebagai penyebab leteh. Tempat mayat itu ditemukan, atau desanya secara luas – dalam struktur kewilayahan adat Bali – jadi leteh karenanya. Pandangan ini berkeyakinan bahwa mayat-mayat itu mengandung kotoran. Badan manusia mati itu kotor. Sehingga tempat penemuannya pun mejadi kotor. Maka upacara harus digelar untuk "membersihkan" tempat itu, sehingga leteh atau kotor tersingkirkan, ternetralisir.Dalam tradisi Hindu Bali, para kerabat orang yang meninggallah yang berkewajiban melakukan upacara pembersihan. Ada semacam pembebanan ke-leteh-an terhadap kerabat yang masih hidup. Lalu ketika itu adalah mayat orang yang bukan Hindu Bali, apalagi bukan warga tempat di mana mayatnya ditemukan, timbul masalah. Siapa yang harus menanggung upacara pembersihan leteh? Kerabatnya? Mereka tak memiliki keyakinan tentang pembersihan semacam itu. Bahkan mungkin keyakinan pribadi mereka bertentangan dengan upacara yang demikian. Krama desa setempat? Mereka tak mau atau keberatan – barangkali karena merasa dirugikan dua kali: setelah desanya di-leteh-i, harus menanggung upacara pembersihannya pula.Kasus semacam ini kemudian memunculkan wacana penuduhan terhadap orang luar (non-Hindu Bali: Jawa dan turis mancanegara) yang ada di Bali, bahwa mereka punya potensi besar dalam ngletehin gumi Bali, terutama leteh yang dalam kurun waktu yang lama tidak dibersihkan. Yang kena getahnya tidak lain adalah orang Hindu Bali sendiri. Kemudian menurut para pewacana ini, derasnya arus mobilitas sosial orang luar ke Bali menjadi pemicu besar masalah ini. Katanya, orang luar cenderung memberlakukan ruang-ruang di Bali tidak dalam kerangka keyakinan orang Hindu Bali.Untuk mencegah terjadinya leteh karena ulah mereka, salah satu jalan yang ditempuh orang Hindu Bali adalah dengan proteksi wilayah dari masuknya orang-orang luar, apalagi untuk bermukim. Ini adalah pemikiran antisipatif yang fundamentalis. Contoh kecil realisasi proteksi ini yang bisa kita lihat adalah plakat "Pemulung Dilarang Masuk" yang berjaga di pintu masuk beberapa desa. Anggapannya, pemulung adalah orang luar. Tak ada orang Bali jadi pemulung. Di samping itu ada pandangan stereotip bahwa banyak orang luar, terutama yang kerja kasar, hidup mengelandang. Tidur di tempat sembarang. Ada kekhawatiran kalau mereka akan melakukan perbuatan kotor di tempat-tempat yang mereka singgahi. Sehingga mereka harus dilarang memasuki desa. Berkaitan dengan kematian yang menyebabkan leteh desa, barangkali ada juga ketakutan jika pemulung itu akan mati di wilayah desa.Maka, orang luar Bali dilarang mati di Bali! Apalagi mati di sembarang tempat.Saya seperti terlalu membesar-besarkan masalah. Tapi beberapa kenyataan sosial empirik di Bali memperlihatkannya dengan nyata atau tersembunyi. Hal ini tumbuh salah satunya karena stereotip dan kecemburuan sosial sehingga memicu kebencian sosial dalam diri orang Bali. Celakanya, konflik sosial ini dibenarkan dengan kilah dan dasar yang "kuat": agama Hindu.Saya orang yang tidak mendalami ajaran kitab-kitab Hindu. Tapi saya selalu tidak setuju jika agama dijadikan alat untuk membatasi relasi dan interaksi antarmanusia, agama sebagai pemantik konflik sosial, apalagi untuk menafikan rasa kemanusiaan.Kematian adalah masalah kemanusiaan. Mati adalah siklus alamiah manusia. Jasad manusia yang telah mati la[...]



Di Balik Topeng-topeng Bali

2014-07-08T22:52:10.675+07:00

Oleh: Ibed Surgana YugaBukalah topengmu, maka tak kubeli pariwisatamu. Topeng-topeng itu menari, magis dan eksotis. Topeng-topeng itu mendekam di balik kain saput, misterius sekaligus sensasional. Topeng-topeng itu berdiam di tempat-tempat sakral. Topeng-topeng itu menghuni pasar. Topeng-topeng itu mengumbar lawakan di pentas seni rakyat. Topeng-topeng itu menjadi guide para wisatawan. Topeng-topeng itu menjual hiburan. Topeng-topeng itu bermain politik. Topeng-topeng itu menyicil prestise. Topeng-topeng itu berkonsolidasi. Topeng-topeng itu praktik intrik. Topeng-topeng itu membangun kuasa. Topeng-topeng itu adalah wajah Bali. Semua yang ada di Bali.SUATU malam seorang pragina topeng menari di sebuah hotel, diiringi tabuh gong, ditonton para wisatawan. Ia benar-benar menyuguhkan sebuah pertunjukan yang memukau sekaligus menawar kehausan wisatawan akan hiburan.Tapi ia tidak sedang “menari sendiri” di sana. Di hotel – dalam konteks konstruksi besar pariwisata Bali – itu ia tidak murni digerakkan oleh energi kreasi seni yang pada satu sisinya memang bertujuan untuk menyuguhkan tontonan yang menghibur lalu untuk mendapatkan sedikit upah peluh. Ia sebenarnya tengah digerakkan oleh tenaga-tenaga yang jauh lebih kompleks, demikian besar, ruwet dan kerap kontradiktif. Kekauatan yang salah satu ikonnya adalah hotel tempatnya menari.Dalam situasi yang demikian, energi kreasi seni, beserta kompleksitas spirit dan teknisnya, yang semestinya menggerakkan seluruh tubuh sang pragina untuk menari, mengalami degradasi nilai dan kemudian makna. Bentuk tarian topeng, termasuk berbagai pernik yang terindera ketika sang pragina menari menjadi simbol kekuatan besar sebagai hasil kontruksi penuh kontradiksi dan politik dari pariwisata.Dunia pariwisata adalah dunia perdagangan, bisnis ekonomi, juga politik dan lahan perebutan kuasa dan prestise. Uang adalah tujuan di sini. Sehingga semua yang mau ambil bagian harus mampu “beradaptasi” dengan tujuan itu, kalau mau menuai hasil. Dan sebagai sumber utama uang tentu saja adalah para pembeli, para pelancong. Pembeli hanya akan membeli sesuatu yang diinginkannya, yang dibutuhkannya, yang menarik konstruksi seleranya. Maka “adaptasi” dimaksud adalah suatu pelayanan terhadap segala sesuatu yang dikehendaki oleh pembeli. Ini adalah hukum industri jasa yang sudah jamak, saya kira.Banyak yang mengklaim – termasuk saya, barangkali – bahwa “adaptasi” semacam itu secara tidak langsung adalah pengikisan atau pendegradasian atribut-atribut, nilai-nilai, makna-makna juga bentuk-bentuk yang sebelumnya menjadi identitas atau bahkan iman bagi sesuatu yang diperdagangkan dalam industri pariwisata, seperti kesenian misalnya. Hal ini juga menjadi sorotan sebuah forum yang menamakan dirinya Kongres Kebudayaan Bali I di Agung Room Inna The Grand Bali Beach, Sanur, 14-16 Juni 2008. “Kenyataan menunjukkan, perkembangan pariwisata lebih menawarkan kepentingan pariwisata daripada kepentingan kebudayaan Bali sehingga menimbulkan krisis lingkungan, identitas dan krisis nilai-nilai budaya Bali. Untuk itu, semua komponen masyarakat Bali hendaknya kembali menguatkan identitas dirinya.” Demikian salah satu rekomendasi forum ini sebagaimana dilansir http://www.baliprov.go.id.Benar saja ketika Putu Wijaya mensinyalir bahwa selama ini, sudah jatuh vonis, seakan-akan Bali hanya artis penghibur, bukan penyimak kehidupan. Menurutnya, ini adalah sebuah kesalahan yang memerlukan sebuah tindakan dan perjuangan agar terbukti dan bisa di terima oleh orang Bali sendiri. Bahwa Bali bukan hanya “menari”, tetapi juga berpikir.Kenyataan empirik tersebut memang menjadi konsekuensi logis dari konstruksi industri “pariwisata budaya” yang kini menjadi lumbung besa[...]



Sejarah Bali

2014-07-07T14:55:21.213+07:00

Oleh: Ibed Surgana Yuga Mitos adalah sejarah Bali yang membumi. Balinese history is opaque and difficult to Western eyes. In addition to thorny problems involving dating, establishing the provenance and antiquity of manuscripts, and verifying data, Balinese history stretches our sense of what is credible. Historical narratives are filled with tales of magic, divine intervention in human affairs, and superhuman feats, which have generally been categorized as ‘myth’ by Western scholars; who, in various ways, conclude that the Balinese have no history, or that their sense of history is not "proper".- Mark HobartDARI seorang teman di Denpasar, saya beruntung mendapat sebuah buku tipis bulukan dengan jilidan terlepas, terbitan Pemda Propinsi Daerah Tingkat I Bali, 1980. Buku yang ditulis oleh tim penyusun yang organisatoris-formal ini berjudul Sejarah Bali dan disusun untuk kepentingan bacaan penunjang pelaksanaan kurikulum SD 1975. Namun demikian, buku ini saya temukan di beberapa bibliografi buku-buku terkemuka tentang Bali.Yang dimaksud dengan sejarah Bali dalam buku ini disusun dari masa prasejarah hingga sejarah. Masa sejarah dimulai dari periode 882-1343 yang terdiri atas Dinasti Singhamandawa dan Dinasti Warmadewa. Sedang berikutnya adalah periode 1343-1846, di mana diawali oleh ekspedisi Gajah Mada ke Bali hingga masa Kerajaan Klungkung. Selanjutnya adalah masa kolonial Belanda dan Jepang serta masa kemerdekaan (1945) dan penyerahan kedaulatan (1949).Dapat kita baca dalam lintasan apa yang dinamakan sejarah Bali di atas bahwa periodisasi-periodisasi sejarah didasarkan atas kuasa. Yang pertama ada kuasa dinasti raja, yang kedua kuasa penjajah, dan ketiga adalah kuasa pemerintah pusat. Kuasa raja dapat dilihat dari penyusunan yang didasarkan atas Dinasti Singhamandawa dan Dinasti Warmadewa serta kerajaan periode 1343-1846. Lalu kuasa penjajah ada pada Belanda dan Jepang serta juga pada ekspedisi Gajah Mada. Sedang kuasa pemerintah pusat dapat kita lihat pada momen kemerdekaan dan penyerahan kedaulatan yang mengikuti momen-momen yang merupakan putusan pemerintah pusat ketika itu.Sebenarnya, dalam konteks penerbitan buku itu, ditemukan lagi satu kuasa, yaitu pemerintah – Pemda Propinsi daerah Tingkat I Bali – ketika itu. Intinya, penulisan buku itu didasarkan atas penarikan titik-titik sejarah “orang-orang kuat” yang masing-masing sinkronis, kemudian dihubungkan sehingga membentuk garis sejarah Bali yang diakronis. Dan kerja ini dilakukan pula oleh “orang-orang kuat” – dalam hal ini pemerintah – dengan berusaha menyusun sejarah yang saintifik, di mana didukung oleh bukti-bukti sejarah tertulis maupun artefak. Maka, jadilah sejarah Bali versi buku itu sebagai sejarah Bali yang “legitimate” atau “resmi”.“Sejarah resmi” semacam ini kemudian disebarluaskan ke masyarakat untuk dipercayai dan dibenarkan. Lembaga-lembaga pendidikan seperti sekolah formal menjadi salah satu agen yang bonafit dalam proyek “pemercayaan” dan “pembenaran” dari “sejarah resmi” ini. Masyarakat jadi “tahu” tentang sejarah masa lalu mereka, namun belum tentu sebenarnya masa lalu mereka memang terpaut atau terlibat dalam “sejarah resmi” itu. Namun kuasa kemudian memaksakan suatu “kebenaran” dan “keyakinan” bahwa semua bagian dari masyarakat adalah bagian dari “sejarah resmi” itu. Dengan kata lain, itulah sejarah yang sebenarnya. Bukan yang lain.Kecenderungan peradaban manusia selalu didominasi oleh orang-orang kuat dalam berbagai bidang kehidupan – politik, sosial, ekonomi, seni, agama dan sebagainya. Orang-orang kuat selalu memiliki tendensi penguasaan terhadap orang-orang lemah, wong cilik, rakyat jelata. Dan ora[...]



“Satua”: Proyeksi Peradaban Orang Bali

2014-07-07T15:00:15.251+07:00

Oleh: Ibed Surgana YugaMenciptakan masa depan Bali dari "kebohongan" dongeng-dongeng.BAYANGKAN sebuah wilayah budaya, dengan orang-orang yang selalu bergulat untuk survival di dalamnya, tanpa keberadaan satua!Mari kita bermain dengan bayang-bayang sejenak. Bayangkan India tanpa Ramayana dan Mahabharata. Bayangkan Timur Tengah tanpa Abu Nawas. Bayangkan Cina tanpa Sampek Engtay. Bayangkan Amerika tanpa Batman, Superman atau Spyderman. Bayangkan Jepang tanpa Momotaro. Bayangkan Yunani tanpa Oedipus, Dewa Apollo atau Syshipus. Bayangkan Inggris tanpa Remeo Juliet. Bayangkan Indonesia tanpa Malin Kundang atau Roro Mendut. Dan bayangkan Bali tanpa Jayaprana Layonsari atau Calonarang.Ah, barangkali tidak akan terjadi apa-apa. Tapi barangkali juga terjadi sesuatu yang begitu besar dan sangat serius: sebuah kualitas kehidupan peradaban yang jauh dari nilai tinggi, sunyi, muram, ada yang kurang pada pandangan hidup, ada yang kurang pada prestise, ada yang kurang pada pendidikan anak, ada yang kurang pada emosi kemanusiaan, tak ada pengalaman imajinatif, tiada kisah dari “dunia lain”, tanpa pelipur rutinitas survival – kecuali tidur.Satua adalah kisah, peristiwa yang dibayangkan dan dikatakan, baik oral traditions maupun berasal dari tradisi tulis. Bagi pengetahuan modern, ia adalah cerita rekaan, fiksi, bohong. Namun bagi masyarakat pendukungnya, ia adalah kenyataan yang dipercaya, baik kejadian, keberadaan atau kausalitasnya. Pengetahuan modern yang konon logis itu boleh saja mengatakannya sebagai omong kosong, namun masyarakat pendukungnya demikian mementingkannya. Mereka menjalaninya, dengan sadar maupun tidak, dalam keseharian peradaban hidup mereka.Di Bali, apa yang anak-anak – atau orang dewasa yang dulu mendapat tradisi didongengi – alami ketika mendengar satua I Rare Angon, misalnya? Saya sendiri membayangkan bahwa sayalah Rare Angon itu. Kebetulan ayah saya memelihara sapi, dan saya sering dapat tugas menggembalakannya setiap sore di tegalan atau di pinggir rurung. Setiap menggembalakan (ngangon) sapi, saya selalu membayangkan akan mengalami pertualangan yang hebat semacam yang dialami Rare Angon dalam satua itu. Lalu, tanpa berbohong, saya ingin diangkat menjadi raja. Dalam pemahaman umum, siapa yang tidak ingin hidup dalam kedudukan yang tinggi?Ketika saya beranjak dewasa, saya sering bertanya, siapa yang telah menciptakan satua macam I Rare Angon itu sehingga saya, yang lahir entah berapa generasi setelah ia diciptakan, merasa demikian terobsesi setelah mendengarnya? Orang macam apa yang pertama kali menceritakannya pada orang lain? Adakah ia seorang kawi atau cuma seorang kakek kesepian yang tinggal sendirian dalam gubuk reyot?Satua, dalam posisinya sebagai bagian dari folklor, memang merupakan alat proyeksi bagi angan-angan masyarakat pendukungnya. Ia juga dengan sadar maupun tidak menunjukkan bagaimana pola pikir, pola laku, psikologi, serta tentu saja kebudayaan masyarakat pendukungnya. Di samping itu, satua juga merupakan pengesahan dari sekian banyak tindakan, ide serta konsep kebudayaan masyarakatnya.Dalam satua juga orang Bali memproyeksikan kehidupannya, baik yang di belakang maupun yang diangankan dan diinginkan ke depan. Jika kita (orang Bali) berhadapan dengannya, ia akan berubah menjadi cermin, dan cepat atau lambat, disadari atau tidak, ia akan memperlihatkan bayangan kita di masa lalu dan masa depan. Ia akan memperlihatkan bagaimana generasi kita terdahulu membayangkan kehidupan yang akan datang, segala angan, ide, cita-cita akan menjelma di sana.Tentu satua bukanlah semacam kartu tarot atau kolom zodiak di koran Minggu yang meramal masa depan kita. Bukan. Satua juga bukan balian yang melont[...]



Politik Budaya Peribadahan

2014-07-07T15:33:56.124+07:00

Oleh: Ibed Surgana Yuga Ada yang tak beres pada etika adopsi budaya dalam politik budaya peribadahan Hindu di Bali. "KOS di sini lumayan tenang. Enggak bising seperti tempat lain di Denpasar. Walaupun dekat masjid, tapi jarang ada suara azan," kata seorang teman menjelaskan suasana kos-kosannya di bilangan Dalung, Badung. Teman ini juga bilang kalau masjid itu tidak lagi mengumandangkan azan subuh semenjak ditegur oleh masyarakat desa karena dianggap mengganggu tidur. Satu malam saya sempat begadang di kos teman saya ini, benar saja tidak ada suara azan subuh dari masjid yang cukup besar itu. Satu hari sebelumnya, sekitar jam enam sore, saya jalan kaki menyusuri salah satu ruas trotoar jalanan Denpasar, melewati balé banjar demi balé banjar, pura demi pura yang ada di pinggir jalan. Saya agak terperangah ketika telinga saya dihinggapi kumandang Puja Tri Sandya dari loud speaker yang terpasang di balé kulkul pada sebuah balé banjar. Sejak kapan mantra persembahyangan ini dikumandangkan dari balé banjar? Kemudian saya menerka, pasti hal ini terjadi pada jam-jam kapan persembahyangan Tri Sandya mesti dilakukan menurut ajaran agama Hindu Bali. Dari seorang teman yang sudah beberapa tahun tinggal di Denpasar saya kemudian tahu kalau hal ini sudah sejak lama berlangsung. Tiba-tiba saya teringat siaran TVRI Denpasar atau RRI Denpasar yang dulu sering saya simak, yang selalu menyiarkan Puja Tri Sandya pada jam enam pagi, dua belas siang dan enam sore. Saya yang jarang ke Denpasar dan beberapa tahun terakhir lebih banyak hidup di lingkungan masyarakat mayoritas Muslim di Jawa barangkali dengan agak gegabah menduga peristiwa kumandang Puja Tri Sandya dari balé banjar itu sebagai adopsi tradisi azan dari masjid pada kebudayaan Islam. Penggunaan loud speaker dalam tradisi Hindu Bali – tentunya setelah teknologi modern ini masuk ke dalam ranah budaya Bali – untuk penyebarluasan suatu informasi atau pertanda tertentu, sepanjang pengetahuan saya, biasanya terjadi dalam suatu upacara adat dan agama, baik di rumah-rumah, pura, balé desa atau balé banjar, yaitu untuk pengeras suara rekaman atau live karawitan, kakawin, pamangku atau pedanda yang memimpin upacara, serta pengumuman-pengumuman tertentu menyangkut pelaksanaan upacara tersebut. Belum pernah saya temui pemutaran rekaman suatu puja atau mantra tertentu sebagai suatu pengingat bagi umat untuk melaksanakan ibadah dimaksud dalam waktu hampir bersamaan – semacam Puja Tri Sandya. Kasus di sebuah balé banjar di Denpasar itu adalah yang pertama saya temui. Syukurlah, ternyata pola pikir manusia Hindu Bali punya ruang yang cukup untuk menerima hasil pola pikir manusia dari ranah budaya lain, sehingga sistem budaya Hindu Bali membuka pintu-pintunya untuk "men-durus-kan" anasir-anasir budaya lain memasukinya. Sejarah kebudayaan Bali memang telah menunjukkan hal ini sejak zaman dahulu sehingga apa yang dinamakan "evolusi kebudayaan" Bali mungkin terjadi dan menghasilkan bentuk mutakhir seperti yang menghidupi dan dihidupi oleh orang Bali sekarang. Nasihat konvensional bilang: semasih kebudayaan luar itu baik dan cocok dengan budaya kita, adalah baik untuk mengadopsinya demi perubahan ke arah kehidupan yang lebih baik. Suatu perubahan kebudayaan, sekecil apa pun ia, hampir tak bisa lepas dari yang namanya politik, baik dilakukan secara kolektif maupun individual. Inilah politik kebudayaan yang di dalamnya terkandung strategi, kebijakan, pertimbangan, perlawanan serta kepentingan terhadap suatu anasir kebudayaan tertentu yang nantinya bermuara pada suatu tujuan atau harapan tertentu yang bisa teralami oleh penggerak politik kebudayaan itu. Dengan d[...]



Menjadi Hindu Bali?

2014-07-07T15:36:58.658+07:00

Oleh: Ibed Surgana Yuga  Mengapa Hindu Jawa, Kaharingan, Tengger, Gunung Kidul harus di-Hindu-Bali-kan? MALAM purnama. Pertama kali memasuki gerbang sebuah pura di bilangan Jogja, alunan gamelan disertai tembang Jawa menyambut – walau cuma dari kaset. Kondisi emosi serta pikiran saya jadi berubah. Ini benar-benar tidak seperti yang biasa saya temui pada pura-pura di Bali. Saya memasuki atmosfer sembahyang yang berbeda, yang baru. Dan hebatnya, suasana berbeda itu tetap tidak kehilangan spirit serta stimulan untuk khusyuk dalam proses berhubungan dengan Hyang. Sembahyang di sana, saya benar-benar merasa sedang di Jawa. Namun, entah karena apa, dengan tiba-tiba alunan itu berubah menjadi gong Bali. Saya tersentak. Terganggu. Kekhusyukan saya ambyar. Alunan gong Bali dari kaset itu tidak mengantar saya untuk sampai pada perasaan sedang sembahyang di sebuah pura di Bali, tidak pula di Jawa. Saya seperti sedang memasuki sebuah ruang yang sangat sulit untuk diidentifikasi. Saya lupa dengan sembahyang saya. Kemudian saya menduga-duga kalau penggantian kaset dilakukan karena banyak rombongan orang Bali yang masuk ke pura itu untuk sembahyang. Sebelumnya, yang saya lihat di sana kebanyakan adalah orang-orang Hindu Jawa. Saya mengenalinya dari pakaian yang mereka kenakan, seperti surjan dan blangkon. Adakah dugaan saya benar? Mudah-mudahan tidak, demikian pemikiran saya waktu itu. Namun setelah bersembahyang di beberapa pura lain di Jogja, saya menemukan indikasi hal yang serupa. Misalnya, hampir semua wasi (semacam pamangku) yang saya temui berpakaian layaknya pamangku di Bali. Padahal mereka semua orang Jawa – dan saya melihat masih banyak orang Hindu Jawa yang sembahyang dengan mengenakan pakaian seperti surjan serta blangkon. Beberapa dari wasi yang sempat saya ajak bincang-bincang mengaku telah pernah mengikuti semacam penataran (saya lupa apa istilahnya) bagi para pamangku yang diselenggarakan PHDI atau lembaga yang mengurusi bidang keagamaan lainnya. Lama-lama saya dikejar oleh pertanyaan-pertanyaan yang begitu mengganggu. Kenapa orang Hindu Jawa kini banyak yang menggunakan udeng putih, baju putih serta kamben makancut kalau sembahyang ke pura? Kok orang Hindu Jawa juga membuat sesajen yang sama dengan yang dibuat orang Hindu Bali? Sejak kapan pura-pura di Jawa – terutama yang secara turun-temurun di-sungsung oleh orang Hindu Jawa – dibangun dengan pola arsitektur hingga detail motif hiasan yang sama dengan pura-pura di Bali? Jangan-jangan ada semacam aturan tidak resmi yang mengatakan bahwa pola arsitektur pura harus sebagaimana pura-pura di Bali; bahwa tata cara berbusana orang sembahyang di pura harus seperti yang dilakukan orang Hindu Bali; bahwa sesajen yang dihaturkan di pura harus sebagaimana yang dihaturkan oleh orang Hindu Bali. Jangan-jangan pula ada suatu gerakan besar yang tengah gencar melakukan penyeragaman budaya Hindu di Indonesia! Kalau kecurigaan saya benar, ternyata pola represi terhadap agama yang dilakukan oleh Orde Baru masih tumbuh subur dalam pemikiran orang-orang di balik gerakan itu. Orang Tengger dan Kaharingan tiba-tiba tercatat sebagai orang beragama Hindu di KTP mereka, demi sebuah doktrin bahwa hanya ada agama Islam, Katolik, Protestan, Hindu dan Budha saja di Indonesia, serta "membunuh" aliran-aliran kepercayaan yang "tidak menyembah satu Tuhan". Seorang dosen saya pernah melakukan penelitian tentang budaya orang-orang Tengger. Dengan pola pendekatan tertentu yang dilakukannya, ia memperoleh sebuah data yang cukup mengejutkan melalui wawancara dengan seorang tetua adat. Ketika ditanya soal sistem kepercayaannya, tetua adat[...]



Mengurai (Lagi) Adat-Agama di Bali

2014-07-07T15:41:15.388+07:00

Oleh: Ibed Surgana Yuga Ternyata Bali belum menemukan definisi yang solid tentang agama, adat dan budayanya! KONON, manusia Bali memiliki spirit dalam hubungan sosial berupa (slogan!) asah-asih-asuh, salunglung sabhayantaka, paras-paros sarpanaya. Semuanya merupakan suatu bentuk hubungan positif antarmanusia, yang memiliki kedekatan dengan (sekali lagi: slogan!) gotong royong, toleransi, tenggang rasa, simbiosis mutualisme kemasyarakatan. Hal ini sering disebut sebagai kejeniusan lokal Bali yang bernilai luhur yang muaranya adalah ajaran agama. Konon lagi, leluhur manusia Bali mewariskan banyak kejeniusan lokal yang dapat menuntun pengembangan sikap toleransi, tenggang rasa dan menyelesaikan setiap permasalahan dengan semangat kekeluargaan. Sekali lagi, ini konon! Lalu ketika berbagai kasus kekerasan, anarki, destruktif terjadi di Bali dan dilakukan oleh manusia Bali sendiri, kearifan lokal yang bernilai luhur itu dikalim telah memudar dengan pemicunya adalah gesekan kepentingan-kepentingan antarindividu atau antargolongan tertentu. Dalam hal ini, institusi adat sering diklaim sebagai kuda tunggangan bagi kepentingan-kepentingan tersebut. Kemudian muncul saran agar manusia Bali kembali ke ajaran agama, memberi perimbangan antara artha dan kama dengan dharma dan moksa. Beragama di Bali memang tidak bisa dipisahkan dengan beradat, demikian pendapat salah satu penyaran itu. Namun ia menyarankan agar manusia Bali paham mana yang dimaksud ajaran agama dan mana adat. Saran ini menganjurkan manusia Bali mampu membedakan keduanya dari segi ajaran, yang secara tidak langsung mensyaratkan suatu pemisahan antara adat dan agama – hal yang kontradiktif dengan pernyataan awalnya. Saran selanjutnya adalah meninggalkan berbagai anasir adat yang tidak sesuai lagi dengan semangat zaman dan juga yang bertentangan dengan ajaran agama. Dalam hal saran ini dapat dilihat "perseteruan" antara agama dan adat di Bali yang konon tidak bisa dipisahkan itu. Bayangkan, ada perseteruan dalam satu tubuh yang solid, bukan dipicu oleh hal di luar tubuh itu, namun karena tubuh itu sendiri! Menurut yang disarankan di atas, "perseteruan" agama dan adat mensyaratkan pemenangan terhadap agama dan pengalahan serta konsekuensi peninggalan terhadap beberapa anasir adat. Fenomena memuarakan berbagai masalah sosial dan budaya kepada agama dan secara tidak langsung memposisikan agama sebagai pemenang seperti di atas menggiring ingatan terhadap berbagai fenomena konflik di negeri Indonesia mutakhir. Pantat Inul dimuarakan ke agama, RUU APP dimuarakan ke agama, karya-karya seni yang katanya "erotis" dimuarakan ke agama. Seakan agama merupakan satu-satunya sistem yang sah dalam kehidupan manusia Indonesia. Seakan agama adalah satu-satunya lembaga kebenaran. Membandingkan fenomena di Bali dan Indonesia ini ditemukan kemiripan modus pengklaiman. Apakah wilayah budaya Bali mengalami keterpengaruhan diskursus pemecahan masalah dari negara Indonesia? Bali yang gencar melakukan penolakan terhadap RUU APP dengan alasan budaya ternyata melakukan modus yang serupa dengan yang dilakukan di sebalik penyusunan RUU APP itu. Ternyata Bali belum menemukan definisi yang solid tentang agama, adat dan budayanya! Muncul kecurigaan kemudian tentang pencitraan agama dan adat yang sulit dipisahkan di Bali. Jangan-jangan ini sekadar pencitraan olahan "Adobe Photoshop", bukan pencitraan "fotografis" melalui kamera yang berdasarkan realitas empirik. Dan jangan-jangan di balik pencitraan ini ada kepentingan-kepentingan tertentu yang ada hubungannya dengan citra stereotip Bali yang aman, nyaman, religius, ekso[...]



Jepun

2014-07-07T18:13:39.010+07:00

Oleh: Ibed Surgana Yuga Keharuman nan eksotis dari kwangén  hingga tongos meju! DIGUYURI gerimis, seorang perempuan tua memunguti jejatuhan bunga jepun (kamboja), lalu mewadahinya dengan tas kresek warna hitam. Ia ditolong hujan karena guyuran air dari langit itu menggugurkan lebih banyak bunga. Awalnya saya kira bunga-bunga jepun itu digunakan untuk banten. Tapi saya ragu karena bunga yang sudah kecoklatan pun dipungutnya serta. Usut punya usut, bunga-bunga itu akan dijemur hingga kering dan dijual kepada para pengrajin dupa. Harganya lumayan, bisa mencapai Rp. 10.000,- sampai Rp. 15.000,- per kilogram. Jepun memang punya prospek bisnis yang besar. Bukan hanya bunganya yang masih segar saja yang punya nilai ekonomi, yang sudah kering juga. Apalagi pohonnya, wah, saya sering terkejut-kejut mendengar tetangga saya menjual pohon jepun yang lumayan berumur dengan harga jutaan. Bunga dan daun jepun juga menjadi inspirasi desain berbagai produk kerajinan seperti vas bunga, keramik, lukisan atau pernik-pernik hiasan lainnya. Prospek bisnis yang dicapai jepun barangkali tidak bisa dilepaskan dari pencitraannya dalam industri pariwisata Bali. Entahlah, siapa yang pertama kali mencitrakannya. Yang jelas, jepun – terutama bunganya – telah terkonstruksi sebagai salah satu ikon Bali di mata dunia, di samping sekian banyak ikon yang digunakan untuk mengidentifikasi Bali – terutama untuk menunjuk sisi eksotika. Di dunia industri pariwisata, jepun menempati posisi-posisi pengindah, penambah eksotis, berbagai sudut eksterior maupun interior villa, hotel, bungalow, juga di meja makan restoran, spa, kolam renang, bahkan toilet. Para turis juga pasti lebih merasakan eksotika bunga jepun ketika ia dikalungi rangkaian bunga ini atau ketika merasakannya terselip di kuping. Secara otomatis semuanya mendongkrak popularitas jepun sebagai ikon Bali. Maka kemudian, jepun adalah Bali. Melihat jepun, dunia digiring ingatannya kepada Bali – bukan kuburan-kuburan di Jawa yang memang dipenuhi pohon jepun. Karakteristik bunga jepun adalah karakteristik Bali: indah, eksotis, harum, segar, sakral dan sebagainya. Sebagai ikon Bali, posisi jepun tidak hanya berhenti pada penyaji eksotika semata. Ketika popularitasnya sebagai ikon Bali sudah mapan, ia kemudian dikonstruksi secara sengaja atau tidak – salah satunya – untuk memikul sebuah ide besar: spirit Bali. Ia seakan adalah metafora dari kosmos Bali, baik secara fisik maupun kejiwaan. Dengan demikian jepun mampu berbicara kepada dunia tentang kosmos Bali, sehingga mampu menarik empati serta simpati dunia. Lihatlah ketika Bali dianggap goyah karena ledakan bom (walaupun anggapan ini sangat lemah dan gegabah karena tidak keseluruhan Bali merasakan kehancuran akibat ledakan bom, bahkan sampai perlu diselenggarakan ritual Pamarisudha Karipubhaya segala – barangkali ini hanya konstruksi wacana dunia industri pariwisata semata), ada sebuah gerakan yang bertitel Bali for the World yang konon bertujuan untuk mengembalikan situasi Bali setelah ledakan bom. Sehelai bunga jepun nangkring pada logo titel gerakan ini, ikut menarik kepedulian dan dukungan dunia dalam mengembalikan Bali seperti sebelum ledakan bom. Di samping itu, popularitas jepun juga dimanfaatkan sebagai semacam "ikon keberuntungan". Banyak yang menggunakannya sebagai penanda atau nama sesuatu untuk menciptakan daya tarik dari sesuatu itu. Lihatlah begitu banyak badan usaha, mulai dari toko, agen travel, hotel, villa, bongalow, spa, resort, restoran, art shop, dan masih banyak lagi yang menggunakan jepun sebagai namanya. [...]



Kastaisme

2014-07-07T18:17:30.162+07:00

Oleh: Ibed Surgana Yuga Selamat datang dunia fundamentalisme usang ber-casing baru. Nggaya bin absurd! LIBURAN semester. Gus Eka, seorang lajang berkasta brahmana yang kuliah di Jawa, mengajak seorang temannya liburan di rumahnya di Bali. Sebut saja nama temannya itu Andika, seorang asal Malang. Di rumah Gus Eka, Andika dan Gus Eka terlibat sebuah obrolan asyik dengan kedua orangtua Gus Eka, ditemani suguhan kopi Bali. Andika yang kelelahan tidak kuasa melanjutkan obrolan itu, kemudian permisi istirahat. Gus Eka masih asyik mengobrol dengan kedua orangtuanya karena ia memang jarang pulang sejak kuliah di Jawa empat tahun lalu. Di tengah obrolan itu Gus Eka dengan santai meminum kopi sisa Andika, karena kopinya sendiri sudah habis. Betapa tercengangnya kedua orangtua Gus Eka melihat hal itu. Mata kedua orang yang menginjak usia empat puluh lima itu membelalak tajam ke arah Gus Eka. "Béh, nak suba biasa tiang kéné di Jawa. Yén sing kéné, sing idup apa ben ngoyong di désan anak. Ngajeng magibung krana sing ngelah pipis nak suba biasa," kata Gus Eka kepada kedua orangtuanya, sambil menyeruput lagi kopi sisa temannya untuk kedua kalinya. Entahlah, kedua orangtua Gus Eka bisa menerima alasan itu atau tidak. Barangkali mereka masih shock melihat anaknya memakan carikan seorang Jawa, yang menurut mereka berkasta lebih rendah. Memang, dalam pola pikir kedua orangtua Gus Eka, orang luar Bali itu punya kasta lebih rendah dibandingkan kasta paling rendah yang ada di Bali. Mereka sering wanti-wanti menasihati Gus Eka agar dalam mencari pasangan hidup nantinya bisa memilih. "Eda ngalih kurenan nak beténan (maksudnya yang berkasta lebih rendah – pen.), apa buin nak Jawa. Ajinin raga gigis dadi nak Brahmana," begitu nasihat mereka.Kasta menjelma menjadi "doktrin" kuat yang berhasil merambah begitu banyak ruang dalam kehidupan beberapa (garisbawahi: beberapa!) orang Bali – dari zaman kemunculannya hingga kini. "Doktrin" ini menguasai sasarannya (orang Bali) sehingga pada suatu titik penguasaan ia berhasil menjadi "isme" yang berakar mulai dari wilayah abstrak manusia – pikiran dan emosi – hingga ke wilayah perilaku keseharian yang terindera. Jika dihubungkan dengan konsep yang konon mendasari dan menjadi struktur seragam desa-desa adat di Bali, yaitu Tri Hita Karana, kasta bukan hanya telah menyentuh pawongan, namun juga palemahan, dan bahkan parhyangan. Dalam tiga ranah konsep ini, kasta adalah salah satu "mesin" konflik. Malahan, yang paling keras memunculkan berbagai konflik justru pada tataran parhyangan, yang notabene merupakan ranah konsep hubungan vertikal manusia dengan Tuhan.Pandangan terhadap orang lain, terutama orang berkasta bawah dan orang luar Bali, yang ditunjukkan kedua orangtua Gus Eka pada ilustrasi di atas agaknya cukup jelas memberi contoh pada tataran pawongan. Bahkan bukan rahasia umum lagi di Bali kalau kasta sering kali menjelma jadi masalah yang pelik, diposisikan begitu urgen, sakral, dikultuskan, elitis, sehingga menghalangi integrasi antarindividu. Seorang petinggi daerah di Bali yang berkasta Brahmana dikenal memberlakukan "sistem 2D" dalam perekrutan PNS. Sistem yang tentu saja tak resmi dan nepotis ini mengutamakan orang yang "2D", yaitu Da Bagus (Ida Bagus) dan Dayu (Ida Ayu).Pada tataran palemahan, pada titik tertentu, kasta menghalangi – atau paling tidak melatarbelakangi pola pikir dan laku yang menghalangi – integrasi antarkelompok sosial. Ada beberapa kasus pemisahan atau perceraian atau pemecahan sebuah wilayah kelompok sosial menjadi dua atau[...]



Dari “Taksu” Tanah ke “Taksu” Parfum

2014-07-07T18:22:21.820+07:00

Oleh: Ibed Surgana Yuga Pragina Bali tak lagi bau tanah, tapi bau parfum. Menari di etalase. Yeah! SAYA menonton lagi film La Isla de Bali, sebuah film dokumenter tentang Bali tahun 1930-1950-an. Saya menyaksikan lagi gadis-gadis Bali ketika itu menari lincah, garang, seakan melawan tabuh yang dilantunkan buatnya, seakan menantang penonton yang datang memirsanya. Di atas tanah berdebu, mereka benar-benar ber-taksu. Kostum, wajah dan kulit mereka, wah, berbau tanah, mengisyaratkan kedekatan mereka dengan tanah, simbol bagi budaya agraris, Ibu Pertiwi, kosmos orang Bali tradisional.Itu tentu saja berbeda dengan tari dan penari Bali sekarang yang jauh lebih gemerlapan, tampak mewah, dengan warna-warna cerah, wajah dan kulit yang putih mulus – dekat sekali dengan model iklan pembersih wajah. Merka menari di tempat-tempat yang lux, panggung-panggung pertunjukan berlampu listrik dengan voltase besar, hotel, villa – dengan harum pewangi buatan – bahkan di dunia maya penuh prestise: televisi, video CD. Dan entah mengapa saya melihat yang sekarang ini lebih genit dan ada rasa rayuan. Tubuh mereka berbau parfum – salah satu produk khas Barat.Saya tidak sedang – dan memang tidak ingin – membedakan keduanya melalui suatu ukuran kualitas yang hierarkis, atau malah ekstrem baik-buruk. Masing-masing punya kualitas dan logika kualitasnya tersendiri yang tidak bisa dinilai dengan tolak ukur yang sama. Masing-masing memiliki orientasi dan tujuannya sendiri sehingga mereka memiliki pula "taksu" dan ukuran "taksu"-nya sendiri.Sebuah deskripsi yang klasik memang bahwa orang Bali dulu menari untuk bakti dan ngayah, baik kepada Ida Betara maupun masyarakat, sehingga dengan demikian laku menari adalah sebuah laku tanpa mengaharap pamrih – kecuali kepuasan batin tertentu. Menari adalah laku upacara bersama, baik dalam konteks tari itu adalah wali (sakral), bebali (untuk ritual) atau balih-balihan (tontonan hiburan). Semua memiliki posisinya sebagai upacara, sebuah kebersamaan, guyub yang mengikat emosi individu-individu.Namun demikian, saya ingin menilik hal ini bukan dari tari sebagai sesuatu yang suci, luhur, adiluhung dan nilai-nilai keutamaan lainnya. Saya ingin melihatnya sebagai sebuah cara untuk menyikapi konteks kehidupan ketika itu, yang mana memang berkutat pada tanah, budaya agraris adalah suatu medan kebudayaan yang melahirkan berbagai produk kebudayaan termasuk seni; dan membandingkannya dengan laku menari dalam konteks kehidupan mutakhir.Ketika itu, ketika agraris adalah medan budaya bagi mayoritas orang Bali, tanah adalah sesuatu yang memiliki posisi sakral hingga profan sekaligus. Dalam hal sakral pun tanah masih memiliki perbedaan nilai atau kualitas keutamaan. Pada satu sisi tanah adalah simbol bagi Dewi Sri, dewi padi, dewi kesuburan, dewi kemakmuran, Ibu Pertiwi, junjungan para petani. Saya teringat kata-kata seorang rama Kristen yang bilang bahwa petani adalah sebuah profesi yang paling dekat dengan Tuhan. Di sisi lain tanah juga merupakan simbol kekuatan "jahat" semacam bhuta kala dan sebagainya. Persembahan berupa caru selalu mengarah ke bawah, ke tanah; berbeda dengan yang ditujukan kepada para dewa atau betara yang berorientasi ke atas, langit atau gunung.Dalam hal yang profan pun demikian – walaupun kaitannya masih erat dengan yang sakral di atas. Tanah memiliki keutamaan, kemuliaan, sesuatu yang berharga ketika ia adalah sumber penghidupan secara fisik bagi orang Bali. Tanah adalah media bagi segala macam tanaman, segala sumber makanan. Di [...]



Bali Tanpa Bali

2014-07-07T19:36:18.645+07:00

Oleh: Ibed Surgana Yuga Judul: Bali Tanpa BaliPenulis: Ibed Surgana YugaPenerbit: Panakom Publishing & Komunitas Kertas BudayaCetakan Pertama: 2008Tebal: xvi + 164 hal.ISBN: 978-979-1108-10-2Saya ingin memandang Bali …. Ah, jangan-jangan ini hanya kerinduan cengeng – sekaligus menjengkelkan – bagi orang seperti saya, yang terlempar atau melemparkan diri sejenak dari wilayah geografis Bali. Saya bisa saja sok-sokan bersikap, sambil berpretensi memandang Bali dari luar Bali, padahal jangan-jangan Bali sama sekali tidak meninggalkan segores bekas tipis pun dalam diri saya. Atau bisa jadi saya cemburu karena apa-apa yang menjadi "mainstream" di Bali tak mampu saya jangkau. "Tajén", Orang Bali, "Calonarang" Lalu orang Bali? Hanya menikmati kekalahan di antara gemuruh arena tajén (industri pariwisata Bali). Setelah menikmati hasil penjualan manuk-manuk, yang ternyata tak seberapa, orang Bali mulai merengek-rengek pada pihak penyelenggara tajén untuk bisa masuk ke sana lagi, menjadi pedagang asongan atau sekadar tukang pasang taji bagi manuk-manuk yang akan diadu. Orang Bali hanya menjadi abdi-abdi (untuk tidak menyebut "babu") yang – dengan senjata kain pel atau sapu – memberi service terbaik untuk kesuburan ruang-ruang kapitalis di natah orang Bali sendiri. Orang Bali kemudian memberhalakan ruang-ruang tersebut – ruang-ruang yang sebelumnya pernah mengalahkan mereka. Kisah Perlawanan (yang "Tunduk") terhadap Adat Bali Pada beberapa sisi, hukum adat dalam konstruksi masyarakat tradisi Bali kadang sangat kejam pada krama adatnya sendiri, namun luluh ketika dihadapkan dengan dunia luar, apalagi pada modernisme yang membawa industrialisasi – dan iming-iming materialisme, tentunya – sebagai anak kandungnya. Inilah yang menjadi inti kisah ironis dari Incest. Desa adat dengan kekuatan massa serta para pemucuknya sangat patuh terhadap awig-awig adat yang berlaku, demi memproteksi berbagai sisi kehidupan serta keberlangsungan hidup yang sejahtera bagi krama adat, serta menjaga keluhuran dan keajegan adat itu sendiri. Kepatuhan tersebut termasuk pada hal-hal yang – menurut pola pemikiran "masa kini" – "tidak relevan" lagi. Tidak mengherankan jika adat sering kali terlihat begitu kejam dan "tidak relevan" ketika menjatuhkan berbagai macam sanksi terhadap para krama-nya yang dianggap melanggar atau melawan awig-awig. "Méru" Satpam Sejarah polemik tentang "pelecehan" terhadap simbol-simbol yang dianggap suci dalam wilayah budaya dan agama Hindu Bali telah terbentang lumayan panjang. Beberapa yang pernah saya dengar, di antaranya kasus foto bola golf di atas canangsari, album Manusia Setengah Dewa Iwan Fals, sinetron Angling Darma, film Opera Jawa Garin Nugroho, penggunaan nama dewa dalam beberapa merek kendaraan bermotor, dan sebagainya. Menanggapi polemik seperti ini, orang Bali sendiri ada yang pro dan kontra. Ada yang beranggapan bahwa "pelecehan" semacam ini perlu "diberantas" semuanya. Yang lain mengklaim wacana seperti ini terlalu "nyinyir", bahkan dianggap terlalu mengeksklusifkan budaya dan agama Hindu Bali dari pergaulan budaya dan agama lain.Cenk Blonk sebagai Simbol Eksplorasi yang dilakukan Cenk Blonk tentu saja memunculkan konsekuensi-konsekuensi tertentu, seperti "pengingkaran" terhadap pakem wayang kulit Bali. Dalam beberapa hal, rupanya Cenk Blonk memilih untuk mendobrak pakem-pakem tertentu guna meloloskan berbagai hasil eksplorasinya. Bagi saya, praktik "pengingkaran" pakem [...]



Peluang dan Batas Seni Pertunjukan Bali

2014-07-07T19:35:10.565+07:00

Oleh: Ibed Surgana Yuga Benarkah Bali punya strategi kebudayaan menghadapi globalisasi?DALAM sebuah tulisan berjudul "Budaya sebagai Strategi dan Strategi Budaya" (2000), G.R. Lono Lastoro Simatupang menyatakan bahwa dalam pergaulan global, terutama dalam bahasannya terhadap seni pertunjukan Indonesia, suatu wilayah budaya harus memberlakukan strategi budaya yang tepat. Menurutnya, globalisasi memberikan dua hal paradoks pada seni pertunjukan, yaitu peluang dan batas. Kedua hal inilah yang mesti dihadapi dengan strategi sehingga peluang tidak terlalu kebablasan atau tanpa batas dan batas sendiri tidak mematikan kreativitas atau membatasi dengan begitu ketat sehingga mencitrakan stagnasi.Peluang yang diberikan era globalisasi adalah untuk mengembangkan seni pertunjukan itu sendiri dalam berbagai dimensinya dengan memanfaatkan penyebaran luas dan tanpa bendung dari ilmu, teknologi, informasi, pengetahuan dan lainnya. Sedangkan batas adalah semacam pembendung, pagar, tepi untuk mencegah pemanfaatan peluang yang jor-joran, kedodoran atau kebablasan sehingga mengakibatkan hilangnya karakter kelokalan dari seni pertunjukan itu sendiri. Hal ini juga untuk menghindari terjadinya keseragaman pada berbagai dimensi seni pertunjukan di berbagai wilayah budaya di dunia.Simatupang memberi sebuah solusi terhadap permasalahan yang dihadapi seni pertunjukan daerah di Indonesia dalam menghadapi persaingan global, yaitu strategi diaspora. Strategi ini menurutnya menyarankan kehadiran di mana-mana, di berbagai bidang kehidupan, sehingga "manusia-manusia lokal dalam berbagai kegiatan dan waktu selalu diingatkan kembali akan sebuah nilai yang hendak dibentuk" lalu memberanikan diri melakukan penawaran bentuk tanpa mendangkalkan nilai.Bagi Simatupang, Bali adalah contoh yang tepat dalam strategi diaspora ini. Menurutnya, di Bali "terdapat kesupelan sekaligus keketatan" yang terlihat dalam kompromi terhadap berbagai pengaruh, termasuk yang non-Bali, namun tetap memegang makna inti dengan erat. Pembedaan kesenian Bali menjadi wali, bebali dan balih-balihan adalah salah satu bentuk strategi mengenai batas dan – menurut saya – peluang sekaligus.Pengklasifikasian kesenian Bali, terutama tari, menjadi wali, bebali dan balih-balihan merupakan sebuah konsep yang dapat dikatakan baru dalam ranah budaya Bali. Ia diciptakan jauh setelah modernisme menancapkan jangkarnya di tanah Bali. Konsep yang kemudian mewujud sebagai strategi kebudayaan ini adalah hasil dari sebuah seminar yang diselenggarakan sekelompok seniman, budayawan dan cendekiawan Bali pada 1971.Secara konsepsional, klasifikasi wali, bebali dan balih-balihan ini memang jitu. Ia memberikan pembedaan yang tegas – sekali lagi, secara konsepsional dan teori – terhadap kehidupan kesenian, terutama tari, di Bali; yang mana termasuk sakral (wali) yang hanya bisa digelar untuk keperluan atau bagian dari pemujaan terhadap Ida Betara; ada yang merupakan bagian dari ritual namun juga menjadi tontonan; ada yang murni tontonan atau hiburan yang profan. Dengan pembedaan yang demikian, batas-batas ditentukan secara jelas sehingga yang sakral tidak bercampur-aduk dengan yang profan, yang sakral tidak dapat dipentaskan untuk keperluan yang bersifat sakral.Demikian pula dalam hal peluang. Agaknya yang memiliki ruang yang cukup luas dalam hal peluang pengembangan adalah seni yang balih-balihan. Sifatnya yang profan memungkinkan untuk mengadopsi unsur-unsur profan yang ada di luar wilaya[...]