Subscribe: Simsalabim...
http://rayasmoro.blogspot.com/feeds/posts/default
Added By: Feedage Forager Feedage Grade B rated
Language: Indonesian
Tags:
ada  anda  bisa  dalam  dari  dengan  ini  itu  juga  kalau  kita  oleh  orang  sariman  saya  tidak  untuk  yang 
Rate this Feed
Rate this feedRate this feedRate this feedRate this feedRate this feed
Rate this feed 1 starRate this feed 2 starRate this feed 3 starRate this feed 4 starRate this feed 5 star

Comments (0)

Feed Details and Statistics Feed Statistics
Preview: Simsalabim...

Simsalabim...





Updated: 2015-10-18T05:22:27.484-07:00

 



Undangan Launching Buku PILONIAN (Ray Asmoro)

2009-05-18T21:12:20.273-07:00

(image)
Kepada Teman-teman BLOGER, dengan segala kerendahan hati, saya mengundang teman-teman untuk datang pada acara :


LAUNCHING BUKU PILONIAN


Judul Buku : PILONIAN (No Choice, Be Abnormal)
Penulis : Ray Asmoro
Penerbit : FOU Mediapublisher



Tempat : Toko Buku KINOKUNIYA Lt.5 Sogo, Plasa Senayan, Jakarta
Waktu : Hari Kamis, 4 JUNI 2009, Jam 15.00 sd. 16.30 WIBB



Kedatangan teman-teman BLOGER akan sangat berarti bagi saya.
(sekaligus kita bisa bersilaturahim bersama)
Terimakasih sebelumnya.


salam,
Ray Asmoro
"Jangan Belagak PILON deh..!"




JANGAN BELAGAK PILON Deh...!

2009-04-30T01:31:33.668-07:00

JANGAN BELAGAK PILON DEH...!Setelah menunggu lama. Setelah penantian panjang itu. Akhirnya buku PILONIAN (No Choice, Be Abnormal) segera terbit.Buku ini berisi tentang tulisan-tulisan lepas saya (Ray Asmoro) yang menghadirkan tentang ke-PILON-an yang terjadi disekitar kita bahkan dalam diri kita sendiri.Pilon bisa diartikan bodoh, bego, gebleg, dan sejenisnya. Realitanya banyak kepilonan yang terjadi disekitar kita. Bahkan sering juga kita melakukannya. Sadar atau tidak. Kadang kita/mereka hanya berlagak pilon saja, pura-pura bodoh, agar tidak dipersalahkan. Tapi ada juga yang bener-bener gebleg. Antara yang bener-bener dan yang pura-pura itu seringkali sulit dibedakan. Seperti halnya dgn waras dan gila (normal dan abnormal). Biasayanya disebut waras kalau tindakannya seperti yg dilakukan kebanyakan orang. Kalau melakukan hal-hal diluar kebiasaan normal maka ia dibilang tidak waras alias abnormal. Pertanyaannya siapa lebih benar? Waras menjadi pilihan banyak orang. Sebagian besar orang berusaha menjadi manusia waras (normal). Orang2 waras ini menganggap aneh org2 yang bertindak dan berperilaku diluar kebiasaan umum mereka, dan menyebutnya sbg tidak waras (abnormal).Padahal org2 sukses biasanya adalah org2 yang melakakukan hal-hal diluar kebiasaan normal tadi. Thomas Alfa Edison, Wright Brothers, Soekarno, dsb..mereka adalah org biasa yang melakukan hal biasa dengan cara-cara diluar kebiasaan. Jadi mereka bisa juga disebut abnormal. Tetapi ini abnormal yang memberdayakan. Lantas mengapa kebanyakan kita menginginkan disebut waras (normal) jika itu justru tidak memberdayakan? Bukankah terdengar agak Pilon?Suatu ketika cendekiawan Faisal Basri mengulas tentang krisis energi di indonesia, di saat hampir bersamaan pemimpin kita (JeKa) mengatakan bahwa listrik byar-pet itu karena banyak masyarakat yg menggunakan AC dirumahnya. Dgn kata lain byar-petnya listrik sebagai indikator kesejahteraan. Menurut saya salah satu dari mereka (antara Faisal Basri dan JeKa) ada yang pilon..(Terserah penilaian anda siapa diantara mereka yang pilon).Di dlm rumahtangga jg sering terjadi kepilonan. Misalnya anak kita meminta sesuatu scr baik2, tp kita org tuanya tdk mengabulkan. Lalu anak kita mencoba merayu. Ia berusaha rajin, disuruh apapun ia kerjakan, dgn harapan permintaannya dipenuhi. Tapi kita orang tuanya justru tidak menghargai. Lalu anak kita berpikir, minta baik-baik tidak diberi, melakukan kebaikan tidak dihargai, kalau gitu saya mau protes! Lalu anak kita mengurung diri di kamar. Tidak mau makan, tdk mau mandi, tdk mau sekolah. Dan anehnya dgn kelakuan seperti itu lalu kita luluh, kita berikan sesuatu yg anak kita inginkan. Bukankah ini agak terdengar pilon? Kemalasan justru dihadiahi.Nah banyak kepilonan-kepilonan lain yang bisa anda temukan dalam buku PILONIAN ; No Choice, Be Abnormal! ini. Baik itu dalam bisnis, keluarga, cinta, politik, spiritual, semua ada disini.Jadi kalau anda merasa tidak tahu anda pilon atau tidak, anda harus miliki dan baca buku ini agar anda dapat melakukan identifikasi. Kalau anda tau betul bahwa anda tidak pilon, anda juga harus miliki dan baca buku ini, krn jangan-jangan anda hanya belagak tidak pilon. Dan kalau anda merasa pilon, anda harus miliki dan baca buku ini, agar anda tidak terjebak dalam kepilonan-kepilonan yg lbh dalam.Insya allah minggu kedua bulan mei 2009 buku ini sdh beredar. Dan telah diagendakan untuk Launching hari Rabu, tanggal 20 mei 2009. Tunggu undangannya ya..SalamRay Asmoro"JANGAN BELAGAK PILON DEH...!"[...]



Bermalas-malaslah...

2009-04-24T11:23:29.150-07:00

Malas selalu di identikkan dengan hal-hal yang tidak produktif, selalu dikonotasikan negatif. Kalau anda karyawan, atasan anda akan marah besar kalau anda malas. Kalau anda orang tua, anda pasti juga akan kesal kalau melihat anak anda malas belajar. Pendek kata, malas adalah hal yang dibenci banyak orang, walaupun banyak orang juga yang hobby bermalas-malasan.

"Perubahan tidak akan terjadi dengan kemalasan, kesuksesan selalu berbanding lurus dengan kerja keras dan cerdas" kata seorang motivator, suatu ketika.

"Kemalasan akan mebuahkan penyesalan-penyesalan dimasa mendatang. Kemalasan akan meniadakan kemungkinan-kemungkinan sukses anda" kata seorang public speaker lainnya.

Apa sih salahnya kata "malas", dosa apa ia sehingga ia dibenci-benci. Di letakkan pada pengertian yang selalu negatif. Apakah ia memang ada hanya sebagai subyek penderita? Lantas bagaimana jika ia menolak, kalau ia hanya di persepsikan kontraproduktif mengapa harus ada kata malas? Ataukan memang kita membutuhkannya untuk sumpah serapah?

Sahabat karib saya, Sariman namanya, justru menasehatkan untuk bermalas-malas. "Kalau ente mau bener, kalau ente mau meningkatkan derajat kemanusiaan, kalau ente ingin orang sekitar lebih respek sama ente, kalau ente ingin dapat dukungan dan dipilih sebagai pemimpin, kalau ente mau hidup lebih positif...maka bermalas-malaslah" katanya.

Awalnya saya menganggap Sariman ini hanya bercanda, guyon saja, nggak logis! Tapi bukan Sariman namanya kalau logikanya sedangkal sungai-sungai di jakarta. Kawan karib saya ini memang nyleneh, berpikir diluar kebiasaan (kalau bahasa kerennya thinking out of the box), jadi seringkali terkesan provokatif dan sulit ditebak.

"Bagaimana mungkin kemalasan bisa produktif, lha wong dalam kitab suci saja kita diperintahkan untuk tidak bermalas-malasan" sanggahku pada Sariman.

"Saya kan belum selesai ngomong... Malas itu memiliki potensi yang sama produktifnya dengan rajin. Begitu juga sebaliknya Rajin itu memiliki potensi kontraproduktif yang sama dengan kemalasan" kata Sariman.

Wah sampai pada titik ini saya masih dibuat bingung oleh gagasan teori aneh yang disampaikan Sariman.

"Begini dik, rajin dan malas itu akan menjadi negatif atau positif tergantung kita menempatkannya pada konteks apa. Kalau kita rajin melakukan hal-hal negatif ya hasilnya akan negatif walaupun judulnya "rajin". Bayangkan kalau pemimpin-pemimpin kita hanya rajin menebar janji, tapi melupakan amanahnya. Kalau pejabat dan birokrat rajin nilep uang negara dan melupakan tanggungjawabnya. Kalau karyawan rajin main fesbuk dan mengabaikan tugas-tugasnya. Kalau pelajar dan mahasiswa rajin nongkrong di mal dan tidak lagi memiliki gairah belajar. Maka yang rajin-rajin diatas tentu menjadi sangat destruktif"

"Nah sekarang tentang malas yang selama ini disebut-sebut sebagai biang kehancuran, penyebab tidak tercapainya target, akar dari kegagalan. Apakah tetap menjadi negatif jika kita malas untuk menyebar fitnah, malas untuk ngerasani dan ngomongin yang buruk-buruk tentang orang lain, malas untuk berbuat dzalim. Kalau diminta mengambil yang bukan haknya, ia bilang "ah malas ah, ogah!". Kalau dipengaruhi untuk tidak setia pada janji dan amanahnya, ia bilang "ah males ah, ogah!" Kalau diajak untuk mengkonsumsi miras dan obat-obat terlarang, ia bilang "ah malas ah, mending ikut majelis ta'lim!" Bukankah kemalasan tidak selalu negatif...?" Kata Sariman.

Hmmm... Ternyata selalu ada dua sisi yang berbeda. Tergantung dari 'angel' yang mana kita melihatnya. Dan itu pilihan.



ORANG BODOH mempertanyakan demokrasi...

2009-04-07T03:55:43.983-07:00

Hampir semua dari kita pasti bisa melihat korelasi antara demokrasi dan uang. Padahal demokrasi adalah sebuah sistem pemerintahan yang konon di yakini banyak orang sebagai yang terbaik yang pernah ada. Tetapi ongkos yang harus dikeluarkan untuk demokrasi ini sedemikian besar. Apalagi di saat-saat menjelang pemilu seperti sekarang.

Cobalah anda hitung (saya sih males hitungnya), seberapa besar dana yang dikeluarkan oleh parpol untuk belanja iklan, seberapa besar dana yg dikeluarkan para caleg untuk memperkenal-kenalkan wajah culunnya itu kepada khalayak ramai... (karena saya tidak menyukai matematika, walaupun saya suka duit, jadi saya males menghitung2 hal2 seperti itu) Konon kabarnya sangat besar.. sebesar apa? Mbuh, jangan nanya lebih jauh soal hitung2an itu pada saya.Seperti jajak pendapat yg dimuat Kompas hari ini (16 maret 2009), "Kampanye Tiba, Uang Pun Bicara".

Pemikiran saya begini, kegiatan kampanye itu tidak ada korelasinya sama kesejahteraan rakyat, kalaupun ada, ya terlalu jauh. Kampanye lebih dekat di hubungkan dengan cara menuju ke kursi kekuasaan, kedudukan, seperti itulah. Saya bilang kegiatan kampanye jauh korelasinya dari 'kesejahteraan rakyat' karena walaupun mereka bilang 'siap berjuang untuk rakyat' tetapi tidak ada garansi sama sekali kalau mereka sampai pada kursi parlemen terus mereka keingetan dengan slogan-slogan yang mereka tebar di setiap sudut jalan itu. Prekkk!

Tapi ya begitulah mekanisme demokrasi. Kampanye, perebutan kursi kekuasaan, propaganda politik, tarik-menarik kepentingan, dsb., itu semua bagian dari demokrasi, dan celakanya ongkosnya sangat besar. Uang lah yang menentukan. Bahkan di Kompas tadi itu disebutkan "KEKUATAN UANG BAHKAN TERBUKTI MAMPU 'MEMBELI' WAJAH KOLOM-KOLOM SURAT KABAR DAN ARAH EDITORIAL MEDIA". Apa ndak hebat itu?

Jadi sebenernya kita itu menganut paham apa? Lha kalau demokrasi sedemikian mahal ongkosnya sementara tidak ada pula jaminan kesejahteraan bagi ummatnya, sodara-sodara kita di Porong juga tetep saja terlantar, sodara-sodara kita yang petani juga tetep saja megap-megap karena harga gabah tidak memuaskan sementara pupuk langka, minyak tanah di konversi ke elpiji tapi di pasaran tidak ada pasokan elpiji, katanya negeri kaya melimpah bahkan ada yang bilang saking indah dan melimpahnya kekayaan Indonesia, di ibaratkan Indonesia ini penggalan dari surga, tapi tidak memiliki kemandirian ekonomi.. lha terus apa sebenarnya yang di dapatkan dari demokrasi ini?



Tenang...! Tenang...!

2009-04-07T03:25:30.936-07:00

"Tenang, tenang, dengkulmu sempal!" kata Sariman.Setelah masa kampanye 21 hari berlangsung dan telah terlewati, kini kita memasuki Masa Tenang. Atribut-atribut parpol dan caleg diturunkan, dibersihkan dari jalanan. Pembersihan atribut tersebut menjadi tanggungjawab dari peserta yang memasang, kata salah satu anggota bawaslu. "Lhah tembok pagar rumah saya ditempelin stiker caleg dari PK*, membuat pemandangan jadi nggak sedap, mending kalau fotonya ganteng atau cantik.. udah muka ancur gitu, sok-sok terlihat alim lagi. ini tanggung jawab siapa? Saya cat rumah saya dengan penuh perasaan, saya tuangkan seluruh kemampuan estetika saya untuk mempercantik pagar rumah saya, eee.. caleg2 ini malah nggak tau diri, nemelin stiker seenak udelnya sendiri, atau jangan-jangan pada sudah nggak punya udel ya.. Kagak ada otaknya kali ya tuh orang?!" kata Sariman, ngedumel. Jelas dimasa tenang ini Sariman malah jadi nggak tenang. Tapi yang tidak tenang ternyata banyak juga. Sariman tidak sendirian rupanya. Bahkan kata SINDO, "Elite Parpol Tegang hadapi Pemilu" (7 april 2009, hal.3). Disuruh pada tenang kok malah tegang.. di suruh rileks kok pada malah ereksi (maaf, baca : tegang). Sebenarnya masa tenang ini untuk siapa? Saudara-saudara kita di situ gintung pada resah, bagaimana mereka bisa tenang lha wong rumah dan harta benda mereka sdh ludes dan pemimpinnya hanya bisa saling tuding dan lempar tanggungjawab. Saudara-saudara kita di porong juga masih berharap-harap cemas soal ganti rugi lahan yang terendam lumpur panas lapindo, bagaimana bisa tenang? Sekian juta sarjana menganggur, bagaimana bisa tenang? Dan jika sedemikian banyak yang menganggur, kata para sosiolog hal itu bisa memicu penyakit/kerawanan sosial seperti pencurian, pencopetan, maling, rampok, penipuan dsb, lha bagaimana masyarakat bisa tenang? Akibat tidak adanya kemandirian ekonomi, krisis global mulai terasa imbasnya disini, ratusan ribu karyawan ter-PHK, sementara mereka harus tetap menghidupi anak istri, memikirkan pendidikan dan kesehatan, dan pengusahanya juga merasa dilematis, bagaimana mereka bisa tenang? Dengan ketidaktenangan-ketidaktenangan seperti itu apakah akan berpengaruh pada meningginya angka GOLPUT dibanding pemilu sebelumnya? Itu jelas butuh pembuktian. Bagi Pak Sukemi, "Tidak Ada Alasan Untuk Golput" katanya di Koran SINDO, 7 april 2009, hal.3. Tapi tidak ada jaminan sama sekali bahwa dengan banyaknya partai peserta pemilu yang juga berarti banyak juga pilihan, akan bisa menurunkan angka Golput. Tidak ada garansi bahwa dengan mengenal caleg dari jutaan caleg yang ada terus kita percaya dan memilih mereka. Lha kalau terus menentukan pilihan itu di jadikan kewajiban.. lha wong kewajibannya sebagai pemimpin saja belum sepenuhnya dijalankan. Ini soal hukum sebab-akibat. Kewajiban itu adalah sebuah sebab, jika merasa berhak dipercayai dan dipilih, ya tunaikan dulu kewajibannya. Orang kok mau enaknya saja. Mau hasilnya doang, tapi prosesnya ogah jalanin. Mau hasil akhir yang bagus, tapi prosesnya sembarangan.. mana bisa..Dan saya pikir, kata Sariman, caleg-caleg itu bagaimana bisa tenang dimasa tenang ini.. mereka sudah mengeluarkan duit sedemikian besar.. iya kalau kepilih, kalau tidak? hmmm... kelaut ajeee...!!![...]



Bisa Berjalan

2008-11-23T22:49:04.701-08:00

Akhirnya aku bisa berjalan...
(23 Nov 2008, Wisma LAN Jakarta)


(object) (embed)



JATUH untuk BANGKIT KEMBALI

2008-11-23T22:50:01.794-08:00

Terjatuh saat belajar berjalan...
Ya terjatuh, Untuk kemudian
BANGKIT KEMBALI

Ayo EUREKA!
Kamu BISA!!!

23 Nov 2008
Lokasi : Wisma LAN Jakarta

(object) (embed)



Mbah Surip ; I LOVE YOU FULL.. hah, hah, hah, hah...

2008-11-10T00:53:45.171-08:00

Mbah Surip ; I LOVE YOU FULL…! Hah..hah..hah..hah…Saya mengenalnya diakhir tahun 2002, ketika itu saya menjadi ketua panitia dalam even ‘Menjemput Tahun Tanpa Kekerasan’ yang diadakan oleh Jaringan Pekerja Teater Jakarta di Taman Ismail Marzuki. Dalam acara (menyambut tahun baru) itu kami menggelar acara kesenian, mulai dari teater, musik, puisi, maupun kesenian tradisional. Disamping suguhan pertunjukan dari banyak kelompok teater di Jakarta, juga dari beberapa penampil kesenian tradisional yang kami hadirkan dari Aceh, Jawa dll., banyak pula tokoh seniman dan budayawan yang tampil malam itu seperti; Putu Wijaya, Ratna Riantiarno, (alm) Harry Roesli, Ratna Sarumpaet, Soetardji C. Bachri, Jose Rizal Manua, PM. TOH, dan masih banyak lagi sehingga pergelaran malam itu beralngsung semalam suntuk.Diakhir acara, menjelang subuh, seorang yang terkesan sangat ’seniman’, pakaiannya nyentrik, rambut gimbal, menenteng sebuah gitar, naik keatas panggung dan... ”hah..hah..hah..hah....” ia memulai dengan tertawa yang khas. Saya pun terkesima dan larut dalam keceriaan yang di hadirkan Mbah Surip.* * *Berikutnya saya sering melihat Mbah Surip di setiap acara ”Kenduri Cinta” (yang –sebut saja—diasuh oleh Emha Ainun Nadjib) setiap jumat malam minggu kedua setiap bulan. Kenduri Cinta adalah semacam wadah silaturahim antar umat. Walaupun Cak Nun (Emha Ainun Nadhib) sering mengajak sholawatan, tetapi tamu yang diundang beragam, mulai dari pendeta atau romo, politikus, pengusaha, preman, dan lain-lain. Di Kenduri Cinta semua boleh bicara apa saja. Selain ngobrol dalam sarasehan, ada pula waktu disediakan buat para penampil di Kenduri Cinta, mau main musik silakan, mau baca puisi silakan, mau ludruk-an silakan. Semuanya boleh asal dalam bingkai cinta. Dan Cak Nun melengkapi Kenduri Cinta dengan sentilan-sentilan yang kritis tapi ndagel, sejuk menyentuh bahkan kadang panas membakar.Dan Mbah Surip salah satu yang saya tunggu-tunggu penampilannya di Kenduri Cinta. Sehingga alasan saya ke Kenduri Cinta tidak jelas lagi apakah karena Cinta yang ditawarkan Cak Nun atau karena kehadiran Mbah Surip disana. Tetapi itu tidak penting.Sosok Mbah Surip adalah sosok yang periang. Ia selalu menghadirkan kegembiraan dalam setiap tarikan nafasnya. Bahkan tidak sakit hati terhadap setiap olok-olok yang ditujukan padanya. Semua ditanggapi dengan tawa, hah..hah..hah..hah... Malah lalu ia akan katakan ”I LOVE YOU FULL... hah..hah..hah..hah...”. Dan naif rasanya jika meragukan cintanya itu. Karena ia manusia yang selalu diliputi cinta, bahkan ia menjelma cinta. Seharusnya lebih banyak lagi manusia seperti Mbah Surip itu di negeri ini, manusia yang penuh cinta. Memandang segala sesuatu bukan berdasarkan nafsu dan kepentingan pribadi semata, tetapi memandang dan memperlakukan segalanya dengan sesuatu yang paling hakiki : CINTA. Dialah pejuang cinta, manusia cinta. Hah..hah..hah..hah... I LOVE YOU FUL...!!!Kata ”I Love You Full” sangatlah sarat makna. Menunjukkan keberpihakan dan totalitas Mbah Surip atas cinta. Cintanya selalu ”Full”, tulus, penuh, tidak pernah setengah-setengah. Dan yang penuh itu, ia tebarkan semua ke seluruh jagad raya. Dan cinta selalu menghibur luka, memadamkan amarah dan dendam, melenturkan keakuan. Maka tak heran jika Mbah Surip naik panggung dan bernyanyi, selalu penuh gelak tawa penonton. Yang patah hati seketika sembuh lukanya, yang gelisah karena pengangguran seketika tentram hatinya, yang teraniaya oleh kekuasaan seketika terbit senyum dan tawanya, yang ngga tau siapa dirinyapun larut dalam kegembiraan...Begitulah Mbah Surip. Saya menganggapnya sebagai ”sufi”. Lantaran ia tak lagi tergoda oleh gemerlap dunia, ia tak butuh puja-puji, ia tak perlu dikasihani, karena CINTA telah cukup memenuhi hidupnya.* * *Yang Khas dari Mbah Surip (yang ternyata nama aslinya adalah Urip Aryanto dan konon pernah sekolah di STM B[...]



MEDIA = TERORIS (?) ; metafora berita koran pagi

2008-11-10T01:01:51.054-08:00

MEDIA = TERORIS (?) – Metafora Berita Koran Pagi (Ray Asmoro) Antara Sariman dan Amrozi Cs memang tidak ada hubungan darah dan kekerabatan. Satu-satunya yang dapat menghubungkan antara mereka adalah bahwa Sariman dan Amrozi Cs adalah sama-sama manusia, ciptaan Tuhan. Itu saja, ndak lebih dan ndak kurang. Hanya saja bedanya, Sariman tidak mendapat ’cap’ sebagai teroris dan Amrozi Cs di ’stempel’ sebagai teroris. Drama eksekusi mati Amrozi Cs, cukup melelahkan untu diikuti. Setelah tertangkap 3 tahun lalu dan telah lama juga diputuskan bersalah oleh pengadilan, tapi pelaksanaan eksekusi sempat tertunda-tunda. Dalam waktu itu hingga kini berita tentang Amrozi Cs berseliweran di media cetak maupun televisi. Ada yang mengingatkan betapa sadis dan biadabnya perbuatan mereka, beberapa media menurunkan berita misalnya bagaimana gambar dan kehidupan para korban bom bali saat ini. Tetapi ada juga yang mengupas habis kehidupan Amrozi Cs, seperti layaknya pahlawan. Teroris atau pahlawankah mereka? ”Entahlah” kata Sariman. Bagi ’dunia’ mereka dianggap teroris karena mengancam keamanan dan keselamatan umat manusia. Tetapi mungkin mereka juga pahlawan dalam konsep mereka tentang ’perjuangan’ yang mereka yakini. Hanya saja keyakinan mereka sering bertabrakan dengan yang lain. Maka teroris dan pahlawan menjadi abu-abu bagi Sariman. Layaknya seorang maling ayam, dia maling lantaran mengambil yang bukan haknya, tetapi dia menjadi pahlawan bagi keluarganya karena ia melakukan itu demi memperjuangkan sekolah anaknya misalnya. Bukankan memperjuangkan agar anak bisa sekolah dan menuntut ilmu itu baik? Ya, walupun caranya salah. Dan Amrozi Cs bagi banyak kalangan layak di cap sebagai teroris tetapi bagi media hmmm... bukankah ia ’pahlawan’ yang mampu mendongkrak rating dan oplah dengan menurunkan beritanya dengan begitu ’heboh’. Media massa begitu piawai dalam mengemas sebuah berita menjadi begitu sensasional. Dan sayangnya yang sensasional dan ”sexy” itu adalah berita-berita yang justru negatif seperti tindak kejahatan, kriminal, korupsi, teroris, narkoba, artis kawin-cerai, dan sebagainya. Sedangkan berita tentang misalnya keberhasilan pemerintah dibidang tertentu tidak mendapat cukup ruang. Sehingga kemudian kita setiap hari, setiap saat, di bombardir oleh berita-berita ”heboh” tadi. KOMPAS hari ini (10/10/2008) menurunkan sebuah headline ”Media Bisa Menginspirasi Kejahatan”. Gejala yang tampak adalah munculnya kemiripan kasus-kasus kriminalitas yang menonjol tahun ini, katanya. Kita tentu masih ingat cerita anak SD yang luka-luka karena di ’smack-down’ oleh temannya sendiri. Kasus mutilasi juga semakin sering kita dengar. Dan media memperlihatkan fakta-fakta itu begitu heboh, seolah-olah tanpa peduli akan pengaruhnya kepada masyarakat. Padahal untuk (khususnya) televisi, KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) telah mengaturnya, tetapi kenyataannya KPI tidak cukup punya ’gigi’ untuk berbuat lebih jauh terhadap media yang tidak menjalankan aturan. Realitanya, media cetak maupun televisi menyajikan hal-hal negatif dalam kehidupan kita, setiap hari bahkan setiap saat. Berita-berita itu sedemikian hebohnya, sehingga menjadi teror mental bagi kita semua, bagi anak-anak kita. Setiap saat kita di teror, dimana-mana kita di teror. Tidak ada tempat yang steril dari teror. Bukan hanya media massa, semua akhirnya berlomba-lomba melakukan teror. Pemerintah melakukan ’teror’ dengan kebobrokan birokrasi dan menjamurnya korupsi, saudara-saudara kita di porong terababaikan justru Lapindo di proteksi, apa itu bukan teror bagi rakyat? Organisasi-organisasi masa bertindak sewenang-wenang, merasa diri dan kelompoknya paling benar, lalu berkonvoi di jalanan sambil mengibarkan benderanya, kemudian dengan tongkat mereka ’merusak’ dengan mengatasnamakan agama dan kebenaran. [...]



Jakarta TAK TERBENDUNG !!!

2008-11-03T19:20:07.953-08:00

Jakarta Tak Terbendung(RAY ASMORO) Berbangga lah kita menjadi warga negara Indonesia! Indonesia kita ini kaya raya dan memiliki pesona keindahan yang tiada tara. Bahkan pernah di gambarkan bahwa Indonesia ini bak potongan kecil dari surga. Itu baru dari sisi kekayaan alamnya, keindahan dan pesona budayanya. Sejarah membuktikan betapa orang-orang Indonesia memiliki daya cipta yang adiluhung. Sebut saja misalnya peninggalan sejarah seperti Candi Borobudur. Itu menunjukkan betapa hebatnya daya cipta dan karsa orang-orang tempo dulu di bumi nusantara ini. Dunia pun mengakuinya sebagai sebuah keajaiban. Sejarah pembangunan di republik ini juga sangat luar biasa. Bahkan kita semua kala itu yakin dan percaya bahwa Indonesia kita ini akan menjadi mercusuar dunia. (Namun sayang, kini tidak pernah terdengar lagi kalimat yang di dalamnya menyimpan pengharapan sekaligus komitmen dan rasa bangga itu. Kalaupun ada yang mengatakan, kalimat itu diucapkannya dengan penuh ragu dan setengah hati). Banyak ragam bentuk buah cipta karya manusia yang di akui dunia sebagai keajaiban. Sebut saja, menara pissa yang berdiri miring, tembok besar di cina, piramida di mesir, dan sebagainya. Namun ada satu yang luput dari pandangan dunia ; Jakarta! Mengapa Jakarta? Ada apa dengan Jakarta? Persoalan Jakarta tidak jauh dari masalah kemacetan dan banjir. Nah khusus tentang banjir, pemerintah setempat telah mengupayakan penanggulangannya dengan proyek banjir kanal, walaupun banyak orang menyangsikan efektifitasnya. Pengerukan lumpur di sungai-sungai Jakarta juga telah dicanangkan (konon katanya sampai akhir desember 2008). Lha kok desember? Itu pertanyaan Sariman. Bukankah desember itu bersamaan dengan datangnya musim hujan? Lagi-lagi ini membuat kita jadi sangsi, seharusnya sebelum datang musim hujan sudah kelar pengerjaannya sehingga ketika hujan datang, air melimpah, bisa tertampung dan mengalir kelaut. Kan begitu logikanya, sepertinya pemkot itu pada ngga memiliki timing awareness, kata Sariman. Eh, kalau jual jas hujan saat musim hujan, kalau jual es cendol saat musim panas, itu baru cerdas. Belum lagi soal kesadaran warga tentang bagaimana memperlakukan sampah secara bijak. Jika pemerintah tidak memiliki timing awareness, warganya kurang mengerti fungsi dan nilai-nilai. Sungai dan selokan, di jadikan tempat sampah. Ini kan seperti mulut dan anus. Mulut untuk memasukkan makanan, anus untuk membuang kotoran. Apakah anda sadari fungsi itu? Jika tidak, hmmm betapa PILONnya anda. Dari sisi politis... ”wah saya kira negeri ini terlalu di politisir, sehingga segala sesuatu harus dihitung untung-ruginya secara politis, kalau mau bangun infrastruktur musti dihitung seberapa besar peningkatan perolehan suara di pemilu mendatang”, kata Sariman. Akhirnya bukan mengadakan sesuatu yang memang seharusnya ada, tetapi membuat sesuatu ada hanya jika itu dapat memperkuat pijakan kekuasaan. Dan Jakarta, adalah kota metropolitan yang unik. Sebagaimana kota Metropolitan, disini tempat semua kepentingan dari semua golongan tumplek bleg. Heterogenitas itu mungkin juga sebagai salah satu yang membuat permasalahan Jakarta semakin kompleks. Tapi apa salahnya dengan heterogenitas? Begitulah, akhirnya kita menjadi orang yang suka salah-menyalahkan satu sama lain dan bukan mengambil tanggungjawab masing-masing dan mengerjakannya secara benar. Kompas pagi ini (4 November 2008) menurunkan headline ”Obama Sukar Dibendung” dan diatas headline itu terpampang sebuah foto banjir di daerah Bukit Duri. Ya, itulah salah satu kesamaan antara Obama dan Jakarta. Obama sulit dibendung, begitu pula Jakarta, airnya tak terbendung dan menggenang, membanjiri rumah-rumah warga. Menurut pakar, Jakarta ini memang berada di tanah yang cekung. Bahkan seperti daerah aliran sungai, atau bahkan Jakarta pada hakikatnya adalah sungai. Hmmm, mu[...]



Kuncinya adalah KOMUNIKASI ! ( # 2 )

2008-10-22T19:44:44.976-07:00

FORMULA KOMUNIKASI EFEKTIF (2) – NLP Series Seperti disinggung sebelumnya, orang bisa berkomunikasi dengan baik jika memiliki kecenderungan yang sama, atau memiliki banyak persamaan. Nah, ini sesungguhnya menjadi peluang bagi kita untuk bisa ’masuk’ dalam membangun komunikasi. Pada umumnya orang cenderung minta dimengerti daripada mengerti orang lain. Kecenderungan ini bisa kita manfaatkan. Kita mengerti dulu untuk bisa dimengerti. Ketika kita hendak menyampaikan sebuah pesan atau informasi, mungkin kita perlu ’mengerti’ dulu orang lain agar ia mengerti kita pada akhirnya. Itu sebuah konsep sederhana. Sama dengan hukum kausalitas, sebab-akibat. Jika ’akibat’ yang kita inginkan adalah orang mengerti kita, maka kita harus penuhi dulu ’sebab’nya orang bisa mengerti kita yaitu kita berusaha mengerti orang lain. Kenyataannya banyak orang yang tidak peduli dengan konsep ’mengerti dan dimengerti’ ini. Begitu punya maksud langsung tabrak saja sehingga orang justru bingung atau malah tidak respect pada kita. MEMBANGUN Ke-AKRAB-an Ihwal komunikasi di NLP (neuro linguistic programming) di sebutkan, “The meaning of communication is the response you get”. Ketika respons orang lain tidak sesuai dengan harapan kita berarti ada yang salah dengan komunikasi kita. Nah, jika ada orang lain, bawahan, istri, suami ataupun audiens tidak paham apa yang kita maksud, tentu itu bukan semata ’kesalahan’ mereka. Mereka tidak memahami karena kita kurang mampu mengkomunikasikan pesan yang kita maksud. Jadi ’ketidakfahaman’ mereka hanyalah ’akibat’ dan itu di’sebab’kan oleh komunikasi kita. Mungkin kita yang tidak peduli denga preferensi mereka, mungkin kata-kata kita kurang menyentuh, mungkin intonasi kita datar-datar saja, mungkin kita bicaranya kurang antusias (fisiologis), dan sebagainya. Untuk menghindari hal seperti itu perlu dibangun hubungan/keakraban (rapport). Semakin kita bisa akrab, semakin baik hubungan yang kita bina, semakin efektif komunikasi kita. Semakin banyak kesamaan yang bisa kita bangun maka semakin besar peluang menjadi lebih akrab. Pernahkah anda bertemu dengan seseorang yang tiba-tiba berkata ”maaf, sepertinya saya pernah kenal dengan anda, tapi dimana ya...?”. Pernahkan anda mengalami hal itu? Sebenarnya ada 2 kemungkinan. Bisa jadi memang sebelumnya pernah kenal, tapi bisa juga tidak atau belum pernah kenal sama sekali, tetapi karena ia melihat diri anda memiliki banyak kesamaan dengannya atau dengan orang lain yang dikenalnya, anda menjadi tidak asing baginya, ia seperti melihat dirinya sendiri atau melihat sahabat yang dikenalnya itu. Nah, di NLP ada beberapa teknik dalam membangun keakraban itu. TEKNIK MATCHING AND MIRRORING Namanya juga ’matching’ yang secara harafiah bisa diartikan kesesuaian. Maka yang kita lakukan adalah menyesuaikan diri kita kepada orang lain. Contohnya kalau kita bicara dengan seseorang yang sedang duduk, maka lebih baik kita juga duduk sejajar, sehingga yang bersangkutan tidak merasa terintimidasi. Jika kita bicara dengan anak kecil, maka lebih baik kita menurunkan badan atau jongkok (seperti yang sering dilakukan oleh Lady Di yang sudah ’die’ itu). Kalau sedang presentasi produk dihadapan beberapa direktur misalnya, ada baiknya kita menyesuaikan tampilan kita, misalnya mengenakan dasi atau berpakaian rapi, sehingga tercipta kesejajaran. Kalau orang yang kita ajak bicara suka dengan tema-tema politik atau budaya, cobalah ikuti dan sesuaikan tema pembicaraan anda dengannya. Jadi segala hal yang bisa kita sesuaikan, kita sesuaikan. Tujuannya adalah untuk membangun kedekatan dan keakraban. Sedangkan ’mirroring’ adalah teknik bercermin. Sederhananya adalah kita melakukan apa yang ia lakukan. Jika ia menggaruk kepala, cobalah ikuti. Tapi jangan sec[...]



KOMUNIKASI, itu KUNCINYA ! (#1)

2008-10-21T21:40:06.675-07:00

FORMULA KOMUNIKASI EFEKTIF (1) – NLP Series Komunikasi. Sepertinya kata itu begitu ’remeh-temeh’. Pernahkan kita berpikir bahwa hampir di setiap bagian dihidup kita memerlukan ’komunikasi’. Keharmonisan rumahtangga, konon tergantung bagaimana kita membangun komunikasi yang baik dengan dengan anggota keluarga. Sales mampu menjual produk, juga dipengaruhi oleh bagaimana kemampuan komunikasinya. Seorang ’leader’ yang baik harus mampu mengkomunikasikan visi-misinya kepada anakbuahnya. Ustadz ataupun da’i, ketika melakukan syi’ar agama pun, jika cara komunikasinya kurang baik maka audiensnya akan terkantuk-kantuk. Maka ’komunikasi’ menjadi bisa dianggap sebagai salah satu kunci sukses dalam kehidupan. Jika kita ingin sukses dalam kehidupan kita maka bangun komunikasi yang baik. Dalam komunikasi, normalnya kita menggunakan 3 kanal. Yaitu 1) kata-kata, 2) tonality atau mutu suara / intonasi dan 3) fisiologis atau bahasa tubuh. Komunikasi yang baik seharusnya mengoptimalkan kekuatan 3 kanal komunikasi tersebut. Kata-kata yang kita gunakan tentu memiliki peran nyata dalam menyampaikan informasi. Namun demikian kata-kata dan kalimat-kalimat yang bagus sering diabaikan oleh orang lain apabila di ucapkan dengan kurang antusias misalnya, atau dengan nada yang datar-datar saja. Coba anda bayangkan apabila pidato Bung Karno yang kalimat-kalimatnya tersusun baik dan sangat heroik itu dibawakan oleh Tessy. Kata ’anjing’ jika di beri tekanan tertentu akan menjadi berbeda maknanya. Maka kata-kata yang bagus pun kurang menjamin terjalinnya komunikasi yang baik apabila tidak di dukung oleh intonasi yang proporsional. Di beberapa workshop saya sering menanyakan ”jika ada dua lampu batterai, yang satu di biarkan nyala terus dan satunya dibuat nyala-hidup, nyala-hidup (saya mengatakan hal itu dengan menggunakan bahasa tubuh tangan saya) manakah yang cepat habis batterainya?” Banyak orang terkecoh oleh gerakan tangan saya, daripada memperhatikan kata ’nyala-hidup’. Padahal nyala terus dengan nyala-hidup itu sama saja bukan? Itulah salah satu kekuatan bahasa tubuh (fisiologis). Menariknya, tubuh kita ini sebenarnya tidak bisa berbohong. Kata-katanya boleh bagus. Misalnya ketika anda mengatakan kepada pacar anda, ”aku cinta padamu” tapi anda mengucapkan itu tanpa menatap matanya, sambil melengos dan mencibir. Saya pastikan kalimat cinta anda akan diragukan oleh sang pacar. Karena bahasa tubuh anda justru mengatakan sebaliknya. Bahkan seringkali kita tahu maksud seseorang hanya dari bahasa tubuhnya. ”Eh, baju saya ngga matching ya..?” anda bertanya begitu misalnya, ketika teman anda mengamati pakaian yang anda kenakan sambil mengernyitkan dahinya. Bahkan istri anda tahu kalau anda lagi stress dan capek atau sedang ada masalah di pekerjaannya ketika ia pulang langsung lempar tas dan banting pintu, tanpa berkata-kata. Tubuh kita tidak pernah berbohong. Karena ”body and mind are parts of the same cybernetic structure”. Ada istilah yang disebut incongruent, atau ketidaksesuaian. Dalam tahap tertentu ini bisa dikategorikan sebagai ‘penyakit’. Namun dalam komunikasi normalnya kita patuh pada kaidah-kaidah alamiah. Misalnya jika kita mengatakan tentang perasaan, tangan kita menunjuk dada. Atau ketika kita bicara tentang pikiran, bukankah kita selalu menunjuk kepala atau jidat, kenapa kita tidak menunjuk dengkul kita? Ketika kita mengatakan ”burung terbang tinggi diawan”, tangan kita melambai keatas dan bukan ke bawah. Melanjutkan hal tersebut, dalam komunikasi juga harus memperhatikan bahwa setiap kita memiliki preferensi dalam komunikasi. Ada yang preferensinya VISUAL. Orang-rang Visual berkomunikasi dengan ’mata’. Maksudnya orang-orang visual seringkali menggunakan kat[...]



25% PENDUDUK ALAMI GANGGUAN JIWA...

2008-10-20T22:44:39.600-07:00

Bangsa Yang Sakit (?) (ray Asmoro) Dalam keseharian Sariman seringkali marah-marah. Emosinya meluap-luap. Seperti air laut yang luber menggenangi daerah Penjaringan Jakarta Utara kemarin (10/10/2008). Istri Sariman cemas terhadap perubahan emosi suaminya itu. Sebelumnya ia sangat santun dan penyabar. Tetapi entah kenapa kini ia berubah.\ Belum ada yang memastikan penyebab perubahan emosi Sariman itu. Namun demikian mari coba kita amati, siapa tahu kita bisa sedikit mengurai simpul permasalahannya. Secara ekonomi, Sariman bukan termasuk orang yang kekurangan. Penghasilannya cukup untuk memenuhi kebutuhan rumahtangganya, bahkan ada sebagian yang bisa ditabung setiap bulannya. Ia bekerja. Pekerja keras. Jam 6 pagi ia berangkat dari rumahnya, lantaran jarak dari rumah ke kantor harus ia tempuh selama hampir 2 jam. Jika mengukur jarak seharusnya bisa sampai dalam waktu 45 menit saja, tapi inilah Jakarta, matematika tak berlaku disini! Saban hari ia harus memacu motornya melintasi jalanan Jakarta yang padat dan penat. 2 jam perjalanan itu sudah sangat menyita energi bahkan emosi. Maklum karena tidak ada namanya ketertiban dalam kamus lalu lintas disini. Semuanya sradak-sruduk. Sampai kantor ia sudah dalam keadaan cukup letih fisik maupun emosi. Kemudian ia harus bergelut dengan rutinitas kantor. Menyiapkan ini-itu, beradu argumen dengan teman sekerja bahkan dengan atasan, belum lagi ada intrik-intrik tertentu di dalam perusahaan yang memaksa ia untuk membuat strategi-strategi untuk tidak terdepak dari perusahaan itu. Banyaknya pekerjaan kadang memaksa ia untuk lembur. Jakarta harus disikapi seperti itu untuk bisa bertahan hidup, katanya suatu ketika. Selepas jam kantor, masih menyisakan tugas-tugas yang harus diselesaikan, ia tumpuk itu dalam kepalanya yang sedikit peang. Lalu ia pun harus menyeberangi waktu 2 jam dijalanan lagi menuju rumahnya. 2 jam yang melelahkan setelah 8 jam di kantor yang juga melelahkan. Jadi total ada 12 jam yang melelahkan fisik maupun emosi, diluar rumah. Di rumah, malam ia tidak bisa langsung tidur. Anaknya butuh perhatian juga. Lebih-lebih istrinya yang suka bercerita bahwa tetangga ini sudah punya ini, tetangga itu sudah punya itu, kita kapan punya? Kita kapan punya? Kata istrinya. Walaupun punya tabungan, toh Sariman harus berpikir agak lebih jauh, misalnya bagaimana mempersiapkan pendidikan bagi anaknya. Dan sebelum tidur, ia harus memeriksa pekerjaan kantor yang tadi ia simpan dikepalanya. Jam 12 malam atau kadang lebih, ia baru bisa memejamkan mata. Jam 5 pagi ia sudah harus bangun untuk persiapan kerja lagi. Rutinitas sehari-hari yang melelahkan fisik maupun emosi. Itu baru persoalan internal. Belum lagi persoalan eksternal yang membuat Sariman harus melipatgandakan energi dan emosinya untuk menyikapinya. Misalnya tentang kanikan harga-harga kebutuhan pokok, kenaikan harga BBM, gas yang seringkali langka dipasaran, hiruk-pikuk politik yang memuakkan, di koran saban hari hanya ada berita-berita negatif tentang korupsi, pembunuhan, pemerkosaan, maling, ketidakberesan birokrasi dan sebagainya. Semua itu semakin menambah ruwet sirkuit diotaknya. Semuanya tumpang-tindih dikepalanya, menyesak didadanya. Kemudian yang tak kalah seru, bagaimanapun Sariman memiliki obsesi, walaupun tidak muluk-muluk yang ia punya. Ia hanya ingin kehidupan yang lebih sejahtera, lebih mapan, ada jaminan bagi pendidikan anaknya kelak, bisa punya mobil walupun tidak mewah, bisa perbaiki rumah yang dibeberapa tempat atapnya sering bocor, bisa bantu keluarganya yang kampung dan sebagainya. Dan untuk itu ia harus bersaing dengan 9.999.999 orang di Jakarta ini! Tentu ini juga menjadi ’beban’ tersendiri bagi Sariman. Nah, dari situ mungkin kita bisa maklum jika kemud[...]



Gundul-Gundul Pacul (metfora berita koran pagi)

2008-09-17T00:59:22.524-07:00

GUNDUL-GUNDUL PACUL (metafora berita koran pagi) -ray asmoro- EDAN…!!! Begitu umpat Sariman dalam hati. Dari dua koran yang saya baca hari ini (Kompas dan Sindo, 17 Sept 2008), keduanya menurunkan headline yang sama, tentang penangkapan anggota KPPU atas dugaan suap sebesar 500 juta. Perbedaannya adalah ‘angle’ foto beritanya ketika Muhammad Iqbal (anggota komisi pengawas persaingan usaha) di tangkap tangan oleh oleh petugas KPK di Hotel Aryaduta. Namun walaupun kedua foto tersebut diambil dari ‘angle’ yang beda tetapi memiliki satu kesamaan ; kedua foto tersebut memperlihatkan ekspresi objek sedang TERSENYUM!!! Weleh-weleh-weleh… Sudah ketangkap tangan, masih bisa ‘cengengesan’. Apa jadinya bangsa ini jika di Negara dijalankan oleh orang-orang yang suka ‘cengengesan’. Saya jadi ingat lagu “Gundul-gundul Pacul”. (suatu kali pernah di kupas oleh Cak Nun). Di lagu dolanan (jawa) itu ternyata terkandung pesan moral dan politis yang dalam. Tapi kita cenderung enggan berpikir dan tak peduli dengan isyarat. Mari kita tengok kembali syair lagu “Gundul-gundul Pacul” yang syarat makna itu… Gundul-gundul pacul, Gemblelengan Nyunggi-nyungi wakul, Gemblelengan Gambaran tentang orang yang tingkahnya cengengesan, pencilakan. Tidak mengerti unggah-ungguh dan tatakrama. Mengerti hukum tata negara tapi gagap mengaplikasikannya. Lagaknya sok jagoan, gayanya keren tapi tidak ada otak dikepalanya. Merasa pinter sehingga ngomongnya asal njeplak, kalau salah ya Cuma senyam-senyum, cengengesan. PD nya luar biasa, biarpun ngga punya basis masa nekad jadi capres atau caleg, lalu mengumbar janji-janji, membuat manufer politik tapi mudah ditebak, toh kalau ngga kepilih ya paling cuma senyam-senyum, cengengesan. Orang-orang cengengesan begini apakah layak kita beri mandat? apakah layak kita titipin amanat? Apakah kita yakin atau apa yang membuat kita yakin dia mampu melaksanakan mandat dan menjalankan amanat, padahal jelas-jelas di junjung adalah amanat, dia nyunggi amanat itu sambil cengengesan. Kalau engkau salah memilih pemimpin yang cengengesan, kalau roda pemerintahan dan kenegaraan ada ditangan orang cengengesan maka… Wakul ngglempang Segone dadi sak ratan Bakul yang berisi mandat dan amanat akan jatuh. Dan isinya akan berceran, berserakan dijalan dan keos! Beginitulah jadinya negara cengengesan Yang di jalankan oleh orang-orang cengengesan Masyarakatnya pun cengengesan Ideologinya Gundul-gundul pacul [...]



ZAKAT berbuah PIDANA

2008-09-17T00:56:21.003-07:00

ZAKAT BERBUAH PIDANA -ray asmoro- Amal tanpa ilmu menjadi sia-sia dan bisa membawa kehancuran. Begitu kata orang-orang pintar. Niat dan perbuatan baik belum tentu maslahah jika caranya kurang baik. Dan tragedi kemanusiaan terjadi lagi, 21 orang meninggal di Pasuruan Jawa Timur (Kompas, 16 September 2008) lantaran berdesak-desak, berebut zakat. Sungguh memilukan! Zakat memiliki makna “tumbuh dan bertambah”. "Dan dirikanlah sembahyang tunaikanlah zakat dan taatlah kepada Rasul, supaya kamu diberi rahmat". (Surat An Nur 24 : 56). Ini adalah konsep “give and receive”, hukum kausalitas, kita akan mendapatkan apabila kita sudah memberi. Maka memberi lebih baik daripada menerima atau meminta. Dan mungkin lantaran itu pula keluarga H. Syaikhon yang pengusaha kulit dan sarang burung wallet menjadi “bersemangat” untuk berbagi. Lalu ia rogoh koceknya sebanyak Rp. 50 juta yang di bagikan Rp. 20 ribu per-orang, cukup untuk dibagikan kepada 2.500 orang. Tetapi kenyataannya yang datang berjubal disana (kata media) sekitar 5.000 orang, semuanya bermaksud untuk mendapatkan bagian. Anak-anak Pak H. Syaikhon lah yang menangani langsung pembagian ‘zakat’ itu. Lalu terjadilah tragedi itu. 21 orang meninggal. Rp. 20 ribu mungkin tidak berarti bagi yang mampu, tapi bagi yang tidak mampu uang segitu bisa menyambung hidupnya. Artinya ini soal perut, dan itu adalah kebutuhan alamiah dasar manusia. Untuk urusan perut, manusia bisa jadi raja tega, tak peduli siapapun, apapun akan dilakukan untuk mendapatkannya walaupun harus menginjak-injak saudaranya sendiri. Ketika kebutuhan alamiah dasar itu tidak terpenuhi, orang bisa jadi gelap mata, lalu satu sama lain bertabrakan, berbenturan, bahkan saling tikam. Ini mungkin yang tidak di kalkulasi oleh keluarga H. Syaikhon. “Lagi pula kenapa repot-repot ngumpulin orang segitu banyak, dan ngapain repot-repot bagi zakat.. lha wong ada Badan Amil Zakat Infaq dan Shodaqoh yang menerima dan menyalurkan zakat.. Mau bagi zakat sendiri baik-baik saja sih.. tapi hati-hati pak haji, salah-salah bisa jadi riya’..” kata Sariman. “Tapi ya begitulah kita, mau manyantuni anak-anak yatim saja mengajak wartawan infotainment. Biar amal kita di ekspose. Biar semua tau ‘ini lho gue sudah berbuat baik’. Mau membantu yang lemah sambil membawa spanduk dan bendera parpol. Semua sudah salah kaprah, kita ngoyo untuk dinilai baik dimata orang lain.. kenapa kita tidak ngoyo menjadi baik dimata Tuhan saja.. berbuat baik kenapa harus diekspose besar-besaran jika memang ikhlas, tanpa di tayangkan di infotainment pun Tuhan melihat dan malaikan akan mencatatnya..” lanjut Sariman. Dan di Koran hari ini dikabarkan, anak pak haji Syaikhon di tangkap polisi dan di jadikan tersangka, lantaran pembagian zakat yang dia kelola menyebabkan 21 orang meninggal. Ia pun dijerat pasal 359 KUHP tentang kelalaian yang menyebabkan hilangnya nyawa orang lain dengan ancaman hukuman 5 tahun penjara. Ternyata, zakat pun bisa berbuah pidana.http://rayasmoro.co.cc[...]



(kali ini harus) Bangga Jadi Orang Indonesia (???)

2008-09-14T19:02:48.323-07:00

( Kali Ini Harus ) Bangga Jadi Orang Indonesia ( ? ) - ray asmoro - Sariman sempat berpikir, apa yang bisa kita (bangsa ini) banggakan sekarang? Sejarah telah mencatat bagaimana bangsa Indonesia pernah ‘diperhitungkan’ oleh Negara-negara dunia di era kepemimpinan Soekarno. Nasionalisme yang dibangun di bawah sistem demokrasi terpimpin saat itu cukup menjawab tantangan global. “Ini dadaku, mana dadamu...” adalah sepenggal kata-kata yang populer, yang pernah keluar dari mulut Soekarno dalam membangkitkan semangat nasionalisme. Tidak hanya urusan politik tapi urusan olahraga pun kita ‘diperhitungkan’ ketika itu. Dan gaya kepemimpinan Soekarno secara tegas menolak ‘disetir’ oleh kekuatan dan dominasi negara-negara adikuasa. Di era orde baru, tentu kita tidak boleh menafikkan prestasi swasembada beras/pangan sehingga kita menjadi salah satu ‘raja’ ekspor beras di wilayah asia tenggara. Namun demikian, pemerintahan yang dijalankan secara represif dan politik ekonomi yang disatu sisi mendorong tumbuhnya usaha kecil mikro tapi disisi lain menghalalkan konglomerasi, pengusaha-pengusaha ‘kelas teri’ harus bersaing dengan para ‘cukong’ pemilik modal, kesenjangan dan ketimpangan yang ada membuat era ini tidak sepi dari kritik, apalagi menjelang dan setelah era orde baru berakhir. Diakhir masa pemerintahan orde baru, kita diberi ‘warisan’ hutang yang nggak ketulungan besarnya. Prestasi luar biasa dampak dari ketergantungan terhadap ekonomi asing. Di era reformasi, yang disebut-sebut sebagai era harapan baru, era pembaruan, ternyata tidak lebih baik dari yang sebelum-sebelumnya dalam banyak hal. Di satu sisi kita harus bangga, misalnya bagaimana semangat juang Menkes (Siti Fadilah Supari) untuk menuntut keadilan dari WHO atas kasus virus dan vaksin flu burung, dan kita menang dalam gugatan itu (tapi sayang berita ini tidak mendapatkan porsi cukup di media masa). Kita juga tidak boleh menafikkan prestasi remaja-remaja yang beberapa kali memang dalam lomba fisika di tingkat dunia (salut dan angkat topi buat mereka). Dan masih ada beberapa prestasi yang cukup membanggakan. Di sisi lain, kita harus menerima keadaan dimana kita dimasukkan dalam daftar 10 negara terkorup di dunia, kita juga harus terima 1 medali emas saja di olimpiade padahal jumlah penduduk kita lebih dari 270 juta jiwa. Di era ini, eforia politik justru membuat benang yang sudah kusut malah semakin kusut saja. Orang-orang berebut kekuasaan. Dan kekuasaan selalu bermuara pada uang. Lalu rakyat kecil menjadi korban. Korupsi semakin mewabah. Semua menjadi ‘raja tega’. Budaya bangsa yang ‘adiluhung’ sudah dilupakan. Pulau Sipadan dan Ligitan hamper direbut Negara lain, lalu buru-buru kita teriak setengah hati “Ganyang Malaysia tapi selamatkan Siti Nurhaliza!”. Batik dan reog hendak di klaim sebagai budaya asli Malaysia, kita seolah tidak peduli. Seolah-olah sudah tidak ada lagi yang bisa kita banggakan. “Ini dadaku, mana dadamu…!!!”. Tetapi ada satu hal yang cukup membuat kita sedikit terhibur. Persoalan pembatasan musik Indonesia di Malaysia. Kasus ini sebenarnya sudah muncul sejak tahun lalu (2007) yang di suarakan oleh Persatuan Penyanyi dan Pencipta Lagu Malaysia (Papita), dan kembali mencuat akhir-akhir ini. Persatuan Karyawan Industri Musik Malaysia, menuntut pemerintah Malaysia agar mengeluarkan pembatasan penyiaran lagu-lagu Indonesia di Malaysia 90%:10%. Karena saat ini lagu-lagu dari musisi dan penyanyi Indonesia menjadi ‘raja’ di Malaysia, sehingga musisi lokal tidak atau kurang mendapatkan tempat di negerinya sendiri. Intinya bisnis musik di Malaysia di pengaruhi oleh membanjirnya lagu-la[...]



Gus Dur "Ogah" jadi presiden (?)

2008-09-07T23:40:41.091-07:00

Gus Dur “EMOH” Jadi Presiden ? (ray asmoro) Ada sebuah selorohan, katanya ada 2 hal yang tidak bisa kita duga-duga di dunia ini, dan yang tau cuma dirinya sendiri dan Tuhan. Mereka adalah Supir Bajaj dan…Gus Dur! Kita tidak bisa duga kemana bajaj akan belok, kadang ia kasih ‘sign’ ke kiri tapi beloknya ke kanan. Hanya supir bajaj dan Tuhanlah yang tahu kemana bajaj akan dibelokkan dan kapan akan berhenti. Begitu juga dengan Gus Dur. Tentu kita ingat betul bagaimana dulu PDIP ‘dipecundangi oleh’ Gus Dur. Bagaimana tidak, sebagai partai yang memperoleh suara terbanyak (98/99) PDIP tidak mampu mendudukkan ‘jago’nya sebagai presiden, dan malah ‘ujug-ujug’ Gus Dur tampil sebagai presiden melalui koalisi poros tengah (dan turun dari kursi kepresidenan juga oleh koalisi poros tengah). Kita juga tentu masih ingat bagaimana ngototnya Gus Dur dan pendukungnya untuk mencalonkan diri sebagai presiden, walalupun kemudian dinyatakan tidak lolos test kesehatan oleh KPU. Juga bagaimana sepak terjang Gus Dur di NU. Organisasi Islam terbesar di Indonesia itu seperti ‘beras den interi’ oleh Gus Dur. Demikian pula PKB. Ia bangun partai itu, (dan menurut beberapa kalangan) ia juga yang memecah partai itu. Entah apa maunya Gus Dur… banyak yang menduga Gus Dur ingin berkuasa lagi. Yang menarik adalah ketika Partai Buruh memintanya menjadi Calon Presiden 2009, beliau malah mengurungkan niatnya untuk maju menjadi capres, “Umur saya sudah 68 tahun, waktu hidup saya sudah tidak lama lagi” kata Gus Dur menanggapi pencalonannya oleh Partai Buruh (Sindo, 2 Sept 2008, hal 2). Saya sangat respek kepada Gus Dur bukan lantaran saya fanatik atau pendukungnya. Saya tidak terdaftar sebagai anggota NU ataupun PKB. Jadi respek saya pada Gus Dur tentu tidak ada kaitannya dengan dukung-mendukung atau fanatisme sempit semacamnya. Bagi saya, Indonesia ini memang butuh manusia seperti Gus Dur. Ia kadang di posisi yang rawan, tapi ia dengan keyakinan kebenarannya tetap bertahan. Ia di cap sebagai ‘dajjal’ oleh kelompok islam garis keras, tapi ia tetap menyuarakan pluralitas yang dasarnya memang sangat jelas. Ia dianggap guru tapi tindakannya kadang tak mencerminkan sebagai orang yang layak digugu dan ditiru. Maka Gus Dur adalah paradoks. Agar kita belajar mengahragai dan memaknai perbedaan. Agar kita lebih dewasa dalam melihat permasalahan. Agar kita lebih arif dalam melihat kehidupan. Agar kita tidak terjebak dalam fanitisme semu. Tapi saya jadi sangsi; pendapat saya itu salah. Bagaimana saya ndak sangsi, lha wong yang tau Gus Dur itu cuma dirinya sendiri dan Tuhan. Seperti halnya Bajaj. Kapan dia mau belok, kapan mau jalan, kapan mau berhenti, apa yang dia mau, apa yang dia perjuangkan, hanya dia dan Tuhanlah yang tahu.[...]



0 Komentar

2008-08-23T03:30:51.713-07:00

(embed)
Glitter Text @ Glitterfy.com



Berguru Pada Kecoa

2008-08-22T03:53:10.943-07:00

(Ray Asmoro) BERGURU PADA KECOA Entah ada masalah apa antara Sariman dan Kecoa. Punya hutang apa ia dengan kecoa. Yang pasti saat melihat kecoa Sariman selalu melompat dan berlari sambil teriak histeris seperti para ABG yang mendapatkan jerawat diwajahnya. Apa sih yang sariman takutkan dari seekor kecoa. Padahal sekali injak, mampuslah ia. Menurut ‘orang pintar’ Sariman memiliki fobia terhadap kecoa, dan itu bisa disembuhkan. Kembali soal kecoa. Binatang ini adalah insekta dari ordo Blattodea yang terdiri dari 4.500 spesies dalam 6 familia. Yang sering kita jumpai disini, kecoa memiliki tubuh kecil, berwarna coklat gelap. Dari penampilannya --yang bagi banyak orang dianggap menjijikkan-- binatang ini seolah tidak berguna. Lalu mengapa Tuhan menciptakannya jika tak berguna? Nah itu dia… Lha kita para manusia ini seringkali mengabaikan yang ‘kecil’. Selalu memburu hal-hal besar, padahal yang besar itu adalah kumpulan dari yang kecil-kecil. Uang 100 juta adalah kumpulan dari uang 1000 atau 100 ribuan. Melupakan yang kecil sama artinya mencederai cita-cita besar kita sendiri. Melukai rakyat kecil sama artinya menghianati cita-cita bangsa. Nah inilah yang terjadi saat ini. Korupsi merajalela dan proses pencegahannya hanya setengah hati, pengangguran terdidik sudah lebih dari 4,5 juta jumlahnya, harga BBM naik disusul kenaikana harga sembako sementara pendapatan masyarakat tidak beringsut naik, korban Lumpur Lapindo selalu berhadapan dengan tembok, bahan bakar minyak tanah di konversi ke LPG tapi gas langka, parlemen seharusnya menyuarakan kepentingan rakyat banyak eh malah ramai-ramai berkomplot memakan duit rakyat, pelanggar HAM dibiarkan bahkan dilupakan begitu saja tanpa ada proses hukum yang jelas, dan masih banyak lagi. Dan itu semua membuat ‘rakyat kecil’ terluka! Para penyelenggara Negara ini –mungkin- tidak pernah belajat pada sejarah, tidak memedulikan hal-hal kecil dan hanya terobsesi oleh hal-hal besar saja. Kemudian memperlakukan ‘orang kecil’ selayaknya kecoa, yang seolah tak berguna, tak memiliki kepentingan dan hanya layak untuk di injak-injak. Hati-hati, jika “kecoa-kecoa” ini (4,5 juta lebih pengangguran, jutaan korban keserakahan penyelenggara Negara, jutaan masyarakat yang ditelantarkan oleh sistem pemerintahan, jutaan petani dan nelayan yang selalu jadi korban, jutaan pekerja yang tak diberikan perlindungan rasa keadilan, dll) berkumpul dan bersatu dalam satu barisan perlawanan… hmmm… aku sungguh tak bisa membayangkan apa yang bakal terjadi. Tanda-tanda sudah jelas, 60% penduduk negeri ini adalah GOLPUT, lantaran tidak ada yang bisa mereka percayai. Mari kita berguru pada kecoa. Kecoa memili dua antena dan kaki-kaki dengan rabut-rambut halusnya sebagai penala getaran. Ia memiliki reaksi senso-motorik, jika merasakan getaran mampu bereaksi secara cepat hingga 15-20 milidetik atau lebih cepat dari kedipan mata. Jadi jangan heran ketika anda melihat kecoa di meja, dan anda baru mau mengambil penebah untuk mengusirnya, kecoa itu sudah hilang dari hadapan anda. Pelajaran yang bisa kita petik adalah kecoa memiliki kepekaan yang luar biasa dan mampu bereaksi dengan cepat pula. Dan ini yang ironi pada manusia. Manusia memiliki indera dan perasa yang supercanggih tapi dibiarkan tumpul oleh kemilau dunia. Mata kita tertutup oleh tirai materi dan dunia, telinga kita sibuk menyimak gosip murahan, hidung kita selalu kita ajari mengendus-endus aib orang lain, lidah kita kita ajari untuk berkata dusta dan janji-janji semu, tangan kita, sebelah kita didik untuk melempar batu, sebelahnya[...]



Ada Apa Dengan 08-08-08 ???

2008-08-07T22:37:27.795-07:00

Manusia ini kadang aneh, suka melebih-lebihkan sesuatu. Saya masih ingat ketika mau memasuki tanggal 6 bulan juni tahun 2006 (666), banyak isu dan kasak-kusuk yang berkembang akan terjadi 'sesuatu' dihari itu yang bakal menggemparkan. Karena diyakini angka 666 itu angka setan, iblis, genderuwo atau apapunlah. Tapi buktinya ya ndak terjadi apa-apa.

Angka 13, dipercaya banyak orang sebagai angka 'sial'. Karenanya tidak ada hotel yang memiliki kamar bernomor 13, atau juga tidak ada gedung yang memiliki lantai nomor 13, habis 12 menjadi 12A atau lompat jadi 15 (angka 14 juga dianggap tidak 'hoki' lantaran angka 4 bentuknya seperti kursi terbalik). Ada-ada saja manusia ini.

Ada istilah yang disebut "self fullfiling beliefs", apa yang kita percaya dan yakini akan menjadi kenyataan. Saya setuju dengan teori itu. Sebenarnya bukan angka persoalannya, tapi fokus perhatian dan pikiran kita yang dipenuhi oleh kekuatiran-kekuatiran sehingga akhirnya yang dikuatirkan menjadi nyata. Ingat apa yang terjadi bukan apa yang kita inginkan tetapi apa yang selalu menjadi fokus perhatian dan pikiran kita. Jika pikiran dan kesadaran kita dipenuhi oleh hal-hal negatif, (menurut para pakar) kita memancarkan energi negatif dan akan menarik hal-hal yang negatif pula kedalam diri kita. Ini yang disebut dengan hukum 'law of attraction' atau hukum tabur-tuai, atau hukum sebab-akibat. Dalam keyakinan saya juga dikatakan "barang siapa menanam kebaikan sebesar biji dzarah sekalipun, maka ia akan mendapat balasan yang setimpal", begitulah.

Jadi jika teman sekerja anda sirik dan jutek kepada anda, jangan buru-buru menyalahkannya, karena siapa tahu andalah yang memancarkan energi negatif. Jika tetangga anda lebih memilih belanja di warung ujung jalan daripada di warung anda, jangan buru-buru berprasangka bahwa warung ujung jalan itu punya 'dukun sakti'. Jika hubungan anda dengan sahabat atau pasangan menjadi hambar, cobalah cari tahu siapa tahu anda telah berubah dan memancarkan sesuatu yang kurang menyenangkan bagi orang lain. Dan jika dunia anda terlihat begitu buram dan gelap, merasa masa depan suram, jangan buru-buru menyalahkan dunia atau keadaan karena siapa tahu jendela hati anda yang perlu dibersihkan.

Peluang bagi kita adalah, kenapa kita tidak senantiasa memncarkan energi positif, menebarkan benih-benhih kebaikan, membumikan cinta kasih dan perdamaian, sehingga hidup kita menjadi lebih baik dan lebih bermakna. Pilihan kita, kita menyerah pada mitos angka atau kita merubah diri kita dengan sumberdaya yang kita miliki dan meniadakan batasan-batasan (block) yang justru mempersempit ruang gerak dan kemungkinan-kemungkinan positif yang akan terjadi.

Maka 888 (8 agustus 2008) ini bagi saya adalah hari baik, karena semua hari baik, sama istimewanya dengan hari-hari yang lain. Kalaupun ada yang istimewa adalah di meja saya ada setumpuk undangan pernikahan yang bertepatan dengan tanggal itu.





MERDEKA Namanya

2008-08-07T00:30:22.787-07:00

Yang Dicari Sariman, Merdeka Namanya(Ray Asmoro)Sariman pusing duabelas keliling! Sekian lama ia mencari anaknya yang hilang; Merdeka namanya. Ketika berita tentang pembunuhan berantai yang dilakukan oleh Ryan, Sariman resah, jangan-jangan Merdeka menjadi salah satu korbannya. Tapi lega hatinya, dari 14 korban Ryan, Merdeka bukan salah satunya. Merdeka belum mati. "Merdeka masih ada" begitu keyakinannya. Ia terus mencarinya. Terus mempertanyakannya, "dimanakah (ke) Merdeka (an) ?". Setelah sekian lama tak bertemu, seperti apakah wujud Merdeka sekarang?Maka mulailah Sariman melakukan perjalanan pencarian. Di jalanan ia menjumpai ratusan anak-anak muda bergerombol, berjalan beriringan, berteriak-teriak sambil membentangkan spanduk protes dan menuntut sesuatu, jalanan jadi macet. "Jangan-jangan Merdeka ada diantara mereka" pikir Sariman. Kemudian ia menyelinap ditengah-tengah anak-anak muda itu. Tapi ia harus kecewa, Merdeka tak ada disana.Malam hari Sariman bertanya kepada seseorang, "Bung tahu Merdeka?". Si Bung menjawab, "Ahaaa.. saya tahu, Merdeka itu adanya di suatu tempat..." katanya. Lalu Sariman meminta Si Bung mengantarkannya ke tempat yang dimaksud. Untuk memasuki tempat itu, ada beberapa petugas keamanan, dan harus membayar dulu beberapa puluh ribu rupiah agar diperbolehkan masuk, dan karena sudah membayar, Sariman mendapatkan 'hadiah' soft drink. Tapi begi masuk ruangan itu, gendang telinga Sariman mau pecah rasanya. Musik 'ajib-ajib' mengentak hingga ke jantung. Lampu berkilau-kilau dalam temaram. Ratusan orang menari, berjingkrak, bahkan ada yang bercumbu."Dimana Merdeka, bung?" tanya Sariman pada Si Bung."Ahaa... mereka semua merdeka. Disinilah tempat bagi orang-orang merdeka, orang-orang bebas. Tidak ada tekanan disini, stress menjadi tawar, permasalahan seketika lenyap disini, disinilah tempat yang paling merdeka. Merdeka!!! Hahaha..." begitulah kata-kata yang keluar dari mulut Si Bung dengan aroma alkohol yang menyengat. Dan Sariman buru-buru menyelinap keluar dari tempat itu.Sariman sampai di Porong Sidoarjo. Banyak warga berkeluh kesah, rumah dan tanahnya hilang tak ada penggantian, hanya janji-janji palsu yang mereka dapatkan. Ketia ia menanyakan apakah ada Merdeka diantara mereka, para warga menjawab, "Tidak ada Merdeka disini! Salah alamat kalau mencari Merdeka disini!". Di sebuah daerah ia menjumpai petani yang kecewa, saatnya panen, bulir padinya kosong, lalu mereka membabat habis tanaman padinya disawah seperti orang kesetanan. Sariman mampir sejenak dan bertanya, apakah mereka melihat Merdeka? Mereka menjawab, "Merdeka? sepertia apa rupanya? seperti apa bentuknya? Sepertinya tak ada disini. Disini yang ada lahan-lahan sawah kering, sarana irigasi rusak, padi-padi kami tak berisi, harga pupuk melambung tinggi, sementara harga gabah membuat pilu hati ini. Disini kami tidak pernah mendengar Merdeka. Dulu pernah kami dengar tapi itu sudah lama sekali, cerita kakek moyang kami. Tapi kami tidak pernah bertemu dengannya. Akhirnya kami yakin Merdeka itu hanya mitos, cerita karangan saja."Diamanakah Merdeka? jerit lirih Sariman dalam hati.Dalam perjalanan mencari Merdeka, Sariman sampai disebuah sekolah yang sepi. Sebenarnya gedung itu tak nampak sebagai sekolah, lebih pas jika disebut kandang ayam. Dindingnya dari tripleks yang sudah mengelupas dan bolong disana-sini, gentengnya sudah pecah-pecah bahkan sebaian berlubang, bentuknya sudah tidak simetris lagi, miring. Kayu-kayunya keropos dimangsa rayap-rayap. Yang membuat Sariman yakin itu sekolahan dan bukannya kandan[...]



Jika Jadi SBY....

2008-08-04T19:43:11.934-07:00

JIKA JADI SBY... (metafora berita koran pagi)Sambil menikmati kopi hitam kental pahitnya, Sariman geleng-geleng kepala membaca berita-berita di koran pagi ini. Selintas angannya melambung ke masa kecilnya yang kurang bahagia. Dulu ketika ditanya 'kalau sudah besar mau jadi apa?', ia selalu menjawab 'ingin jadi presiden', persis seperti jawaban susan 'ria ernes'.Pada masa kanak-kanak, ia membayangkan betapa enaknya menjadi presiden. Hidupnya terjamin, dihormati banyak orang, bisa pergi kemana-mana keliling indonesia dan dunia, membantu rakyatnya, menyantuni anak-anak tidak mampu, berbicara di forum internasional, tidak pernah terjebak kemacetan, kemana-mana selalu mendapat pengawalan ketat, duitnya banyak, dan seterusnya. Itulah yang ada dalam kepala Sariman kanak-kanak.Mungkin itu (kesenangan) pulalah yang membuat orang-orang berebut ingin jadi presiden. Biarpun tidak memiliki basis masa sekalipun, mereka menawarkan dirinya, mengiklankan dirinya, untuk sebuah bayangan kekuasaan dan kemegahan. Dan untuk itu mereka rela mengeluarkan biaya ratusan milyar. Tapi tidak bisa juga dikatakan 'rela', karena mereka sudah 'berhitung'. Prinsip ekonomi juga berlaku disini, siapa mau merugi? Pasti sudah ada 'hitung-hitungan' berapa lama ROI (return of investment) nya.Begitulah, dan Sariman saat ini tidak lagi berkeinginan menjadi presiden. Melihat indonesia, ia seperti melihat benang kusut, "semua semrawut, tidak ketahuan ujung-pangkalnya. semakin coba di urai, semakin bertambah kusut. Saya membayangkan betapa pusing dan stress-nya jadi presiden indonesia", kata Sariman dalam hati. Dan pagi ini koran mengatakan "keputusan menjadi taruhan popularitas presiden" (Kompas, 5 Agustus 2008, hal.1) berkaitan tentang dugaan keterlibatan 2 menteri dalam kasus korupsi.Ada dua hal yang perlu digaris bawahi yakni tentang 'keputusan' dan 'popularitas'. Seorang presiden, kepala negara, sudah selayaknya membuat keputusan-keputas taktis maupun strategis yang tentu saja keputusan itu harus dalam pilar untuk kepentingan rakyat. Artinya presiden tidak memiliki pilihan keberpihakan selain kepada rakyat. Lalu ada apa dengan 'popularitas?'. Jika 'keputusan' yang diambil hanya untuk mendongkrak popularitas, itu berarti telah terjadi pembelokan keberpihakan, karena sarat dengan muatan politis, apalagi menjelang pemilu 2009.Saya tidak tahu, apakah sebagian besar rakyat indonesia setuju presiden memberhentikan dua mentrinya yang diduga terlibat kasus korupsi, atau setuju presiden mempertahankan kedua dengan dalih yang sangat 'klise', 'azas praduga tak bersalah'. Kenyataannya Pak SBY sudah memutuskan untuk tetap mempertahankan kedua pembantunya itu. "Kepercayaan kepada Paskah dan Kaban akan dicabut dengan pemberhentian sebagai menteri jika keduanya dinyatakan bersalah oleh pengadilan" kata Presiden (Kompas, 5 Agustus 2008).Menarik apa yang dikatakan Pak Eep, bahwa presiden seharusnya bisa memilah proses birokrasi, hukum dan politik. Dari sisi birokrasi, presiden memegang hak tertinggi untuk memutuskan yang terbaik dalam kabinet dan jajarannya. Dari sisi hukum, tentu saja mempertahankan dua menteri dengan dalih 'asa praduga tak bersalah' bisa diterima dan ini sangat normatif, klise. Ketidak mampuan memilih dan bersikap tegas justru akan berpengaruh secara politis. Padahal seorang pemimpin seharusnya berani mengambil keputusan dengan cepat dan tegas (decisive). Dengan hanya berlaku normatif, bisa menjadi bumerang dan semakin meluasnya ketidakpercayaan dan tercederainya kepercayaan publik."Wah wah wah..[...]



Pintar saja tidak cukup (?)

2008-07-28T20:10:33.254-07:00

PINTAR SAJA TIDAK CUKUP (?)(metafora berita koran pagi) “Pintar saja tidak cukup bagi seorang pekerja. Saat ini pekerja juga dituntut kreatif…” ujar Pak Sofyan Djalil Menteri Negara BUMN. (Kompas, 24 Juli 2008, hal. 17) Jika pintar yang dimaksud lebih cenderung pada kemampuan akademik yang dibuktikan oleh nilai-nilai yang tertuang dalam ijasah atau transkrip nilai maka hal itu tentu lebih berhubungan dengan wilayah otak kiri. Dan jika yang di maksud kreatif adalah kemampuan seseorang dalam membuat analisa dan memunculkan opsi-opsi ataupun tesis dan atitesis dengan mengaktifkan system inderawi untuk kemudian membuat keputusan ataupun pemecahan masalah, maka hal itu tentu saja ada di wilayah kerja otak kanan. Pintar dan kreatif. Sungguh perpaduan yang sempurna. Tulisan ini tidak untuk menyanggah pernyataan Pak Menteri. Tetapi dari pernyataan itu ada beberapa ‘kegelisahan’ dalam kesadaran saya. PERTAMA, muncul sebuah pertanyaan, “apakah dalam sistem pendidikan kita, memberikan ruang yang cukup bagi kreatifitas?”. Ketika TK saya diminta menggambar pemandangan dan saya menggambar sepasang sandal jepit. Oleh Ibu Guru gambar saya tidak diakui sebagai pemandangan. Pemandangan itu harus ada gunungnya, ada jalannya, ada lautnya, ada sawahnya, ada awannya. (Saya yakin kalau orang-orang dewasa diminta menggambar pemandangan secara cepat, maka yang tergambar ya itu tadi ; gunung, ada jalan, matahari, sawah, laut, awan). Itu satu indikasi kecil dimana ruang kreatifitas tertutup didalam sistem pendidikan kita. Padahal menurut saya, pemandangan itu adalah sesuatu yang bisa kita pandang/lihat. Yang tergambar dan tervisualisasikan dalam pikiran kita. Nah, bagaimana mau kreatif kalau berpikir saja kita harus seragam? Kemudian saat SMP dan SMA (bahkan sampe PT), saya banyak menemukan pelajaran ‘menghafal’. Dan celakanya (mudah2an ini hanya saya saja), apa yang pernah saya hafalkan dulu tidak membantu saya dalam pekerjaan. Karena hidup ini bukan hafalan, hidup ini penuh dengan perubahan, banyak hal-hal baru dan pengalaman-pengalaman baru. Setiap hari di hadapkan pada situasi dan kondisi yang berbeda sehingga seringkali membutuhkan penanganan yang berbeda dan bukan hafalan. Program “link and match” yang di gagas Pak Wardiman (kalau saya tidak salah) juga entah mengapa kok tidak berhasil. KEDUA, kepintaran yang dibuktikan oleh selembar transkrip nilai, bisa menyesatkan. Saya menduga, banyak pelajar ataupun mahasiswa yang berusaha mendapatkan nilai bagus tetapi tidak benar-benar menjiwai apa yang mereka pelajari (ngomongin diri sendiri nih…hehehe). Ketika belajar manajemen pemasaran misalnya, bukannya menyiapkan diri dengan memahami betul bagaimana nanti ketika terjun didunia kerja, mampu membuat strategi-strategi pemasaran. Tetapi orientasinya hanya pada bagaimana menjawab soal-soal ujian sesuai teks book agar nilainya bagus. Belum lagi beberapa kasus jual beli nilai yang tentu kita semua sering mendengarnya. Saya tidak hendak mengatakan bahwa transkrip nilai itu tidak penting. Namun perlu dipikirkan dan ditinjau kembali sistem belajar mengajar dalam dunia pendidikan kita, serta perlu upaya-upaya cerdas untuk merubah paradigma nilai akademik sebagai satu-satunya ukuran pada pemahaman dan kesadaran yang lebih mendalam. KETIGA, ini yang mungkin tidak pernah terpikirkan oleh Pak Menteri. Setiap manusia memiliki keunikan, memiliki kecenderungan yang berbeda-beda. Bahkan ada beberapa departemen dalam peru[...]



Kecap No. 1

2008-07-22T19:43:24.540-07:00

INI KECAP NO.1 Pak Sariman namanya. Ia dikenal sebagai penjual kecap. Kecap yang ia jual bukan produksi industri besar layaknya indofood, yang ia jajakan adalah kecap-kecap hasil home industri yang tentu saja tidak pernah akan anda jumpai di supermarket. Setiap hari ia mengayuh sepedanya, dengan membawa kecap-kecapnya. Ada bermacam-macam brand kecap yang dibawanya, ada kecap cap burung belibis, kecap cab cabe rawit, kecap cap mangkok, kecap cap semar, kecap cap jigo, kecap cap jeng sri, kecap cap becak, kecap cap mobil dan sebagainya.Yang menarik adalah, semua kecap itu diberi label "NO. 1" dengan huruf besar, bahkan lebih besar dari brand name kecapnya sendiri. Bagaimana mungkin semua kecap itu NO.1 ? Itulah yang terjadi di dunia per-kecap-an. Semua mengklain sebagai yang nomor satu, sebagai yang terbaik dan paling berkualitas.Begitulah sekelumit cerita tentang per-kecap-an. Dan ternyata soal kecap-mengkecap, bukan sekedar komoditi pabrik kecap. Tetapi juga di dunia perpolitikan. KPU sudah menetapkan ada 34 kecap, eh maksud saya 34 parpol yang lolos seleksi dan berhak bertarung di pemilu 2009 nanti. Saat ini kecap-kecap itu, maaf, maksud saya parpol-parpol itu mulai menyusun strategi dan taktik untuk mengambil hati calon pemilih di pemilu 2009 nanti, sehingga eskalasi politik di negeri ini kian memanas dan seru ditengah-tengah kecenderungan semakin tingginya angka golput pada beberapa pilkada, juga di sela-sela ribut-ribut kasus korupsi yang sudah mewabah di negeri ini dari aceh hingga papua, di semua departemen, di semua lembaga baik itu eksekutif, legislatif maupun yudikatif, pun di antara krisis energi listrik yang membuat kampung kita 'byar-pet'.Percis di dunia per-kecap-an, untuk menarik simpati dan dukungan calon pemilih, mereka mulai pada ngecap. Mengklaim dirinya sebagai kecap nomor satu. Memberikan harapan yang memabukkan; pendidikan dan perawatan kesehatan gratis, membuka peluang bagi kaum muda dan perempuan, menjanjikan ketersediaan lapangan kerja, dalih memperjuangkan kesejahteraan, akan menyediakan sarana dan prasarana umum lebih banyak, membersihkan koruptor dan masih banyak lagi koar-koar politis sebagai penyedapnya.Saya sebenarnya bermaksud untuk tidak apriori terhadap kecap-kecap itu. Saya sendiri mencoba untuk tidak terburu-buru mencurigai semua label "KECAP NO.1" itu sebagai kebohongan semata. Siapa tahu dari sekian banyak kecap memang ada yang benar-benar memiliki kualitas dan citarasa nomor satu serta higienis. Tetapi faktanya, mereka yang dulu mengumbar janji dan mengklaim sebagai "KECAP NO.1" kini terbukti hampir tidak ada satupun yang bebas dari dugaan korupsi dan penyalahgunaan wewenang serta memperkaya diri sendiri dan gerombolannya saja.Tapi namanya juga kreatif dan inovatif, untuk menempelkan label "KECAP NO.1" mereka mulai membuat kecap-kecap yang aneka rasa. Ada rasa strawbery, coklat, vanila atau durian. Untuk mendukung kreasi dan inovasi baru itu banyak kecap yang memasang wajah artis di botol kecapnya. Ada gambar penyanyi dangdut yang sedang goyangkan pantatnya, sungguh sensual. Ada gambar pemain sinetron dengan dandanan ala politisi 'beneran', mengenakan stelan jas lengkap plus senyum tipis dan peci hitam yang dikenakan sedikit miring dan macam-macam gaya lainnya. (Wah wah wah... mungkin ini yang dinamakan dunia politik bagaikan panggung sandiwara, lha pemain-pemain politiknya juga para pemain sandiwara atau sinetron... Saya membayangkan bagaimana misalnya nanti sidang [...]



APES...

2008-07-02T02:07:56.384-07:00

APES (Ray Asmoro) “Bodoh lu, kok bisa ketangkap? Ditempat umum, lagi!” “Iya, gue lagi sial nih. Nggak nyangka kalau KPK ngincer gue.” “Apa lu nggak tau KPK lagi tebar ranjau dimana-mana?” “Ah, udahlah, namanya juga lagi sial!” (kompas, 2 Juli 2008, hal. 6) Lagi-lagi terungkap korupsi yang dilakukan oleh anggota DPR yang terhormat itu. Bulyan Royan, anggota DPR dari fraksi Partai Bintang Reformasi telah ditetapkan sebagai tersangka. Saya jadi ingat ketika beberapa waktu lalu ada anggota DPR yang berniat menggugat Slank karena lagu yang sarat kritik lantaran Slank memotret realita dan menuangkannya lewat syair yang jujur dan lugas. Namun kemudian rencana gugatan itu urang dilakukan. Beberapa jam setelah rencana gugatan itu, seorang anggota dewan yang terhormat, tertangkap tangan atas kasus dugaan korupsi. Edan!!! Lebih naïf lagi, Survey Transperency Indonesia menunjukkan, masyarakat menilai DPR sebagai salah satu lembaga terkorup. Lagi-lagi hasil survey ini dipertanyakan validitasnya, karena memang sulit untuk dibuktikan. Tapi dengan adanya beberapa kasus dugaan korupsi yang dilakukan oleh anggota dewan, masyarakat tentu semakin yakin bahwa di lembaga itu memang gudangnya korupsi. Maka dialog imajiner diatas, yang ditulis oleh Pak Rocky Gerung, sangat masuk akal dan bisa jadi begitulah realitasnya. “Sial” dalam dialog diatas menunjukkan bahwa kegiatan tersebut sebenarnya adalah hal yang lumrah dilakukan. Seperti ketika pengendara motor terjatuh, tidak ada yang menyerempet, tidak juga sedang mengantuk, kecepatan juga tidak lebih dari 40 km perjam, hanya melewati lubang jalan yang tidak juga dalam, terpeleset jatuh hingga patah kaki. Padahal ia sudah biasa mengendarai motor setiap hari sejak 15 tahun lamanya, dan selama berkendaraan 15 tahun tidak pernah celaka sama sekali. “Ya, namanya juga lagi apes…” Atau misalnya, ada kawan saya di kampung yang bernama Sariman. Dikampung, dia dikenal paling lihai dalam memanjat pohon kelapa. Tetangga-tetangga sering minta tolong Sariman untuk memetikkan buah kelapa. Dia memanjat selihai bajing (tupai). Tapi ka nada pepatah, selihai-lihainya tupai meloncat, akhirnya jatuh juga. Apes, namanya. Begitu juga dengan Sariman. Pada suatu hari ia diminta tetangga untuk memetik beberapa buah kelapa, belum sampai diatas Sariman tergelincir dan jatuh, gubraaakkk!!! “Ya, namanya juga lagi apes…” Maka kata “sial” yang searti dengan kata, naas, apes, bahwa sebenarnya sesuatu tindakan itu sebenarnya sudah biasa dan lumrah dilakukan tetapi karena alam semesta sedang tidak mendukung sehingga mengakibatkan peristiwa yang diluar kendali kita. Dan kejadian “apes” yang menimpa anggota dewan atas kasus korupsi diatas apakah benar-benar indikasi bahwa perbuatan korupsi memang hal lumrah di lembaga terhormat itu? How do you think…?[...]