Subscribe: Esai Epistoholica
http://esaiei.blogspot.com/feeds/posts/default
Added By: Feedage Forager Feedage Grade B rated
Language: Malay
Tags:
dalam  dari  dengan  epistoholik  ini  itu  kita  media  mereka  saya  sebagai  surat pembaca  surat  tidak  untuk  yang 
Rate this Feed
Rate this feedRate this feedRate this feedRate this feedRate this feed
Rate this feed 1 starRate this feed 2 starRate this feed 3 starRate this feed 4 starRate this feed 5 star

Comments (0)

Feed Details and Statistics Feed Statistics
Preview: Esai Epistoholica

Esai Epistoholica



Blog Bambang Haryanto Sebagai Pendiri Komunitas Epistoholik Indonesia Yang Tercatat Dalam Museum Rekor Indonesia (MURI). Pemenang Mandom Resolution Award 2004.



Updated: 2017-05-14T00:38:31.691-07:00

 



Bila Ranomi Kromowidjojo Atlet Indonesia

2012-12-31T04:08:23.050-08:00

Oleh : Bambang HaryantoEsai Epistoholica No. 121/Agustus 2012Email : epistopress (at) gmail.comHome : Epistoholik IndonesiaGadis emas Jawa. Ranomi Kromowidjojo (foto), perenang Belanda berdarah Jawa,  memenangi emas Olimpiade London 2012 pada dua nomor bergengsi. Nomor 100 m dan 50 m gaya bebas perseorangan putri. Ketika atlet-atlet kita diperkirakan gagal memperoleh emas di ajang akbar tersebut, sempat muncul khayalan: apabila Ranomi itu atlet yang digembleng di Indonesia, apakah dirinya akan memperoleh emas pula?Kita bisa menengok apa yang terjadi di Olimpiade Los Angeles 1984. Saat itu, mengapa Brasil hanya mampu meraih satu medali emas dari Ricardo Prado, sementara Amerika Serikat berpesta memborong 30 medali emas dari ajang yang sama, yaitu kolam renang?  Padahal keduanya  sama-sama negara besar di benua Amerika.Untuk mencari jawaban atas pertanyaan  ini, kita dapat menyimak tesis  profesor psikologi dari California State Universty di Fresno, Robert Levine, tentang apa yang disebut sebagai waktu sosial, denyut jantung masyarakat dalam memaknai waktu.Benturan budaya. Secara matematis manusia hidup dalam hitungan waktu yang sama, 24 jam sehari, tetapi tidak semua budaya di dunia memaknainya secara sama. Levine  yang seorang Amerika, merasakan benturan budaya akibat beda pemaknaan  waktu ketika mengajar di sebuah universitas di Brasil. Juga ketika melakukan kajian lanjutannya ke berbagai  kawasan di dunia, termasuk di Jakarta dan Solo.Hari pertama Levine di Brasil  dijadwalkan mengajar pukul 10.00 waktu setempat.  Ia datang pukul 09.05, lalu berkeliling untuk mengenal kampus itu. Ia pikir  dirinya baru berkeliling sekitar setengah jam tetapi langsung  panik ketika melihat jam di salah satu gedung kampus   menunjuk waktu pukul 10.20.Ia bergegas masuk ruang kuliah, ternyata  tak ada satu pun mahasiswa. Ia tanya jam pada  mahasiswa yang lewat, dijawab pukul 09.55. Lainnya menjawab, tepat pukul 09.43.  Sebuah jam di gedung itu menunjuk waktu pukul 09.15. Ia berpendapat, jam-jam penunjuk waktu yang ada tidak akurat tetapi tak ada orang yang hirau.Ketika kuliah dimulai, banyak mahasiswa yang telat masuk ruang. Beberapa baru masuk pukul 10.30 dan mendekati pukul 11.00. Semuanya tampak merasa tidak bersalah, tersenyum dan mengucap ”halo”, dan mahasiswa lainnya pun tampak tak terganggu.Dalam risetnya,  mahasiswa Brasil menyatakan seseorang datang terlambat bila ia muncul rata-rata 33 menit  melewati janji, sementara mahasiswa Amerika Serikat menyebut 19 menit. Setelah beberapa lama tinggal di Brasil,  ia baru terbuka matanya bahwa budaya yang mempengaruhi pemaknaan  waktu sosial itu.Terungkap pendapat di kalangan  mahasiswa Brasil bahwa seseorang yang secara konsisten terlambat itu lebih sukses dibanding mereka yang konsisten datang lebih awal. Mereka menyetujui pendapat umum bahwa seseorang yang berstatus tinggi harus datang terlambat. Ketidaktepatan waktu  merupakan  simbol sukses. Melihat fenomena Brasil ini, kita bangsa Indonesia seperti memperoleh cermin.Meriset wong Solo. Lebih menarik  ceritanya  ketika Levine bersama kolega kampusnya, Kathy Bartlett, melakukan riset untuk memperkaya pemahaman tentang konsep waktu sosial berbagai bangsa.  Mereka melakukan pengukuran waktu terhadap irama hidup  di  kota besar dan kota menengah di berbagai belahan dunia.Di antaranya di Jepang (Tokyo dan Sendai), Taiwan (Taipei dan Tainan), Indonesia (Jakarta dan Solo), Italia (Roma dan Florence) dan Amerika Serikat (New York dan Rochester). Riset itu mengkaji tiga indikasi dasar: akurasi jam pada kantor bank, kecepatan pejalan kaki dan kecepatan pegawai kantor pos melayani pembelian perangko.Akurasi waktu terbaik diraih Jepang. Alat penunjuk waktu di 15  kantor bank yang dicek dengan waktu kantor telepon setempat hanya berselisih kurang atau lebih setengah menit. Di Indonesia, yang menempati peringkat paling buncit dari keenam negara itu,   selisih beda waktunya lebih da[...]



Tujuh Tahun Deklarasi Epistoholik Indonesia : 27 Januari 2012

2012-01-26T17:45:02.641-08:00

Oleh : Bambang HaryantoEmail : epistopress (at) gmail.comDeklarasi Epistoholik Indonesia Di MURI 2005: Presentasi Bambang Haryanto di Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai pencetus komunitas Epistoholik Indonesia. Sekaligus pada hari ulang tahun ke-15 MURI tersebut, 27 Januari 2005, warga Epistoholik Indonesia memproklamasikan tanggal yang sama sebagai Hari Epistoholik Nasional.Nampak dalam foto (ki-ka) : Suprayitno, Joko Suprayoga (keduanya warga EI), Paulus Pangka (Manajer MURI), Ismunandar SC (Warga EI), Bambang Haryanto dan Jaya Suprana, pendiri MURI. Pendiri MURI dalam kesempatan tersebut berkata, "gagasan (komunitas kaum epistoholik) merupakan ide terbaik yang masuk MURI tahun ini !" (Foto : Ayu Permata Pekerti/Republik Aeng-Aeng, Solo).Visi Dan Misi Epistoholik Indonesia.Epistoholik Indonesia (EI) digagas sebagai komunitas dan wahana jaringan antarpenulis surat-surat pembaca se-Indonesia. Melalui wahana ini antarpenulis surat pembaca dapat saling mengenal, kemudian dalam semangat asah-asih-asuh saling menyemangati sesamanya untuk menghasilkan karya surat-surat pembaca yang kritis dan bermanfaat bagi masyarakat.Empat Impian “Memindahkan” Himalaya Melalui Surat Pembaca. Ada 4 (empat) impian yang tergantung di bintang-bintang cakrawala komunitas Epistoholik Indonesia.Pertama, menjadikan komunitas EI ini sebagai salah satu pilar kehidupan berdemokrasi. Setelah terbungkam selama 32 tahun, kini saatnya rakyat harus berbicara. Lantang. Menyuarakan aspirasi sampai protes. Komunitas kami selalu mendorong warganya untuk cerewet, dengan menulis dan menulis, sehingga atmosfir demokrasi selalu gaduh dan riuh. Seperti kata James Buchanan, “saya suka gaduhnya demokrasi”, itulah pula cita-cita kami.Dalam berinteraksi dengan media cetak, di tengah revolusi dunia digital yang terjadi, kami sedang berusaha mencari peran yang lebih progresif untuk menyuarakan aspirasi pembaca. Kalau selama ini media internet, radio dan televisi relatif menempatkann audiens sebagai isi secara lebih signifikan, hal itu belum banyak terjadi dalam media cetak. Mengingat media cetak selama ini terlalu journalist-centered, berpendekatan top-down, kini kami sedang mengetuk-etuk pintu mereka. Seru kami, “libatkan kami, jadikan kami sebagai sumber diskusi koran Anda, karena itu bermakna bagi masyarakat kami !”, sesuai tesis dari Dan Gillmor, pelopor citizen journalism yang kini marak di Amerika Serikat.Niatan kami tersebut seiring pernyataan Gregory P. Gerdy, pakar Internet dari Dow Jones, dalam buku suntingan Mary J. Cronin (ed.), The Internet Strategy Handbook : Lessons from the New Frontier of Business (Harvard Business School Press, 1996), yang menegaskan bahwa Internet telah merombak proses penerbitan yang selama ini ada.Dalam penerbitan cetak tradisional, aktivitas penciptaan informasi, produksi, distribusi dan konsumsi informasi, terjadi secara terpisah-pisah. Tetapi di Internet, semua proses itu terintegrasi dalam satu sistem. Terutama harus didaulatnya informasi dari para konsumennya sebagai bagian integral isi situs itu sendiri.Perubahan konteks maha vital tersebut yang ingin kami eksploitasi, guna mampu menempatkan pembaca sebagai bagian integral isi (content) media bersangkutan. Bila tidak, maka pastilah koran bersangkutan bakal terancam ditinggalkan !Sinergi antara peran kaum epistoholik dengan media-media baru berbasis digital berpeluang merombak eksistensi isi media secara revolusioner. Kita tahu, orang-orang yang belum mempunyai mindset dunia digital pasti berpikir bahwa iklan atau berita di media berbasis atom, alias kertas, merupakan terminal akhir suatu informasi. Padahal, agar pesan informasi tersebut makin komprehensif dan tidak bias, pemuatan itu hanyalah awal.Lanjutannya adalah percakapan, interaksi langsung, antara pencetus dengan konsumen informasi. Disinilah dunia digital kemudian tampil mengambil peran vital. “Markets are conversations”, begitu kredo Rick Levine, Christopher Locke , Doc Searls dan David Weinberger dalam Cluetrain Manifesto : The End of Business as Usual (1999), manifesto b[...]



Hari Guru, Mas Triyas dan Menulis Buku

2011-11-25T02:56:00.637-08:00

Oleh : Bambang Haryanto
Esai Epistoholica No. 120/November 2011
Email : epistopress (at) gmail.com
Home : Epistoholik Indonesia



(image) Kebetulan yang menarik.

Menyertai Mayor Haristanto ke SMP Negeri 10 Solo (23/11) yang menjadi lokasi monumen cikal bakal penetapan Hari Guru 25 November, saya ketemu rekan yang juga seorang guru.

FX Triyas Hadi Prihantoro.

Mas Triyas adalah seorang guru dengan kualitas langka. Ia seorang penulis kolom bersubyek pendidikan dan kebudayaan. Koran semacam Solopos, Joglo Semar, Suara Merdeka dan bahkan koran nasional Kompas, sering memajang buah pikir pria tampan dan santun asli Ambarawa ini.

Saya pertama mengenalnya sebagai sesama penulis surat pembaca, sesama pegiat komunitas penulis surat pembaca, Epistoholik Indonesia.

Tetapi kota Solo juga mengenalnya sebagai pembicara dan aktivis kebudayaan.

Siang itu ia sedang mengantar muridnya dari SMA St Yosef Solo untuk berlomba menyanyi di aula sekolah itu. Kepadanya kemudian saya berikan buku saya, Komedikus Erektus, dengan harapan agar ia http://www.blogger.com/img/blank.gifjuga tergiur untuk menulis buku.

Bila saya sedang jalan-jalan ke toko buku, seperti di Toko Buku Gunung Agung Jakarta (21/10/2011) yang lalu, saya sering usil mengirim sms kepadanya. Isinya gelitikan bahwa dirinya pantas dan mampu untuk menulis buku.http://www.blogger.com/img/blank.gif

Saya yakin, harapan saya itu akan kesampaian.
Harapan yang sama kini juga saya tujukan kepada bapak dan ibu guru yang hari ini sedang memperingati Hari Guru. Terutama beliau-beliau yang sudah pensiun.

Karena seperti kata begawan digital dari MIT, Nicholas Negroponte, bahwa kaum pensiunan merupakan harta karun kearifan dan pengetahuan dunia yang selama ini terus terbengkalai dan terabaikan !


Wonogiri, 25/11/2011



Stay Hungry, Stay Foolish : Warga Epistoholik Mengenang Steve Jobs

2011-10-06T20:00:18.917-07:00

Oleh : Bambang HaryantoEsai Epistoholica No. 119/Oktober 2011Email : epistopress (at) gmail.comHome : Epistoholik IndonesiaSupir truk,Walter Raleigh dan Steve Jobs.Mereka memiliki bahasa dan aksi yang berbeda tentang cinta sejati.Walter Raleigh (1552-1618), penjelajah dan kerabat Istana Inggris, mengatakan bahwa "true love is a durable fire, in the mind ever burning, never sick, never old, never dead". Cinta sejati adalah api abadi, selalu membara di hati, tanpa pernah sakit, uzur, atau pun mati.Supir truk memasang slogan di bak truknya : "Aku tunggu jandamu."Steve Jobs, pendiri perusahaan Apple Corporation., dengan aksi. "Apple adalah kekasih tercinta Jobs ketika kuliah dan kini mereka bertemu kembali dalam pesta reuni setelah 20 tahun berpisah. Steve Jobs kini telah menikah, mempunyai anak dan hidupnya bahagia.Ketika bertemu kembali dengan kekasihnya itu, ia lihat gadisnya telah kecanduan berat alkohol, dikelilingi konco-konco yang begundal dan preman serta menghancurkan hidupnya sendiri. Walau pun demikian, nurani Jobs menilai mantan kekasihnya itu adalah seorang gadis cantik yang pernah membuainya dengan kalimat bahwa dialah satu-satunya cintanya di dunia.Lalu apa yang Jobs kerjakan ? Tentu saja ia tak ingin menikahinya. Tetapi dirinya tidak bisa lepas tangan begitu saja karena ia masih menyayanginya. Maka ia ajak kekasihnya itu ke panti rehabilitasi korban alkohol, membantunya untuk bergaul dengan teman-teman baru yang yang lebih baik, dan mengharap yang terbaik bagi masa depannya."Demikianlah pelukisan dengan kias yang romantis dari Larry Ellison, CEO Oracle dan sahabat karib Jobs, mengenai hubungan emosional antara Jobs dengan Apple. Cerita itu terdapat dalam artikel "Geger Kisah Cinta Ulang Apple dan Jobs" yang dimuat di harian Media Indonesia, 11 September 1997 : 12. Dari struk kwitansi honorarium tulisan yang ditandatangani redaktur bidang Wicaksono ("di dunia blogger Indonesia kini ia lebih dikenal sebagai nDoro Kakung”, saya memperoleh honor Rp. 166.700,00. Dipotong pajak 10 persen, Rp. 16.700,00. Honor bersih : Rp. 150.000,00. Setelah sempat ditendang selama 12 tahun dari kursi direksi Apple, kisah cinta ulang Steve Paul Jobs dan Apple yang diteguhkan kembali di pentas MacWorld di Boston 6 Agustus 1997, akhir ceritanya ibarat dalam dongeng semata. Apple yang didirikan oleh putra mahasiswa asal Syria yang kemudian menjadi ilmuwan politik, Abdulfattah Jandali dan Joanne Carole Schieble, tetapi diadopsi dan diasuh keluarga Paul dan Clara Jobs di Mountain View, California, kini tersohor menghasilkan produk-produk yang inovatif. Dunia pun kemudian mengenal iTunes, iPods, iPhones, MacBook Air dan lain sebagainya. Menurut koran Inggris, The Guardian, di bawah komando Jobs yang masa mudanya pernah memadu cinta dengan penyanyi ballada Joan Baez itu, pada tahun 2000 Apple bernilai 5 milyar dollar dan kini senilai 170 milyar dollar.Artikel ini saya tulis 7 November 2010 dengan judul Like waking up, like coming home. Hampir genap setahun, sore tadi (6/10/2011) saya memperoleh kabar dari televisi, bahwa Steve Jobs telah meninggal dunia.Kabar itu sungguh menyedihkan, walau pun saya belum pernah memiliki komputer iMac, perangkat musik iPod, telepon canggih iPhone atau pun sabak elektronik iPad. Saya hanya mampu menghimpun beberapa pendapat dan kisah penggal-penggal kisah hidupnya. Sejak 1995 hingga kini.Termasuk di bulan Agustus 2011 yang lalu tokoh penggerak revolusi mesin, Wael Ghonim melalui akun Twitternya berbagi informasi mengenai pidato Steve Jobs di saat dies natalis ke 114 dari Universitas Stanford, 12 Juni, 2005.Steve Jobs membagi topik hidupnya dalam tiga subjek. “ The first story is about connecting the dots. My second story is about love and loss. My third story is about death.Untuk topik yang terakhir ini, ia bilang bahwa ketika di umur 17 tahun ia mendapati sebuah kata mutiara : “Apabila Anda menjalani hidup Anda setiap hari seperti hari itu merupakan hari terakhir hidup Anda, suatu saat hidup Anda pasti berada[...]



Ketika Dipelonco di Dapur Solopos

2012-02-25T19:38:38.149-08:00

Oleh : Bambang HaryantoEsai Epistoholica No. 118/September 2011Email : epistopress (at) gmail.comHome : Epistoholik IndonesiaPemimpin redaksi dan redaksi pelaksana koran lokal berboncengan sepeda menuju pulang. Menjelang dini hari. Mereka baru saja dari percetakan. Tiba-tiba keduanya melihat bendera merah berkibar di tepi jalan. Tanda adanya kesripahan. Keduanya saling memandang, lalu seperti bersepakat menggumam : “Semoga bukan pelanggan koran kita.”Hari ini, bila seorang pemimpin redaksi melihat bendera yang sama, mungkin reaksinya berbeda. Ia menelpon wartawan yang paling dekat dengan lokasi untuk mencari tahu siapa yang meninggal. Bila seorang tokoh, segera dilakukan liputan. Bagian iklan segera menyusul. Misalnya, menawarkan kapling iklan ucapan ikut berduka cita untuk perusahaan tempat almarhum bekerja.Kedua cerita itu fiksi semata. Sekadar menggambarkan potret media kecil di masa lalu vs media besar di masa kini yang sudah menjadi entitas bisnis. Bahkan dalam skala global, seperti skandal tabloidnya taipan media Rupert Murdoch akhir-akhir ini, konglomerasi medianya diduga ikut mencampuri dan memaksakan perubahan kekuasaan politik sesuatu negara.Yang tidak berubah, sebelum era Internet tiba, kehidupan koran bersendi kepada interaksi tiga komponen dalam media triangle, segitiga media. Di puncak segitiga adalah surat kabar. Kemudian pada dua sudut yang berada di dasar mewakili pembaca dan pengiklan. Surat kabar menyajikan berita, hiburan dan informasi bermanfaat lainnya untuk menarik pembaca. Adanya himpunan pembaca tersebut kemudian menarik para pemasang iklan untuk memajang pesan komersialnya di koran, yang ditujukan kepada pembaca yang sekaligus calon konsumen mereka.Akhir-akhir ini mencuat kekuatiran bahwa demi mendewakan interes bisnis, koran dan pengiklan bersekongkol menginfiltrasi ranah suci kiprah para wartawan, yaitu berita, untuk disusupi iklan-iklan terselubung. Memang ada benarnya Thomas Jefferson (1743–1826), presiden Amerika Serikat ketiga, bilang bahwa iklan merupakan isi koran yang paling menyajikan kebenaran. Tetapi praksis mencampur aduk berita dengan pesan komersial hanya membuahkan bencana bagi koran sebagai entitas bisnis kepercayaan. Pakar pemasaran digital Seth Godin dalam Unleashing The IdeaVirus (2001) wanti-wanti : “Setiap kali tukang bersin-bersin (pembawa pesan) menerima suap agar mau menularkan virus (informasi), maka kekuatannya jadi menurun.” Boleh jadi dalam konteks untuk ikut mengamati fenomena dan kekuatiran seperti tergambar di atas, saya ketiban sampur dari harian ini. Saya diundang untuk melongoki dapur koran berpengaruh di kawasan Solo ini dengan mengikuti rapat redaksi (13/9) yang lalu. Sebuah pengalaman baru.Robert Kiyosaki pernah bilang, bila ingin mempelajari sesuatu akrabilah dulu istilah-istilahnya. Itu yang tidak saya lakukan. Sehingga berada di antara 25 wartawan Solopos, presentasi dan diskusi hangat antarmereka saat menyiapkan materi terbitan esok hari, langsung membuat saya seperti terkena punch drunk, mabuk akibat pukulan. “Bingung dan pusing,” aku saya yang memperoleh gelak dari mereka. Saya seperti reporter yunior ikut perpeloncoan.Syukurlah, begitu rapat berjalan, wawasan saya terbimbing untuk membuahkan pemahaman lebih mendalam. Betapa mekanisme kerja koran ini sudah mapan. Rasa saling percaya antarwartawan terjaga. Misi mereka sepakat : menyajikan informasi berguna bagi pembaca. Materi paling hangat saat itu adalah bencana kekeringan yang terjadi (rutin) di tempat saya berasal, Wonogiri, yang kemudian diintegrasikan dengan bencana serupa dari daerah lainnya. Ketika gabungan berita itu tersaji dan dilengkapi info grafis, pembaca diajak melihat persoalan itu secara lebih integral. Pemimpin Redaksi Y. Bayu Widagdo dan Wakil Pemimpin Redaksi Suwarmin, hadir sebagai suh, pengikat, tetapi prakarsa lebih banyak diambil redaktur masing-masing bidang. Hanya ketika mengevaluasi terbitan sebelumnya (12/9), ia memberikan pengayaan agar berita[...]



Ritus Reuni di Era Digital

2011-09-04T19:30:52.900-07:00

Oleh : Bambang Haryanto Esai Epistoholica No. 117/September 2011 Email : epistopress (at) gmail.com Home : Epistoholik Indonesia Setiap orang memiliki kecenderungan narsistik. Mengagumi dan mencintai dirinya sendiri. Apalagi di era Internet ini di mana setiap orang bebas untuk mengekspresikan diri mereka di hadapan dunia. Hasil kajian terhadap pemanfaatan mesin pencari Google di Internet menunjukkan hal menarik tersebut. John Battelle dalam bukunya The Search: How Google and Its Rivals Rewrote the Rules of Business and Transformed Our Culture (2006) mengungkap data dari jajak pendapat Harris (2004) hampir 40 persen adalah pencarian yang berbau narsis, dengan mengetikkan nama kita sendiri di mesin pencari. Tujuannya sederhana, ingin mengetahui apakah nama kita masuk sebagai salah satu “koleksi” khasanah informasi dunia. Tetapi wartawan dan salah satu pendiri majalah gaya hidup digital Wired justru yakin bahwa pencarian berbau narsis itu mencapai porsi yang lebih tinggi. Disusul pencarian informasi tentang mantan kekasih, teman lama dan kerabat keluarga. Di luar dunia maya, momen dan suasana Idul Fitri yang baru kita lalui itu kiranya semakin menegaskan hasil kajian John Battelle di atas. Ritus mudik lebaran untuk mempertemukan dan menautkan kembali ikatan keluarga, yang selama ini hidup mereka terpencar-pencar secara geografis, selalu saja menjadi pangilan jiwa yang sulit dielakkan ketika momen mulia itu menyapa kita. Selain keinginan bertemu keluarga dan handai taulan, kalau Anda rajin menyimak isi kolom surat-surat pembaca, spanduk di jalanan, milis sampai status di Facebook, pasti mudah kita temui informasi tentang penyelenggaraan reuni lulusan sekolah tertentu yang mengambil momen di hari Lebaran. Mereka yang sudah berpisah selama puluhan tahun, membuat impuls-impuls nurani untuk bisa kembali merasakan atmosfir dan interaksi di masa lalu, adalah hal manusiawi yang bisa kita fahami. Dan hal itu menyehatkan jiwa. Bahkan dari reuni para lulusan tersebut seringkali muncul aksi-aksi positif. Seperti penghimpunan dana untuk membantu pembangunan mantan sekolahnya, pemberian cendera mata sampai santunan kepada mantan-mantan guru mereka. Namun sejauh ini, para alumni itu nampak masih berkutat untuk tenggelam berasyik-asyik semata dalam “pulau-pulau kenangan” masa lalu mereka. Kegiatan rekreatif dan bahkan cenderung miopia. Angkatan tahun sekian hanya tahu dan peduli terhadap teman seangkatannya saja. Bahkan terlibat “bentrok” ketika hendak memakai fasilitas, misalnya aula sekolah, yang pada saat yang sama juga diinginkan untuk dipakai oleh angkatan lainnya. Belum lagi betapa para alumni itu seringkali terputus hubungannya sama sekali dengan adik-adik mereka yang kini menjadi anak didik di sekolah yang sama. Juga tidak banyak sekolah yang sengaja mendokumentasikan prestasi anak didiknya yang terdahulu untuk bisa diangkat menjadi inspirasi atau sumber motivasi bagi anak didik mereka sekarang ini. Ritual reuni para lulusan sampai aksi-aksi pemberian karitatif/berderma mereka, kini saatnya dikembangkan secara lebih kreatif dan inovatif. Utamanya, terkait dengan wacara pendidikan di era digital, yaitu pendidikan kolaboratif. Mazhab itu merujuk betapa pendidikan di era Internet dewasa ini tak bisa lagi hanya mengandalkan tutur dan kapur (talk and chalk) di kelas semata. Anak didik kini juga harus tersambung dengan anak didik lainnya, bahkan di seberang benua, dalam proses belajar mereka. Mereka harus mampu pula tersambung dengan para kakak-kakak kelas mereka. Walau mereka dipisahkan oleh geografis sampai perbedaan usia, tetapi Internet mampu menjadi pengikat mereka dengan ragam materi interaksi yang mampu dikembangkan sejauh imajinasi kita. Tokoh visioner dan “nabi” media digital dari Media Lab Massachusetts Institute of Technology (MIT), Nicholas Negroponte dalam bukunya Being Digital (1995), menyebutkan kini terdapat jutaan sumber daya kearifan dan int[...]



Sri Mulyani Indrawati Harus Menyeberang Jurang

2012-08-25T16:39:15.065-07:00

Oleh : Bambang Haryanto Esai Epistoholica No. 116/Agustus 2011 Email : epistopress (at) gmail.com Home : Epistoholik Indonesia Tanggal 14 Agustus 1998, Sri Mulyani Indrawati hadir di Solo sebagai pembicara utama dalam seminar ekonomi. Solo saat itu mencoba bangkit setelah huru-hara Mei 1998. Seminar ekonomi yang diadakan oleh Forum Bisnis Surakarta (Forbis) itu juga didukung oleh PPK Bimo International, perusahaan mebel kayu milik pengusaha Jokowi, kini walikota Surakarta. Ada momen yang menarik saat Jaya Suprana, sebagai moderator, memberikan pengantar diskusi yang berbau “nujum.” Ia katakan saat itu bahwa sosok Sri Mulyani Indrawati merupakan kandidat presiden Republik Indonesia masa depan. Tiga belas tahun kemudian, rupanya “nujum” Mas Jaya itu terbukti. Minimal lanskap dunia politik Indonesia kini diramaikan dengan hadirnya partai baru, Partai SRI (Serikat Rakyat Independen) yang berproklamasi mengusung mantan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (SMI) terjun dalam kontes perebutan kursi RI-1 dalam Pilpres 2014 mendatang. Elitis. Kehadiran Partai SRI dan misinya itu yang oleh koran Solopos ini diangkat sebagai “isu yang seksi,” jelas kemudian tidak sepi dari komentar. Yang menonjol adalah pendapat mengenai betapa beratnya perjuangan SMI untuk memenangi Pemilu 2014. Pendapat itu untuk menggarisbawahi realitas bahwa sosok SMI sulit dijual di kalangan bawah yang mayoritas pemilih. Dosen Komunikasi Politik UIN Jakarta, Gun Gun Heryanto, seperti dikutip Kompas (8/8/2011) menegaskan figur SMI sebagai basis kekuatan utama SMI bersifat elitis, hanya dikenal di kalangan kelas menengah ke atas. Terutama kalangan terdidik seperti kaum intelektual, akademisi, mahasiswa dan aktivis LSM. Merujuk analogi dari tesis konsultan pemasaran teknologi dari Lembah Silikon, Geoffrey A. Moore, kita dapat memperoleh gambaran yang menarik. Dalam buku terkenalnya, Crossing The Chasm : Marketing and Selling Technology Products to Mainstream Customers (1999), ia menggambarkan perilaku publik dalam mengonsumsi teknologi dalam bentuk kurva bel atau genta. Pada sisi ekstrim kiri kurva, dikenal sedikit golongan yang ia sebut sebagai kelompok orang-orang yang memicu sebuah tren. Dalam kelompok ini tergabung para inovator dan pemakai awal (I-PA, innovators dan early adopters). Mereka adalah orang yang memiliki visi, mau membeli teknologi terbaru sebelum teknologi itu cukup sempurna, atau ketika harganya masih mahal. Kelompok elit ini bersedia menanggung resiko. Orang-orang jenis ini memang kecanduan teknologi baru dan mau beresiko mengeluarkan uang untuk memiliki gadget teknologi informasi garda depan. Pada sisi kurva ekstrim kanan, adalah kelompok terbelakang laggards) sebagai konsumen teknologi yang juga sedikit jumlahnya. Sementara itu kue paling besar adalah konsumen yang berada di tengah kurva genta, yang disebut sebagai mayoritas awal (MA, early majority) dan mayoritas terlambat (MT, late majority). Kelompok ini dia gambarkan sebagai mereka yang kuatir terhadap sesuatu perubahan yang mereka nilai akan merusak keseimbangan dalam tatanan kompleks yang sudah mapan dalam hidup mereka. Moore menjelaskan bahwa perilaku kelompok inovator dan pemakai awal (I-PA) pada satu sisi dan kelompok mayoritas awal (MA) di sisi sebelah kanannya, walau berdekatan, tetapi sebenarnya saling tidak bersesesuaian. Akibatnya inovasi tidak berpindah begitu saja dari kelompok I-PA ke kelompok MA, karena di antara kedua kubu itu terdapat jurang (chasm) yang cukup lebar antara keduanya. Apabila ada sebuah produk teknologi tinggi tidak berhasil menyebar keluar dari kelompok I-PA, hal itu terjadi karena perusahaan pembuatnya tidak menemukan cara untuk mengubah gagasan yang mudah diterima oleh I-PA untuk menjadi gagasan lain yang mudah diterima oleh anggota MA. Media sosial. Sri Mulyani Indrawati yang kiranya dapat kita ibaratkan sebagai produk yang diterima oleh kelompok I-[...]



Akrobat Anda Di Sirkus Bernama Facebook

2011-07-26T06:13:03.942-07:00

Oleh : Bambang HaryantoEsai Epistoholica No. 115/Juli 2011Email : epistopress (at) gmail.comHome : Epistoholik IndonesiaRapat kampung. Internet mungkin dapat diibaratkan sebagai arena pasar malam maha akbar. Semua orang, beragam bangsa, jenis kelamin sampai beragam usia, tumplek bleg menjadi satu dalam kemeriahan dunia maya yang mendunia.Di pasar malam itu tersaji beragam stan. Situs Facebook kalau boleh saya umpamakan, merupakan stan sirkus. Arenanya tertutup dan pemilik akun adalah penjaga pintu masuknya. Seseorang yang diakui sebagai teman, dirinya ibarat memperoleh tiket untuk memasuki arena sirkus bersangkutan.Siapa yang bermain di dalam tenda atau stan sirkus tersebut ? Di sana memang tidak ada gajah, macan, simpanse, juga tak ada badut-badut atau tukang sulap yang beraksi di dalamnya. Yang beraksi sebagai mereka adalah kita-kita semua ini. Karena dengan tampil di Facebook, idealnya kita selalu berikhtiar mampu menjamu atau menghibur teman-teman dunia maya kita dalam akun kita tersebut.Ada tamsil lain bahwa Facebook sebagai media sosial senantiasa mensyaratkan agar kita berperangai seperti mengikuti rapat kampung. Kita keluar dari rumah dan dalam rapat kampung tersebut kita menfokuskan diri agar diri kita mampu memberikan kontribusi bagi warga lainnya. Tetapi di Facebook, mudah dijumpai betapa tidak sedikit dari kita yang tidak mau keluar dari rumah. Dan juga tidak mau berhenti sejenak dari godaan nafsu untuk hanya menceritakan diri-diri kita sendiri. Ini agak ironi. Kita menggunakan media sosial tetapi perangai kita bukan sebagai makhluk sosial.Anda masuk kasta mana ? Selain ditamsilkan sebagai pasar malam, dalam dunia Internet ternyata juga ada pembagian kasta yang menggelitik. Silakan ketik di mesin pencari Google “ebook linimas(s)a,” dan silakan baca ebook terbitan ICT Watch/Internet Sehat. Kalau Anda sama sekali belum pernah (kebanyakan kita memang begitu) membaca-baca panduan sebagai bekal tampil Anda di ranah media-media sosial secara benar dan maksimal, maka sajian 16 tulisan menarik di dalamnya mengenai lanskap kontemporer pemanfaatan media sosial di Indonesia, wajib hukumnya untuk Anda baca. Sementara untuk Anda yang ingin agak lebih canggih, di mana Internet merupakan media untuk mengekspresikan nama Anda sebagai merek diri Anda (“Mulai hari ini Anda adalah sebuah merek. Anda sama hebatnya dengan merek-merek seperti Nike, Coke atau Body Shop.”), simaklah ajaran Tom Peters dalam artikelnya berbahasa Inggris berjudul “The Brand Called You,” di majalah Fast Company, edisi Agutus/September 1997. Artikel tersebut dalam bahasa Indonesia, “Merek Yang Bernama Anda” bersama 31 judul tulisan pilihan lainnya, telah tersaji dalam buku Fast Company’s Greatest Hits : Sepuluh Tahun Gagasan Paling Inovatif Dalam Dunia Bisnis (2008). Pada pelbagai tinjauan di toko buku online, buku hebat setebal 411 halaman ini dijual antara 52 sampai 78 ribu. Anda dapat membeli dari saya Rp. 38.000,00. Ditambah ongkos kirim. Untuk kepentingan obrolan kita kali ini, dari ebook linimas(s)a tadi, silakan buka artikel yang ditulis Nukman Luthfie dengan judul “Bermakna di lautan media sosial.” (Halaman 66). Merujuk hasil kajian dari Forester Research, ia telah memaparkan beragam golongan dalam tangga teknografi sosial. Urutan dalam tangga tersebut, yang dimulai dari atas, tersaji golongan : Pekarya (creators). Perumpi atau Pengrumpi (conversationalists ), Pengritik (critics), Pengumpul (collectors ), Penggabung (joiners), Pengunjung (spectators ) dan Tidak Aktif (inactive ). Ciri utama pekarya adalah : memiliki blog atau situs web pribadi yang rajin diperbarui serta membuat dan mengunggah audio atau video karyanya ke situs web (bisa YouTube misalnya). Khusus untuk Indonesia, mengingat beratnya mengunggah video dan audio, ciri ini bisa disederhanakan menjadi : memiliki blog dan rajin memperbaruinya. Blogger memang tep[...]



Harapan Laron-Laron S-1 Itu Terbunuh Satu Demi Satu

2011-07-21T18:59:19.643-07:00

Oleh : Bambang HaryantoEsai Epistoholica No. 114/Juli 2011Email : epistopress (at) gmail.comHome : Epistoholik IndonesiaDijamin membeludak.Ribuan para pencari kerja dipastikan senantiasa membanjiri Pameran Bursa Kerja atau Job Career, di mana pun diadakan. Termasuk yang berlangsung di Solo (20-21/7/2011). Realitas tersebut merupakan cerminan hal buruk tentang kepedulian lembaga pendidikan kita terhadap para lulusannya. Lembaga pendidikan itu hanya kemaruk merekrut calon mahasiswa, lalu berusaha cepat meluluskannya. Setelah diwisuda, hanya nasib saja yang menuntun mereka.Membeludaknya pencari kerja yang menerjuni bursa-bursa kerja itu tidak lebih merupakan arena perjudian nasib semata. Sekaligus menunjukkan rendahnya penguasaan metode ilmiah yang mereka reguk di bangku pendidikan untuk diaplikasikan di dunia nyata. Sebab strategi berburu pekerjaan seharusnya dilakukan secara sistematis. Persis seperti ketika mereka menulis skripsi. Diawali penentuan topik skripsi bersangkutan. Dalam langkah berburu pekerjaan langkah awal itu adalah melakukan self-assessment, menilai secara kritis dirinya sendiri, guna menentukan sasaran yang sesuai bakat, minat, temperamen dirinya.Juga meriset kualifikasi pekerjaan sampai detil informasi pelbagai perusahaan sasaran, pengumpulan data wawancara dengan karyawan yang pekerjaan atau karirnya ingin diterjuni, menggalang jejaring atau networking, sampai ujian skripsi (tes wawancara kerja).Metode sistematis yang lebih agresif dan efektif ini tidak berbau untung-untungan. Sarana teknologi komunikasi dan informasi kini melimpah tersedia, sehingga perburuan pekerjaan tidak semata terpaku pada satu metode berbau perjudian, selain terjun dalam bursa kerja, adalah membalas iklan-iklan lowongan. Rata-rata pencari kerja tidak tahu bahwa sebenarnya lowongan yang muncul dalam iklan senyatanya hanya 15 persen dari seluruh lowongan yang tersedia. Sisanya yang 85 persen tersembunyi, dan hanya pencari kerja yang smart saja yang mampu mengeksploitasinya.Belum lagi statistik menunjukkan, yang juga telah saya tulis di kolom surat pembaca harian Suara Merdeka (28/8/2003) betapa dengan mengandalkan surat lamaran semata maka pekerjaan tersebut baru akan diperoleh bagi mereka yang telah mengirimkan 1.470 pucuk surat lamaran. Mari kita belajar matematika. Apabila dirinya setiap hari mengirimkan sepucuk surat lamaran, maka waktu yang dibutuhkan 4 tahun lebih. Kemudian bila satu pucuk surat lamaran itu menghabiskan biaya Rp 10 ribu maka dibutuhkan dana sebesar Rp 14,7 juta. Berburu pekerjaan bermetode ilmiah seperti dianjurkan oleh para pakar seperti Richard Nelson Bolles, John Crystal, Tom Jackson, Daniel Porot, Caroline Hyatt, Marilyn Moats Kennedy, John Truitt, Jason Robertson sampai Paul Hellman, membekali tiap diri pencari kerja dengan pengetahuan yang rasional, keyakinan baja, dan jauh dari taktik perjudian semata. Oleh mereka, setiap diri pencari kerja senantiasa diyakinkan bahwa mereka adalah sebagai pemecah persoalan, problem solver, bagi perusahaan yang diincar. Sayang sekali, mayoritas pencari kerja kita lebih suka mendudukkan diri hanya sebagai fihak pencipta persoalan, problem maker, sebagai pengemis pekerjaan. Mereka tidak mampu mengenali diri mereka sendiri, tidak mengenali kelebihan atau pun kekurangannya, juga tidak tahu menahu tentang tuntutan pekerjaan atau bisnis inti perusahaan sasaran. Meminjam ajaran strategi perangnya Sun Tzu, mereka yang tahu dirinya sendiri dan tahu lawannya, akan senantiasa meraih kemenangan ; mereka tahu dirinya atau lawannya kadang menang dan kadang kalah ; sedang mereka yang tidak tahu tentang dirinya sendiri atau pun lawannya akan ditakdirkan selalu mengalami kekalahan.Pribadi-pribadi pencari kerja dengan metode usang dan tradisional, adalah mereka yang akan selalu mengalami kekalahan. Yaitu sebagian besar dari mereka yang mengundang iba karena rela terj[...]



Buku, Wartawan dan Impotennya Pustakawan

2011-07-14T19:45:03.922-07:00

Oleh : Bambang HaryantoEsai Epistoholica No. 113/Juli 2011Email : epistopress (at) gmail.comHome : Epistoholik IndonesiaSurat kabar The Rocky Mountain News berhenti terbit. Februari 2009. Menjelang usianya yang ke-150 tahun. “Ketika sebuah surat kabar mati, hanya ada sedikit yang bisa diingat. Koran kami, koran harian. Jurnalisme, seperti banyak kata orang, adalah sejarah yang ditulis secara buru-buru, ketika berita siap dicetak, menjelang jatuhnya tenggat. Surat kabar tidak dimaksudkan menjadi abadi. Ia hadir sebagai kebenaran untuk hari itu, untuk momen itu.”Tenggorokan saya ikut tercekat ketika membaca tulisan Mike Littwin, wartawannya, yang berjudul “Not just closing doors, but dying” itu. Dan ketika harian Kompas Jawa Tengah berhenti terbit di penghujung tahun 2010, isi tulisan Mike Littwin itu kembali berenang-renang dalam kepala saya. Ini kabar buruk. Ini kabar menyedihkan. Karena sebagai kaum epistoholik, saya dan kami bakal kehilangan media untuk berekspresi, untuk beropini, untuk berkiprah menyuarakan keluh kesah atau pun kritik warga negara sebagai bagian dari kehidupan berdemokrasi. Mungkin penutupan koran itu jauh lebih menyedihkan bagi para wartawan koran bersangkutan. Karena panggung tempat mereka berekspresi telah runtuh dan menghilang. Tetapi arsip-arsip karya mereka, semoga saja, masih dilestarikan di perpustakaan. Mike Littwin masih bisa mengenang hal indah itu, dengan berkisah :“Saya maniak surat kabar. Newspaper junkie. Saya senantiasa menghabiskan waktu hidup saya untuk menenggelamkan diri di lantai dasar gedung perpustakaan, tempat di mana sering disebut sebagai kuburan koran-koran, karena menghimpun koran-koran yang sudah tidak terbit lagi. Saya membaca-baca peristiwa yang diliput secara kontemporer tanpa menunggu kemewahan hasil dan waktu yang dihasilkan sebagai kajian para sejarawan. Ketika Bob Dylan pindah ke New York dari Minnesota, ia menghabiskan seluruh masa musim dingin di Perpustakaan Umum New York. Ia membaca-baca surat kabar, bukan buku-buku, yang berisi peristiwa mengenai Perang Sipil. Dan ketika ia menuliskan lagu-lagunya, isinya terinspirasi dari isi koran-koran lama bersangkutan.”Di Perpustakaan Wonogiri, koran-koran itu dibundel dan bertumpuk-tumpuk di gudang. Sering juga tidak lengkap. Suatu saat, gudang itu pasti akan penuh. Mungkin koran-koran itu akan diloakkan.Setiap hari, petugas perpustakaan mencatat berita tentang Wonogiri dalam buku besar. Tulis tangan. Data yang tercatat meliputi judul berita, nama koran, halaman, dan tanggal pemuatan. Untuk pencarian kembali, akses yang paling mungkin adalah Anda harus mengingat tanggal pemuatannya. Persyaratan yang teramat sulit.Saya pernah mengusulkan, pencatatan itu sebaiknya dilakukan dengan komputer. Jadi relatif mudah ditemukan. Kepada stafnya yang rada melek Internet, saya sarankan daftar itu diunggah sebagai artikel di blog. “Bisa ditulis dalam bentuk anotasi, atau lebih baik disalin secara lengkap. Jadi informasi ini akan bisa diakses dari seluruh dunia, karena koran-koran kita cenderung menghapus dari pangkalan data mereka sesudah berita itu satu bulan terpajang di situsnya.”Saran itu saya kirim lewat email. Karena sebagai konsumen perpustakaan (“di Wonogiri sangat sedikit yang mengenal saya sebagai orang yang pernah belajar ilmu perpustakaan :-(. Sebagian mengenal secara keliru saya sebagai wartawan. Tetapi banyak sekali yang mengenal diri saya sebagai orang pengangguran”), rasanya tidak enak menyuruh-nyuruh para pegawai negeri untuk melakukan sesuatu hal. Saya toh bukan atasan mereka. Entah dibaca atau tidak, email saya itu tidak ada tanggapan. Derita orang kasim. Para wartawan yang korannya tewas, sebenarnya masih terbuka peluang namanya untuk tidak cepat-cepat terkubur dalam sejarah. Dengan menulis buku. Wartawan harian Kompas dari Triyas Kuncahyono sampai Wi[...]



BIN Kita Yang Katrok ?

2011-03-27T04:32:11.329-07:00

Oleh : Bambang Haryanto
Esai Epistoholica No. 112/Maret 2011
Email : epistopress (at) gmail.com
Home : Epistoholik Indonesia


(image) Acara itu konon bertajuk "Recycle BIN."

Itulah acara televisi "Provocative Proactive" yang akan membincangkan keputusan BIN (Badan Intelijen Nasional) yang kontroversial.

Betapa lembaga yang dibiayai dengan pajak rakyat yang justru akan memata-matai isi komunikasi rakyat di media sosial, seperti Facebook dan Twitter.

Pilihan judul yang tepat. Karena alur pikiran BIN itu sebaiknya memang pantas masuk kotak sampah. Minimal bila dibandingkan dengan apa yang terjadi di Departemen Pertahanan Amerika Serikat.

Inilah potongan cerita dari Price Floyd dalam artikelnya berjudul "In defense of social media : How public and private sectors of DOD opened doors to the network" di The Washington Times (21/3/2011),yang bertutur bagaimana media sosial justru dimanfaatkan oleh Departemen Pertahanan AS secara produktif.

Salah satu manfaat terbesar dari media sosial,katanya, adalah peluang untuk merangkul kerjasama secara penuh dengan rakyat Amerika dalam membincangkan kebijakan dan sasaran. Sebagaimana dalam perusahaan swasta dan organisasi, sektor publik dapat secara aktif mendengar suara konstituen, bahkan pada banyak kasus, mengubah kebijakan berdasarkan umpan balik.

"Keberhasilan dalam melibatkan media sosial dalam pertahanan tidak terbatas pada sektor publik semata, cerita sukses yang sama juga melimpah di sektor-sektor swasta, utamanya pada perusahaan yang stafnya terpencar-pencar melalui jalur komunikasi "khusus" pada perusahaan bersangkutan."

"Media sosial, pada intinya, merupakan sarana komunikasi,pengembangan, kolaborasi dan keterbukaan. Bagian terbaik dari platform media sosial adalah betapa semua tenaga kerja AS telah mengambil peran dalam berkomunikasi dengan cara baru ini. Kami yang bergerak di bidang isdustri pertahanan mengejar ketertinggalan itu bersama para karyawan kami."

Tokoh yang menjadi inspirasi kebijakan diatas karena wawasannya mampu memahami manfaat platform media sosial sebagai sarana komunikasi secara langsung dan efektif dengan masyarakat adalah mantan rektor Texas A&M University dan kini menjabat sebagai menteri pertahanan AS.

Robert M. Gates.

Ayo bangun Mr. Bean, eh, Mr.BIN !


Wonogiri, 27/3/2011



Hukum Linus dan Terancamnya Museum Kita

2011-03-01T06:26:44.373-08:00

Oleh : Bambang HaryantoEsai Epistoholica No. 111/Februari 2011Email : epistopress (at) gmail.comHome : Epistoholik IndonesiaMalam pertama.Malam yang sangat menegangkan bagi Larry Daley. Sebagai pegawai baru penjaga malam museum ilmu pengetahuan, ia terkejut ketika koleksinya menjadi hidup ketika malam hari tiba. Ia mendapati dirinya diuber-uber kerangka Tyrannosaurus rex, singa, juga jadi bulan-bulanan kera julig. Bahkan sampai terjepit di tengah perseteruan sengit antara boneka koboi melawan jenderal Romawi. Di akhir cerita, selain diselamatkan oleh arahan patung lilin presiden AS ke 26 Theodore Roosevelt, Larry Daley pun mampu membongkar rencana jahat trio pensiunan penjaga museum bersangkutan. Mereka bertiga itu berencana mencuri tablet kuno Mesir dan menjadikan Larry sebagai kambing hitamnya. Itulah seulas cerita dari film laris Night at the Museum (2006), yang dibintangi Ben Stiller sampai Robin Williams. Film ini dilanjutkan sekuelnya Night at the Museum: Battle of the Smithsonian (2009). Kata “malam” dalam judul menunjukkan metafora mengenai kegelapan, misteri, rahasia, dan bahkan kemudian semua hal itu erat terkait dengan tindak kejahatan. Kriminalitas orang dalam. Itulah pula kiranya yang pernah terjadi ketika malam-malam misteri menyelimuti Museum Radya Pustaka Solo, sampai akhirnya meledakkan kehebohan yang mengagetkan. Di museum yang didirikan pada masa Pakubuwono IX oleh Kanjeng Raden Adipati Sosrodiningrat IV pada tanggal 28 Oktober 1890, rupanya diam-diam telah terjadi tindak kejahatan besar dan terencana terhadap koleksinya, juga oleh orang dalam sendiri. Harian nasional dengan judul berita "Ironi Sebuah Museum" (Kompas, 20/11/2007) melaporkan pada tanggal 18 November 2007, Kepala Museum Radya Pustaka, KRH Darmodipuro (mBah Hadi almarhum) ditahan pihak kepolisian sebagai tersangka dalam kasus hilangnya sejumlah koleksi museum. Antara lain lima arca batu buatan abad ke-4 dan 9 yang dijual kepada pihak lain dengan harga Rp 80 juta-Rp 270 juta per arca. Penyelidikan menunjukkan bahwa koleksi museum yang hilang diganti dengan barang palsu. Kehebohan mencuat lagi hari-hari ini terkait dugaan keras dipalsukannya koleksi wayang kulit dari museum bersangkutan. Terabaikan. Skandal menyedihkan dan memalukan itu merupakan cerminan sekaligus tamparan pahit terkait pandangan sampai pengelolaan kita terhadap lembaga museum selama ini.Bukti itu juga menunjukkan betapa sangat lemahnya pengamanan museum-museum kita, sehingga membuat khasanah langka museum-museum kita terancam mudah raib untuk dicuri dan dimiliki oleh mereka yang tidak berhak. Problematika dalam pengelolaan museum-museum kita memang kompleks. Dari minimnya dana operasi, apresiasi pengunjung yang belum berkembang, tak ada promosi, sampai masalah internal museum sendiri yang menyangkut pengamanan. Untuk mampu keluar dari lilitan beragam masalah kronis tersebut boleh jadi dapat ditempuh dengan pendekatan baru, dengan antara lain berikhtiar mencangkokkan apa yang terjadi dalam dunia peranti lunak komputer dalam kiprah pengelolaan museum kita. Mata-mata kita bersama. Kita kiranya dapat belajar dari seorang Linus Torvalds, penemu piranti lunak open source Linux yang ternama. Linus Torvalds dalam merancang Linux sengaja membuka kode-kode peranti lunak temuannya itu kepada masyarakat luas. Dengan cara ini, menurutnya, banyak kalangan mampu menemukan cacat, kekurangan, dan kemudian memperbaikinya. Kolaborasi yang melibatkan banyak fihak tersebut membuat piranti lunak Linux semakin berguna bagi banyak kalangan. Fenomena ini kemudian memunculkan Hukum Linus Pertama yang berbunyi “Dengan mata yang cukup, kutu pun bisa ditemukan secara mudah.”Aplikasi Hukum Linus dalam museum adalah dengan membuka pintu seluas-luasnya bagi masyarakat untuk menjadi orang tua angk[...]



Kompas Jawa Tengah,Epistoholik Indonesia dan Saya, 2004-2010

2011-01-30T15:37:16.240-08:00

Oleh : Bambang Haryanto
Esai Epistoholica No. 110/Januari 2011
Email : epistopress (at) gmail.com
Home : Epistoholik Indonesia


(image) "Surat kabar memiliki detak jantung."
Demikian tulis Mark Wolf ketika mengantar koran tempatnya bekerja, Rocky Mountain News, berhenti terbit di tahun 2009.

"Detak jantung ekonomi Rocky memang telah berhenti sekarang ini, tetapi detak jantung jiwanya akan bertahan sepanjang masa, pada orang-orang yang kita tolong, di dada mereka yang kita dorong, pada cerita-cerita yang kita kabarkan dan pada gambar-gambar yang kita sajikan," lanjutnya. Koran Rocky Mountain News itu berhenti terbit di usia 150 tahun.

Gambaran Mark Wolf itu sedikit banyak saya rasakan ketika mendengar kabar pada penghujung tahun lalu bahwa koran Kompas Jawa Tengah tidak bisa kita temui lagi di tahun 2011. Kabar buruk.

Itu kabar menyedihkan. Karena sebagai kaum epistoholik kami bakal kehilangan media untuk berekspresi, untuk beropini, untuk berkiprah menyuarakan keluh kesah atau pun kritik warga negara sebagai bagian dari kehidupan berdemokrasi.

Di bulan Januari 2011 ini detak jantung ekonomi Kompas Jawa Tengah memang telah berhenti. Apakah masih tersisa kenangan dan cerita keteladanan yang bisa digurat dari interaksi antara warga Epistoholik Indonesia, khususnya diri saya, dengan koran satu ini ?

[Kenangan akan berlanjut]


Wonogiri, 31/1/2011

ee



Kaum Epistoholik, Apa Resolusi Anda Di Tahun 2011 ?

2010-12-28T04:10:07.437-08:00

Oleh : Bambang Haryanto
Email : epistopress (at) gmail.com


(image) Pergantian tahun telah menjelang.
Charles Lamb. Oprah Winfrey. Edith Lovejoy Pierce.
Mereka mempunyai ucapan menarik tentangnya.

Pengarang Inggris, Charles Lamb (1775–1834), mengatakan : “Tahun baru merupakan tanggal kelahiran bagi setiap orang.” Sementara ratu acara pamer cakap, Oprah Winfrey, berpesan : “Selamat datang untuk tahun yang baru dan peluang terbuka lagi bagi kita semua untuk menjadi (lebih) baik.”

Edith Lovejoy Pierce memiliki ungkapan prnuh taburan sikap optimistis. “Kita akan membuka buku. Halaman-halamannya kosong. Kita akan mengguratkan kata-kata itu di dalamnya. Buku itu disebut sebagai Peluang dan bab pertamanya adalah Tahun Baru.”

Sementara itu ada tokoh anonim ikut pula menyambut tahun baru dengan ucapan menarik. “Banyak orang mengharap kedatangan tahun yang baru agar mereka bisa memulai lagi kebiasaan lamanya selama ini.”

Anda sebagai kaum epistoholik, silakan memilih atau tidak memilih dari ucapan tadi, sebagai bekal Anda untuk menyambut tahun baru 2011 yang segera tiba itu. Tetapi yang segera melintas di benak saya tentang ritus pergantian tahun adalah tentang tiga hal :

Kalkulasi.
Kalkulasi.
Dan kalkulasi.

Membuat neraca. Mendata prestasi. Merinci kekurangan. Lalu disusul janji, tekad atau resolusi, tentang cita-cita atau keinginan yang ingin kita kerjakan di tahun mendatang. Sungguh kebetulan, ketika diwawancarai Fetty Permatasari dari harian Solopos, pertanyaan terkait topik kalkulasi itulah yang juga nampak mengemuka dan muncul.

Sebenarnya bukan kali ini saja. Setiap kali wartawan, sudah ada sekitar 8 kali profil komunitas Epistoholik Indonesia kita tampil di media massa, pertanyaan seputar itung-itungan nampak seperti menjadi obsesi mereka.

Formulanya berupa bidikan pertanyaan, di antaranya : “menulis surat pembaca sudah sejak tahun kapan, sampai saat ini sudah berapa ratus atau ribu surat pembaca yang sudah ditulis,” sampai “dalam sehari mampu menulis berapa surat pembaca.”

Pertanyaan yang kedua itu, sulit untuk bisa saya jawab. Akibat belitan kegeblegan, ketidakacuhan sampai kemiskinan, saya belum pernah mendata angka-angka untuk menjawab pertanyaan seperti itu. Karena sebagai penulis surat pembaca sejak tahun 1973 atau 1975 (“gebleg yang parah, bukan ?”), saya tidak tahu semua surat pembaca saya yang pernah dimuat.

Kalau pun tahu, juga tidak semuanya telah saya catat, atau saya beli korannya (“faktor kemiskinan :-), bukan ?”), atau pula saya simpan fotokopinya.


[Diteruskan tahun depan...]



Epistoholik, Effendi Gazali dan Virus Gagasan

2010-11-28T15:35:34.683-08:00

Oleh : Bambang Haryanto
Esai Epistoholica No. 108/November 2010
Email : epistopress (at) gmail.com
Home : Epistoholik Indonesia


(image) Anda mengenal Effendi Gazali ?
Kita mengenalnya sebagai pakar ilmu komunikasi.

Ternyata ia juga punya pikiran yang cukup menarik tentang kita. Tentang kaum penulis surat pembaca. Tentang kaum epistoholik.

Suatu kejutan.

Karena saya pribadi selama ini mengenalnya dalam berinteraksi sebagai tokoh komedi. Dalam ranah ini kami saling bertegur sapa dengan cara khas. Ia saya sebut sebagai boss. Dan mungkin karena saya tinggal terpencil :-), di Wonogiri, yang mengesankan sebagai daerah konservasi, ia memanggil saya dengan sebutan yang lajim beredar di kalangan suku Indian : chief.

Interaksi kami tersebut semakin membekas ketika ditabalkan dalam sebuah buku. Pada sampul belakang buku saya yang baru saja terbit di akhir November 2010 ini, Komedikus Erektus : Dagelan Republik Kacau Balau (Etera Imania, 2010), Effendi Gazali (foto) yang mantan juara lawak se-Sumatra Barat itu telah menulis endorsement sebagai berikut :

"Dalam dunia 'humor kuliner', Bambang Haryanto jago analisis serta jago masaknya! Indonesia perlu puluhan orang seperti Bambang Haryanto, baru kemudian ada kemajuan di negeri ini. Di sanalah nantinya dunia humor kita akan lebih kaya, pluralis, dan makin cerdas!"

Terima kasih, boss Effendi Gazali.

[Cerita akan berlanjut…]


Wonogiri, 30 November 2010



mBah Maridjan, Pustakawan 2.0. dan Pesta Yogya

2010-10-27T21:35:24.204-07:00

Oleh : Bambang HaryantoEsai Epistoholica No. 107/Oktober 2010Email : epistopress (at) gmail.comHome : Epistoholik IndonesiaKaliurang.Adakah sesuatu kenangan Anda pernah tertambat di sana ?Kalau Tonny Bennet pernah terkenal dengan lagu indah, "I left my heart in San Francisco," mungkin hari-hari mendatang pencipta lagu kita harus menelorkan lagu untuk mengenang mBah Maridjan yang berdomisili di Kaliurang itu pula.Sosok juru kunci Gunung Merapi, yang kemudian semakin terkenal sebagai bintang iklan minuman suplemen, telah ditemukan meninggal dunia sebagai salah satu di antara puluhan korban amukan gunung karismatis yang secara spiritual telah ia "jaga" selama ini.Sugeng tindak, selamat jalan, mBah Maridjan.Kalau orang Jawa punya semboyan sakral "sedumuk bathuk, senyari bumi ," cerminan tekad kukuh untuk mempertahankan tanah miliknya sampai titik darah penghabisan, yang konon membuat ide transmigrasi sulit disosialisasikan untuk penduduk etnis Jawa, mBah Maridjan mungkin menjadi ikon ideal untuk keyakinan itu.Beliau meninggal dunia, di rumahnya. Dalam posisi bersujud. Posisi pasrah, merendahkan diri, ke hadapan Yang Maha Kuasa. Orang besar telah memilih cara kematian yang juga besar, yang mungkin baru dalam jangka waktu yang lama betapa momen heroik, tetapi juga sekaligus tragis itu, akan bisa kita lupakan.Presentasi wong cilik. Sebagai penulis surat pembaca, saya pernah menulis tentang dirinya. Judulnya, "mBah Maridjan" yang dimuat di harian Suara Merdeka (Sabtu, 27 Oktober 2007). Isinya :Seorang mantan gubernur yang pagi-pagi sudah kluruk, berkokok, ingin maju sebagai calon Presiden di Pilpres 2009, telah mengunjungi mBah Maridjan. Bagi saya ini seperti sebuah déjà vu, pemutaran kembali adegan yang mirip dengan apa yang pernah dilakukan oleh tokoh-tokoh pemerintahan Orde Baru.Mereka-mereka ini paling lihai dalam berpropaganda untuk merebut hati rakyat. Antara lain dengan teknik yang disebut sebagai berpura-pura sebagai orang kecil.Ada cerita tentang mantan menteri penerangan dan ketua partai pro-pemerintah saat itu, ketika melakukan kampanye terselubung di Solo. Ia melakukan aksi atraktif, yaitu menggendong seorang tukang becak Solo. Dengan aksinya itu dirinya membangun citra bahwa dia merakyat dan dirinya merupakan bagian tak terpisahkan dari rakyat kecil.Menurut Sunu Wasono, Dosen Sastra Indonesia FIB-UI dalam bukunya Sastra Propaganda (2007), lewat aksi itu ingin ia tunjukkan bahwa program partai bersangkutan adalah juga program rakyat kecil. Partai itu kemudian bisa mengaku berasal dari rakyat, untuk rakyat, siap pula berjuang untuk rakyat. Kita semua tahu akhir dari cerita ini semua.Bercermin dari teknik propaganda di atas, warga Jawa Tengah kini seyogyanya dapat mulai mengasah ketajaman nalarnya bila kelak terpusar dalam atmosfir kampanye pemilihan Gubernur Jawa Tengah yang mulai menghangat. Juga dalam pilpres mendatang. Intinya, Anda jangan sampai terbeli musang dalam karung ketika menetapkan pilihan Anda kelak.Bambang HaryantoWonogiri 57612mBah di media sosial. Sebagai blogger pustakawan, pagi ini (28/10/2010) mengirim SMS untuk Ahmad Subhan di Yogya :"Ikut berduka atas wafatnya mBah Maridjan yg heroik. Btw, kira2 adakah perpus/situs perpus yg memajang daftar buku, publikasi, foto2 sd kenangan og2 ttg beliau ?" (Kamis, 28/10/2010 : 07.23.18).Jawaban Subhan : "Smpe hari ini foto beliau, asli maupun modifikasi, sdh trsebar di fb. Kmaren komentar ttg mb marijan ckp panjang di bwh status Gus Muh, bs jd hari ini lbh rame." (Kamis, 28/10/2010 :07.31.27).Jawaban saya : "Tks Subhan. Power utk menyebarkan sd mmodifikasi info, kini ditangan user. Power itu hrsnya bs diajak msk perpus ut bikin 'pesta' a la marketsp[...]



Ajaran Ibu Soma,Gus Doerr dan Katalog Yang Menari

2010-11-28T03:58:18.615-08:00

Warga Epistoholik Indonesia Di Tengah Jagongan Media Rakyat 2010 Yogyakarta-Bagian 3Oleh : Bambang HaryantoEsai Epistoholica No. 106/Oktober 2010Email : epistopress (at) gmail.comHome : Epistoholik IndonesiaKinokuniya.Mencari-cari buku di sana saya merasa seperti sedang berlatih karate di dalamnya.Biang keroknya adalah fasilitas antarmuka dari anjungan elektronik yang disediakan toko buku itu. Dengan alat itu konsumen dibantu untuk menemukan buku-buku yang mereka cari di toko buku bersangkutan. Layanan serupa bisa kita temui di pelbagai toko buku terkenal di Indonesia, berupa komputer, sementara di Kinokuniya itu wujudnya seperti kios ATM.Ini bukan toko buku Kinokuniya yang berada di Jl. Jenderal Sudirman, Jakarta. Ini toko buku jaringan yang sama tetapi luasnya hampir sebesar lapangan sepakbola. Hamparan belukar buku yang menggairahkan itu membuat saya harus mengandalkan anjungan tadi untuk menemukan buku yang saya incar. Buku tentang manajemen ilmu pengetahuan.Muncul masalah. Keypad-nya kurang begitu ramah. Ketika telunjuk menekan terlalu lemah, huruf tidak muncul. Tetapi ketika tekanan ditingkatkan ekstra, huruf yang muncul menjadi dobel. Saya membayangkan sedang berlatih karate, melakukan exercise guna memperkuat daya tohok jari-jemari saya.Jadi sungguh perjuangan tersendiri untuk bisa menuliskan lema yang kita cari. Baik nama pengarang, judul atau subjek buku. Sementara pengguna lain dari toko buku megah di bilangan Orchard Road, Singapura itu, sudah pula nampak mengantri.Buku yang saya cari itu, tidak saya temukan. Saya berandai-andai, alangkah menariknya bila terminal itu bisa agak "bercanda" dengan saya. Misalnya, bila buku itu tidak ada, ia dapat menyarankan saya untuk mengunjungi toko buku terdekat yang masih menyediakannya. Bahkan melalui Internet, sambungan itu bisa bercakupan dunia pula.Jadi antar toko buku itu data koleksinya tersambung secara elektronik, 24/7. Diperkaya pula sambungannya dengan penerbit buku dan pengarang buku bersangkutan. Bahkan terintegrasi dengan data para pembaca buku tersebut, genap dengan segala komentar yang mereka tuliskan. Mengambil jargon dari ranah ilmu perpustakaan, ijinkanlah saya menyebut gambaran itu sebagai panorama tentang katalog yang menari. Diagram kambing. Mengilas balik ke tahun 1980, mata kuliah tentang katalog, dengan label katalogisasi dan klasifikasi, bukan mata kuliah yang saya sukai. Pengampunya adalah Ibu Lily K. Somadikarta, yang saat itu adalah juga ketua jurusan Jurusan Ilmu Perpustakaan Fakultas Sastra Universitas Indonesia.Cara mengajarnya yang tegas dan direct, membuat kami yang belum mengenal akrab beliau menjadi cepat-cepat ciut nyali. Apalagi ini mata kuliah yang menentukan, apakah di tahun pertama kami langsung drop out atau berlanjut. Kuis atau tes pertama untuk mata kuliah ini saya mendapatkan nilai nyaris mendekati ambang batas kegagalan : 62.Saat kuis, saya memang tidak menyangka diagram tentang alur proses penyimpanan dan penemuan kembali bahan pustaka itu muncul di kertas ulangan. Rupanya saya telah meremehkan jantung alur kerja perpustakaan ini. Sebab ketika mencatatnya saya telah membingkai diagram tersebut dengan garis kontur berwujud binatang kambing.Teman sekelas saya, Subagyo Ramelan, tertawa-tawa melihat "diagram kambing" buatan saya itu.Bahkan ia mengomentari, "itu cara mencatat yang jenius." Ia yang kini membuka gerai "Safir Andaru" dan bergerak dalam bisnis batu mulia di Ciledug, Tangerang, ketika menjadi book officer di Asia Foundation pernah membantu saya memperoleh hibah puluhan buku-buku bermutu terbitan manca negara. Terima kasih, Bag.Saya bayangkan, ke dalam mulut kambing itu masuk satu[...]



JIP 1980 dan Ibu Rusina Dalam Kenangan Saya

2010-10-20T07:43:06.209-07:00

Oleh : Bambang HaryantoEsai Epistoholica No. 105/Oktober 2010Email : epistopress (at) gmail.comHome : Epistoholik IndonesiaDiary 1980an. Bikin malu. Kamar saya pantas disebut sebagai gudang buku. Karena tak ada klasifikasi. Tak ada call number di punggung masing-masing buku. Tak ada mekanisme penyimpanan dan penemuan kembali yang sistematis.Akibatnya, begitu ada perubahan dalam pengaturan kamar, maka penempatan buku, majalah, koran, kliping koran, menjadi chaos adanya.Di bulan Agustus 2010, ketika memindah komputer agar kabel USB Wi-Fi cukup menyambung ke cantenna, antena kaleng roti Khong Guan buatan sendiri, yang saya parkir di atas genteng agar mampu menyambar sinyal hotspot di Wonogiri, membuat mutasi parkir bahan-bahan pustaka terjadilah. Buku yang biasa ada di pojok kanan misalnya, tiba-tiba entah ada di mana. Dan saat mencari-carinya kembali menjadi beban tersendiri.Tetapi kondisi itu kadang juga memunculkan hikmah kecil. Kejutan kecil. Sering terjadi apa yang oleh kalangan ilmuwan peneliti disebut sebagai serendipity. Terjemahan kasarnya, kemampuan menemukan sesuatu ketika sedang mencari hal lainnya. Madame Curie (1867-1934) dan Charles Goodyear, menghasilkan temuannya berupa partikel atom dan ban karet berkat sentuhan serendipity itu.Hal ajaib yang saya temui di kamar awal September 2010 ini adalah menemukan kembali buku harian saya tahun 1980. Tahun itu pula saya pertama kali menjadi penduduk Jakarta. Sering jadi bahan ejekan teman kuliah saya, Bakhuri Jamaluddin, saat membonceng motor Hondanya berplat merah mengarungi Rawamangun-Pramuka-Diponegoro-Sudirman-Kebayoran Baru. Orang Suruh Salatiga yang sudah lama tinggal di Jakarta itu mengejek :-) orang Wonogiri yang baru di Ibukota.Juga tahun itu sebagai awal saya menjadi mahasiswa JIP-FSUI. Tes wawancara berlangsung di Ruang 1 Unit 1 FSUI, saya tuliskan di buku harian sebagai "biasa-biasa saja." (Selasa, 15 Juli 1980). Saya sudah lupa bahwa saat itu saya mengobrol dengan Rizal Saiful-haq, teman kuliah lainnya, yang kemudian beranggapan bahwa jawaban "biasa-biasa saja" saya itu sebagai indikasi bahwa saya bakal tidak lulus tes sebagai mahasiswa Jurusan Ilmu Perpustakaan. Tetapi buku harian saya tertanggal Kamis, 16 Oktober 1980, ada catatan lain berbunyi : "Jadi guide belajar K & K untuk Rizal."Sebelumnya, catatan Hari Kamis 18 September 1980 tergurat : Kuliah PIP (Pak Royani), laporan isi majalah Library Trends di muka kelas. Kualitasnya jauh dari lengkap, tapi performans di muka kelas saya ubah menjadi panggung lawak : "mulut-mulut tertawa, mata-mata bersinar, wajah-wajah gembira."Saat itu saya benar-benar sok tahu, melaporkan topik yang tidak saya kuasai. Karena tiba-tiba Pak Royani meminta saya bercerita mengenai isi artikel pertama majalah itu : pengembangan perpustakaan di correctional facilities. Saya tidak tahu istilah ini. Yang tahu adalah sarjana Sastra Inggris UGM, Magdalena Lumbantoruan dari LPPM, dan dia lalu menjelaskan artinya saat itu pula. Penjara.Saya merasa mati rasa di panggung saat itu. Istilah komedinya, kena bom. Mampus. Saya membahas tentang perpustakaan penjara yang saya tidak tahu tentangnya. Tetapi syukurlah, saya masih punya sedikit akal bulus : mampu mengubah kebodohan itu menjadi pentas tertawaan.Hari Radio 11 September 1980. Tanggal ini juga HUT-nya Pak Sulistyo Basuki. Mata kuliah pertama Hari Kamis itu adalah MKI-nya Pak Junus Melalatoa. Saat itu saya ditegur Zulherman : "Anda tidak cerah hari ini." Zul Anda tahu sebabnya ? Saat itu saya tidak punya uang.Siangnya, sialnya, lalu ada tes dadakan Bahasa Perancis yang diampu oleh almarhumah Ibu Nurul Oetomo. Bu dosen ya[...]



Surat Pembaca : Kasta Sudra, Lawang Sewu dan Pahala

2010-09-28T07:28:20.218-07:00

Oleh : Bambang HaryantoEsai Epistoholica No. 104/September 2010Email : epistopress (at) gmail.comHome : Epistoholik IndonesiaKasta sudra. "Sebagai penulis, saya kecewa dengan media yang tidak memberi konfirmasi tentang nasib tulisan yang telah kita kirim ke redaksinya. Apakah tulisan tersebut dimuat atau tidak dimuat ? Selama ini, hampir semua media tidak melakukan konfirmasi tentang nasib tulisan.Itu kalau artikel bagaimana dengan surat pembaca. Ya jelas malah lebih parah. Karena surat pembaca adalah kasta sudra dalam media kita. Makanya, saya sendiri ambil justifikasi, surat pembaca boleh dikirimkan ke media lain. Tanpa atau harus diedit dulu…. Apakah kesimpulan saya ini kurang bijak ?"Itulah uneg-uneg sobat warga EI yang berdomisili di Jombang, Edy Musyadad. Administrator milis Epistoholik Indonesia [epistoholik-indonesia@yahoogroups.com] dalam postingnya tanggal 26 Agustus 2010 itu rupanya terusik kembali oleh hal "kronis" yang selama ini menjadi bahan kasak-kusuk para penulis lepas yang mengirimkan naskahnya ke media massa.Terima kasih, Mas Mus. "Provokasi ide yang menarik dari sobat E. Musyadad. Lama topo, tahu-tahu jualan ide provokatif," begitu awal balasan saya. Apakah kita para penulis surat pembaca perlu berdemo, bahkan mogok untuk menulis, seperti (foto) aksi para penulis industri film yang mogok di Amerika Serikat beberapa saat lalu ?Menurut saya, kalau menulis artikel yang ada honornya, maka penulisan artikel yang sama untuk pelbagai media, kebanyakan akan memperoleh kecaman.Bagaimana kalau hal yang sama dilakukan untuk surat-surat pembaca, yang notabene tidak ada ada honornya ? Tahun 1980-an, saya sudah melakukannya. Tentu tidak persis sama isi teksnya antara satu surat dengan lainnya, karena harus disesuaikan dengan karakter media bersangkutan.Tanpa penyesuaian itu, bisa-bisa surat pembaca saya tidak dimuat, dan saat itu berarti mengorbankan perangko :-)Kini di era digital, era copy/paste, dengan bantuan surat elektronik, semakin mudah kita untuk melakukan broadcasting, mengirimkan satu surat untuk pelbagai media. Kalau dari kacamata pengirim, tak apa-apa, menurut saya.Tetapi, ini soal pokoknya : penulis surat pembaca itu ibarat bayi yang tali pusarnya tersambung ke media bersangkutan. Kita bukan sebagai fihak yang menentukan dimuat atau tidaknya. Kita juga tidak tahu policy masing-masing media. Siapa tahu surat pembaca kita dimuat oleh koran A, lalu redaktur koran B yang menerima surat yang sama sudah membaca kolom surat pembaca koran A bersangkutan, dan lalu membuang saja surat kita tersebut ?Kita tidak tahu isi jeroan tiap-tiap media. Kalau Anda sudah baca isi blog EE saya mutakhir, jadikanlah menulis surat pembaca sebagai kegiatan hard fun, sulit tetapi menyenangkan. Gimana ?Menurut saya, mentang-mentang menulis SP itu kau (Edy Musyadad) sebut (atau pengelola media sebut) sebagai aktivitas berkasta sudra, menurutku, kita sebaiknya ya jangan berkelakuan sebagai sudra juga.Melainkan kita bersikap dan bertindak sebagai brahmana, ketika kita menulis SP yang bukan semata ditujukan untuk meraih hal-hal yang duniawi semata. Melainkan untuk menabung enerji kebaikan yang suatu saat, entah kapan, akan berbalik kepada kita juga. Tentang bagaimana berlaku sebagai brahmana itu, silakan Anda menafsirkannya sendiri.Diskusi semakin diramaikan oleh Nurfita Kusuma Dewi, warga EI yang priyayi Yogya tetapi berkarya di Semarang. Ia mengomentari "nasehat" saya untuk para penulis surat pembaca agar memiliki mindset melempar batu ke dalam kolam. Begitu tombol send dihentak, lupakan saja surat-surat pembaca yang kita tulis itu. Fire and [...]



Ratapan Anak Tiri, Gandhi dan Penulis Surat Pembaca

2010-09-28T21:26:53.030-07:00

Warga Epistoholik Indonesia Di Tengah Jagongan Media Rakyat 2010 Yogyakarta-Bagian 2Oleh : Bambang HaryantoEsai Epistoholica No. 103/Agustus 2010Email : epistopress@gmail.comHome : Epistoholik IndonesiaMakhluk hibrida yang ganjil.Itukah profil penulis surat pembaca ?Penulis surat pembaca boleh jadi merupakan gabungan muskil antara sosok demonstrans yang marah setiap hari, komedian dengan daya observasi jeli, sedikit aliran darah teroris dalam dirinya, secuil karakter dermawan intelektual yang malu-malu, dan sedikit banyak dikaruniai keterampilan mengasah pena bak seorang wartawan. Barangkali karakter semacam itu yang membuat penulis surat pembaca, utamanya kaum epistoholik, hadir sebagai makhluk yang aneh justru di mata media tempat mereka sering mengekspresikan diri.Di forum talkshow Jagongan Media Rakyat 2010, 23 Juli 2010, di Yogyakarta, saya sempat melontarkan pertanyaan itu ke forum : penulis surat pembaca itu anak tiri atau anak emas media ? Dalam obrolan yang dipandu Mukhotib MD yang mengelola blog mmdnews.wordpress.com itu saya tidak memperoleh jawaban saat itu. Tak apa-apa. Bagi saya, yang menulis surat pembaca sejak tahun 1973, penulis surat pembaca adalah anak tiri media massa. Kehadirannya mereka butuhkan, boleh jadi hanya sebagai filler, pengisi ruang kosong semata. Kalau kapling itu dipakai untuk iklan, maka mudah saja kolom itu dikorbankan. Atau diubah, sehingga kaplingnya menjadi pletat-pletot, yang secara visual mereduksi wibawa keberadaannya.Penulis surat pembaca memang bukan siapa-siapa di mata pengelola media. Walau setiap kali membaca-baca fotokopi kartu tanda penduduk mereka, tetapi pernak-pernik tentang apa dan siapa dirinya, kapasitasnya, latar belakangnya, aspirasinya, sosoknya sebagai manusia, semua itu nampaknya menjadi isu yang tidak begitu penting bagi media bersangkutan. Mereka tidak tertarik untuk membuat semacam bank data tentang para kontributor kolom surat pembaca mereka.Sehingga ikhtiar yang berusaha memanfaatkan data penting itu sebagai bahan ramuan untuk membuat lebih molek dan lebih bernasnya kolom bersangkutan, nampaknya gagasan semacam ini terlalu jauh untuk bisa masuk jangkauan daya pikir pengelola media atau pun kolom bersangkutan.Maklum, barangkali, karena pengelola kolom itu juga manusia biasa. Boleh jadi dirinya sudah keberatan beban menjalani tugas utamanya sebagai wartawan, sementara timbunan surat-surat pembaca yang ada membuat dirinya hanya mampu bekerja ibarat ulah seekor bajing yang lari-lari berputaran di kandang rotornya sehari-hari. Pokoknya asal ada surat pembaca yang bisa tampil pada setiap penerbitan, cukup sudah pekerjaan mereka. Bahkan kalau tidak ada, tidak sedikit yang melakukan rekayasa, dengan membuatnya sendiri pula. Karena banyak wartawan muda yang bercerita sendiri, bahwa ketika dalam masa pelatihan mereka selalu mendapat tugas untuk menulis surat-surat pembaca. Tidak aneh dengan pendekatan business as usual itu kemudian penjaga kolom surat-surat pembaca sering dipercayakan kepada wartawan-wartawan sepuh, mereka yang tidak dituntut lagi untuk menulis, karena mendekati pensiun. Akibatnya, entah mana yang duluan, telor atau ayam (menurut kajian ilmiah, oleh Dr Colin Freeman dari Sheffield University's Department of Engineering Materials, ayam yang duluan !), dalam arti entah karena penulis surat pembacanya atau penjaga rubriknya, isi kolom-kolom surat pembaca di media-media massa kita saat ini, menurut saya, isinya membosankan.Selain surat-surat pembaca yang generik, tentang kehilangan barang atau surat berharga sampai keluhan konsumen, isin[...]



Episto Ergo Sum

2010-08-22T06:56:25.740-07:00

Oleh : Wisnu Martha AdiputraEsai Epistoholica No. 102/Agustus 2010Blog : Duniaku Dunia KreatifFacebook : facebook.com/wisnu.marthaHome : Epistoholik IndonesiaPengantar : Diundangnya komunitas Epistoholik Indonesia (EI) untuk menampilkan diri dalam acara Jagongan Media Rakyat 2010, di Yogyakarta, 22-25 Juli 2010, masih berbuntut dengan melimpahnya berkah.Kali ini datang dari Radio Geronimo FM Yogyakarta yang mengundang EI untuk mengisi acara "Angkringan Gayam," Minggu malam, 1 Agustus 2010. Komunitas kita diwakili oleh Tuwarji, warga EI di Yogya yang dihadirkan bersama staf pengajar Ilmu Komunikasi Fisipol Universitas Gajah Mada, Wisnu Martha Adiputra (foto).Kehormatan dari Radio Geronimo FM membuat saya mampu memutar mesin waktu ke tahun 1970-an. Saat itu saya bersekolah di STM Negeri 2 Yogyakarta. Kalau membaca koran Kedaulatan Rakyat sering memergoki surat pembaca yang ditulis Ir. RM Pradiko Reksopranoto, yang kami kemudian bisa bertemu muka di Solo tahun 2002.Sedang tentang Radio Geronimo sendiri, saya telah menulis kenangan berjudul "Radio dalam Kehidupan Seorang Epistoholik." Tulisan ini kemudian dimuat di harian Media Indonesia, 10 September 2006, juga mengisi blog Rane Hafied, saat itu penyiar Radio Singapura dan kini menyiar di Radio NHK Jepang.Seusai bincang-bincang di Radio Geronimo FM yang dipandu oleh host yang charming bernama Gracy Sondang Marpaung, Mas Wisnu Martha Adiputra telah menyisipkan tulisan tentang kaum epistoholik di antara tulisannya tentang musik, film, kreativitas dan media, di blog beliau yang menarik. Dengan rasa bangga, tulisan beliau tersebut saya pajang untuk mengisi blog saya ini.Terima kasih untuk Widiaji, Sondy, dan juga Mas Wisnu, untuk dukungan dan apresiasi Anda terhadap kiprah warga EI ini. [Bambang Haryanto].Dengan menulis kita dapat "memindahkan" gunung? Betulkah demikian? Jawabannya, benar sekali. Kita tidak hanya dapat "memindahkan" gunung tetapi juga mengubah dunia menjadi lebih baik.Tentu saja bukan berarti memindahkan gunung dalam pemaknaan kerja fisik tetapi lebih berarti pada perubahan besar yang abstrak dan tidak langsung, baik di level individual dan masyarakat.Betapa banyak individu yang berubah karena tulisan. Banyak juga kelompok-kelompok masyarakat yang berkembang lebih baik karena tulisan. Tulisan adalah wahana kreativitas dan inspirasi yang mengalir dari satu pihak ke pihak yang lain. Bila hal yang positif, inspirasi dan kreativitas, itu bisa diterima, hal positif itu akan mengalir dengan mudah ke banyak orang.Beberapa hari yang lalu di program acara radio "Angkringan Gayam" Geronimo FM, Yogyakarta, saya mengenal komunitas yang unik dan bertemu salah satu wakilnya. Mas Tuwarji. Nama komunitas itu adalah Epistoholik Indonesia.Komunitas ini adalah kumpulan orang yang menulis dengan rutin di surat pembaca media cetak, terutama suratkabar. Mereka menulis tentang kegundahan hati yang terjadi di lingkungan sekitar. Kebanyakan kegundahan hati mereka adalah kegundahan masyarakat umum karena hampir semua kegundahan itu berkaitan dengan pelayanan publik. Perbedaannya, para "epistoholik" ini dengan sukarela dan bahagia menuliskannya ke media.Berdasarkan pemaparan blog Epistoholik Indonesia, www.episto.blogspot.com, kita dapat mengetahui bahwa kaum epistoholik adalah orang-orang yang kecanduan menulis surat pembaca.Kata epistoholik berasal dari kata epistle yang berarti surat dan oholik yang berarti kecanduan. Bila imbuhan oholik pada alkoholik dan warkoholic bermakna negatif, tidak demikian halnya dengan epistoholik yang berarti positif[...]



Anak Kecil Di Toko Permen Yang Menunggang Mesin Waktu

2010-09-28T21:50:09.513-07:00

Warga Epistoholik Indonesia Di Tengah Jagongan Media Rakyat 2010 Yogyakarta-Bagian 1Oleh : Bambang HaryantoEsai Epistoholica No. 101/Juli 2010Email : epistopress@gmail.comHome : Epistoholik Indonesia"Episto ergo sum !"Saya menulis surat pembaca karena saya ada !Salam kebanggaan warga EI itu saya lantunkan ketika menutup talkshow "Memindahkan" Himalaya Dengan Surat Pembaca, Jumat, 23 Juli 2010 Malam.Malam itu merupakan salah satu puncak kehormatan, yang datangnya serba tak terduga-duga, ketika komunitas EI kita diundang ikut berperanserta dalam acara Jagongan Media Rakyat 2010. Bertempat di Jogya National Museum, 22-25 Juli 2010, tempat yang dulunya merupakan kampus ASRI/ISI Yogyakarta.Atmosfir Yogya segera merayapi sumsum-sumsum memori saya kembali. Tahun 1970-1972, saya bersekolah di sini. STM Negeri 2 Yogyakarta, di Jetis. Tahun-tahun sebelumnya, ketika masih duduk di bangku SD-SMP di Wonogiri, masa liburan adalah masa - masa bermain ke Yogya. Karena ayah saya, Kastanto Hendrowiharso, seorang prajurit TNI-AD, bertugas di Yogya, walau keluarganya masih tetap tinggal di Wonogiri.Sebelum menutup dengan salam kita tadi, saya sempat menceritakan sebuah lagu, yang pertama kali juga saya dengar di Yogya ini. Melalui Radio Geronimo. Kalau tak salah tahun 1971. Saat itu Perang Vietnam masih berkecamuk. Di AS demontrans makin galak menuntut agar AS segera pergi dari negeri Paman Ho, karena sudah ribuan tentaranya tewas di sana. Protes-protes juga tergores dalam bentuk grafiti, di tembok-tembok kota dan tembok-tembok stasiun kereta api bawah tanah.Suasana hati rakyat AS dan dunia yang gelisah itu telah dipotret oleh duo legendaris Simon & Garfunkel dalam lagu "Sound of Silence" (Suara Keheningan). Keduanya seolah memberi sasmita, dengan lirik yang indah : "The words of the prophets are written on the subway walls". Nubuat nabi-nabi tertulis di tembok-tembok stasiun trem bawah tanah.Lalu saya timpali : "Siapa tahu, di era blog dan Internet dewasa ini, akan ada penyanyi lain yang menggubah lagu dengan lirik baru, tentang nubuat nabi-nabi yang tertulis dalam kolom-kolom surat pembaca. Juga pada situs-situs blog masa kini."Saya memperoleh aplus untuk itu.Aplus itu pasti juga untuk Anda, untuk semua warga EI, yang dalam keheningan tak berhenti mengguratkan suara-suara kebenaran.Keajaiban dan fenomena goethendipity pun terjadi. Ini istilah dari pakar mind-mapping Tony Buzan yang menggabungkan antara ajaran Goethe ("Saat seseorang benar-benar melakukan sesuatu, maka takdir juga bergerak : Segala sesuatu terjadi untuk menolong saya, yang bila saya tidak melakukan sesuatu, maka itu tidak akan pernah terjadi") dengan kata serendipity, yaitu kemampuan menemukan sesuatu secara tidak disengaja ketika kita mencari sesuatu yang lain.Tanggal 24 Juli 2010 malam, saya mengikuti diskusi bertopik "Mengelola Sumber Daya dan Pengetahuan bagi Organisasi Masyarakat Sipil." Menampilkan narasumber Idaman Andarmosoko (Pekerja Pengetahuan), Akhmad Nasir (Combine) dan Shita Laksmi (Hivos). Gara-gara diprovokasi oleh moderator, Yossy Suparyo, saya tampil sebagai penanya pertama dalam sesi itu.Eksposure ini ternyata menghadirkan momen tak terduga. Ketika acara usai, seorang reporter radio Yogyakarta mengajak saya berbincang. Ajaibnya, ia ditemani seorang pemuda ramah, mengaku bernama Widiaji, alumnus UGM. Lalu Aji bercerita bahwa pada tahun 2002 dirinya merupakan bagian dari tim mahasiswa asal Yogyakarta yang memenangkan The Power of Dreams Contest-nya Honda (2002) di Jakarta. Sekadar info, [...]



Demokrasi, Facebook dan Eksistensi Maya Anda

2010-09-28T21:53:43.359-07:00

Oleh : Bambang HaryantoEsai Epistoholica No. 100/Juli 2010Email : epistopress@gmail.comHome : Epistoholik Indonesia"Seperti taman kanak-kanak."Anda masih ingat julukan seperti itu yang dilontarkan oleh almarhum Gus Dur ketika menggambarkan profil dan perangai para wakil rakyat kita ?"Demokrasi kita masih berumur 2-3 tahun."Begitu kata begawan lingkungan hidup dan negarawan kita, Emil Salim.Di buku saya yang akan segera terbit, Komedikus Erektus, sambil merujuk "huru-hara" para wakil rakyat kita ketika bersidang melakukan pemungutan suara terkait kasus skandal Bank Century yang kini sayup-sayup telah kita lupakan (?), saya menuliskan pendapat : mereka berhura-hura itu sebagai kompensasi karena mereka hanya memiliki penis yang kecil-kecil belaka.Sumber rujukan :ucapan Gus Dur di atas.Sumber segala kegaduhan seperti di atas itu, oleh "nabi" media digital dari MIT, Nicholas Negroponte, penulis buku Being Digital (1995) (foto), disebutnya karena kita masih dalam situasi eforia dalam mengelola kondisi-kondisi baru. Ketika terbebas dari cengkeraman rejim Soeharto dan Orde Barunya yang represif, kita mabuk untuk melakukan pesta pora. Mabuk demo, gugat-menggugat, aksi teror untuk mengancam pejuang demokrasi, bahkan termasuk pesta pora dalam melakukan korupsi pula !Mabuk tombol. Nicholas Negroponte, punya tamsil jitu untuk itu. Fenomena eforia atau bahkan mabuk kita saat ini ibarat kita ketika memiliki sebuah kamera handycam yang baru. Karena kegirangan, semua tombol akan kita eksploitasi. Semua gerakan kamera dan teknik syuting dipakai sekaligus. Saat ditayangkan, walhasil, gambarnya jelas membikin pusing penontonnya. Dengan berjalannya waktu, ketika penguasaan terhadap beragam tombol dan teknik penggunaan kamera itu sudah memadai, maka hasil syutingnya menjadi tidak memusingkan lagi. Kehidupan demokrasi di negara kita akan seperti itu juga kiranya. Eforia a la pemakaian kamera handycam itu juga berlaku dan marak di dunia jaringan sosial, Facebook. Banyak dari kita yang selama ini belum terbiasa, atau belum memiliki tradisi kokoh dalam mengungkapkan pikiran atau berekspresi dengan kata-kata melalui media, tiba-tiba terbuka peluang untuk hal itu. Hasilnya ? Silakan Anda sendiri yang menilainya.Halaman Facebook memang kuat menggoda kita untuk menjadi selfish, ketika menulis tentang apa saja. Apalagi tulisan-tulisan status yang engga usah mikir pun bisa. Godaan serupa juga pernah saya alami sebagai kaum epistoholik, kaum pemabuk dalam kiprah penulisan surat-surat pembaca di media massa. Kaum epistoholik terbiasa tergoda untuk mengomentari segala hal. Menulis topik segala hal.Nasehat David Parrish. Memang itu bukan penyakit yang berbahaya. Tetapi dalam bingkai terkait ciri wanci, identitas, jati diri, atau kerennya personal brand, pilihan menjadi makhluk renaisans yang memiliki beragam minat dan keahlian di era melimpahruahnya informasi ini jelas merupakan suatu kemustahilan. Menurut Henri Jenkins, salah satu pendiri Comparative Media Studies Program di Massachusetts Institute of Technology, dalam artikelnya "The Future of Teenagers: My Interview in O Globo" (14/6/2010), kita kini tercebur dalam era intelijen kolektif, sebuah dunia di mana tidak ada seorang pun mengetahui segala hal. Sehingga apa yang diketahui oleh seseorang harus dibagikan kepada kelompok yang membutuhkannya. Henri Jenkins berpendapat bahwa anak-anak muda masa kini dituntut belajar untuk mengetahui keahlian masing-masing dari teman mereka, juga orang lain dalam jarin[...]



Perpustakaan Sampah

2010-09-28T21:57:23.294-07:00

Oleh : Bambang Haryanto
Esai Epistoholica No. 99/Juli 2010
Email : epistopress@gmail.com
Home : Epistoholik Indonesia


(image) Di kolom surat pembaca sering termuat aktivitas sekelompok mahasiswa yang sedang melakukan kuliah kerja nyata (KKN) yang berniat membangun perpustakaan di desa tempat mereka mengabdikan diri. Untuk niatan itu, mereka kemudian meminta sumbangan bahan-bahan pustaka.

Ide dan niat itu sungguh mulia.

Tetapi sering mereka lupakan, bahwa perpustakaan buatan mereka itu harus terus tumbuh, bahkan ketika mereka selesai melangsungkan KKN itu. Bahan-bahan pustaka yang terbatas, hanya itu-itu saja dan tak ada yang baru, justru akan mematikan minat warga untuk membaca.

Salah satu cara membuat perpustakaan bertumbuh adalah menjamin adanya aliran dana untuk membeli buku-buku baru. Bagaimana bila dana itu dicoba dihasilkan melalui penjualan sampah-sampah di desa bersangkutan ?

Kita dapat belajar dari solusi kreatif yang muncul dari gerakan akar rumput di Dusun Badegan, Trirenggo, Bantul, Yogyakarta. Berawal dari kesadaran individu, warga mulai mengumpulkan sampah di rumahnya.

Sampah tersebut lalu disetorkan ke Bengkel Kerja Kesehatan Lingkungan (foto) atau yang kini lebih dikenal dengan nama Bank Sampah Gemah Ripah yang dipelopori oleh Bambang Suwerda.

Di tempat ini sampah ditimbang, dicatat dan kemudian harganya ditentukan ketika sampah tersebut dibeli oleh pengepul sampah. Disinilah letak fungsi bank karena pencairannya kepada warga dilakukan setiap tiga bulan sekali.

Ternyata, jika sampah dikelola dengan baik bisa mendatangkan manfaat, membawa berkah bagi warganya. Perpustakaan desa yang dibangun dari hasil sampah pun, kiranya pantas pula untuk kita coba.


Bambang Haryanto
Warga Epistoholik Indonesia
Wonogiri 57612

*)Surat pembaca ini dengan penyuntingan telah dimuat di Harian Kompas Jawa Tengah, Senin, 19 Juli 2010 : Halaman D.



Ancaman Sampah, Baharudin Sanian dan Iman Kita

2010-11-28T16:04:51.058-08:00

Oleh : Bambang HaryantoEsai Epistoholica No. 98/Juli 2010Email : epistopress (at) gmail.comHome : Epistoholik Indonesia"Sampah," demikian kata Prof. Rhenald Kasali dari Universitas Indonesia, "merupakan masalah kronis yang kini mengepung Indonesia. Dari Sabang sampai Merauke." Pernyataan pakar pemasaran itu mencuat saat berbincang-bincang dengan host Mayong Suryo Laksono dalam salah satu acara di stasiun televisi TVOne beberapa waktu lalu. Memang benar, sampah kini menjadi biang beragam masalah. Di samping mengganggu keindahan, sampah juga menjadi sarang penyakit, bahkan bisa mengakibatkan banjir. Sebagai contoh, di Bandung, seperti lapor koran Solopos (13/7/2010), "sampah per harinya mencapai 7.500 meter kubik. Jumlah tersebut setara dengan berat 1.000 gajah !" Menurut Rhenald Kasali, solusi yang terbaik untuk mengatasi wabah sampah itu harus dimulai dan dipecahkan sendiri oleh masyarakat setempat. Dan itu harus dimulai dari tiap-tiap individu warga negara di daerah bersangkutan. Solusi Bantul. Salah satu solusi kreatif yang muncul dari gerakan akar rumput telah dipelopori oleh warga Dusun Badegan, Trirenggo, Bantul, Yogyakarta. Berawal dari kesadaran individu, warga mulai mengumpulkan sampah di rumahnya. Sampah tersebut lalu disetorkan ke Bengkel Kerja Kesehatan Lingkungan atau yang kini lebih dikenal dengan nama Bank Sampah Gemah Ripah yang dipelopori oleh Bambang Suwerda. Tokoh muda yang pernah menjadi bintang acara Kick Andy ini dapat Anda sambangi di akun Facebook-nya. Di tempat ini sampah ditimbang, dicatat dan kemudian ditentukan harga dari sampah tersebut sesuai beratnya. Disinilah letak fungsi bank karena pencairannya dilakukan setiap tiga bulan sekali. Setelah tiga tahun berjalan, warga yang menjadi petugas bank sampah pun cukup kreatif. Tidak semua sampah dijual ke pihak ketiga. Mereka mulai memisahkan sampah yang bisa diproduksi kembali seperti sampah styrofoam yang diolah menjadi hiasan kotak penyangga bendera atau bekas bungkus makanan dan minuman yang disulap menjadi barang kerajinan. Ternyata, jika sampah dikelola dengan baik bisa mendatangkan manfaat, membawa berkah bagi warganya. Kabar baik dari Aceh. Solusi dalam pengelolaan sampah plastik juga muncul dari Lhokseumawe, Aceh. Seperti tertulis dalam kolom profil harian Kompas 6/7/2010, dengan judul "Wirausahawan Sampah Plastik," kita mengenal tokoh Baharudin Sanian (54)(foto). Insinyur mesin yang bekerja sebagai Senior Mechanical Engineering pada PT Exxon Mobile, tapi sering dianggap sebagai "gila" karena terjun menggeluti bisnis sampah dan mengurusi para pemulung. Keunikan pria yang suka bercanda ini membuat dirinya didaulat harian nasional itu sebagai figur inspiratif. Pak Baharudin Sanian menggeluti dunia sampah plastik sejak bencana tsunami menghantam Serambi Mekkah, Desember 2004. Untuk aksi sosialnya ia kemudian mendirikan yayasan, Palapa Plastic Recycle Foundation (PPRF). Emailnya : ppr151.foundation@yahoo.co.id. Penghargaan internasional pun mengalir. Tetapi sempat juga agak mengeluh, "saya lebih dikenal di Jakarta, atau Jawa, tetapi tidak di bumi Aceh sendiri," akunya. Tertarik dengan kiprah-kiprah kreatif itu, saya kini bersama teman saya Abdul Khaliq Ariestasya sedang berusaha merayu para calon bupati di Wonogiri yang akan maju Pilkada. Untuk menyelenggarakan temu wicara bertopik pengelolaan sampah secara inovatif yang dikaitkan dengan program ekonomi kerakyatan di Wonogiri. Gayung bersambut. Mem[...]