Subscribe: Catatan Lepas
http://feeds.feedburner.com/CatatanLepas
Added By: ihsan777 Feedage Grade B rated
Language: Indonesian
Tags:
budaya  dalam  dari  dengan  hal  ini  itu  kami  kegiatan  manggarai  menjadi  oleh  pada  ruteng  tak  untuk  yang 
Rate this Feed
Rate this feedRate this feedRate this feedRate this feedRate this feed
Rate this feed 1 starRate this feed 2 starRate this feed 3 starRate this feed 4 starRate this feed 5 star

Comments (0)

Feed Details and Statistics Feed Statistics
Preview: Catatan Lepas

Catatan Lepas



Wadah gagasan dalam mengemas peristiwa dan Cerita secara sederhana #Catatan Sekitar



Updated: 2018-04-14T12:05:14.645+07:00

 



Mahasiswa Kecamatan Ruteng Bangun Solidaritas Melalui PRIMAKER

2018-03-26T06:52:56.367+07:00

Puluhan mahasiswa yang berasal dari kecamatan Ruteng, Manggarai, yang tergabung dalam organisasi Perhimpunan Mahasiswa Kecematan Ruteng (PERIMAKER) adakan pertemuan dalam rangka membangun solidaritas antar sesama, pada Sabtu (24/03/2018).
(image)
Ketua Terpilih PRIMAKER (Tengah) Bersama Moderator dan Anggota
(Foto; Ira Irmawati)
Pertemuan yang berlangsung di ruangan Chomsky 02 STKIP Ruteng yang dihadiri oleh mahasiswa dari kecamatan ruteng yang berdomisili di kota Ruteng.

kegiatan tersebut bertujuan untuk membangun solidaritas antara sesama mahasiswa dari kecamatan Ruteng. Hal itu disampaikan oleh Ito Ndasung selaku inisiator pertemuan tersebut pasca kegiatan.

“kegiatan ini bertujuan untuk membangun solidaritas antar mahasiswa yang berasal dari kecamatan Ruteng. Selama ini kami tidak organisasi kami vakum, untuk itu perlu dihidupkan kembali” ujarnya.

Dalam pertemuan tersebut diadakan pula pemilihan ketua. Surni Asu’e terpilih secara aklamasi sebagai ketua PRIMAKER melalui forum musyawarah anggota.

Setelah pemilihan ketua berakhir, Ansi Jehata, moderator PRIMAKER memberikan arahan kepada semua anggota dari kecamatan Ruteng untuk lebih aktif dalam membangun PRIMAKER Yang bertujuan untuk membangun solidaritas antara mahasiswa kecamatan Ruteng.

"Saya mengajak kalian semua, untuk aktif terlibat dalam organisasi ini. Soliditas kita akan terlihat  bila semua anggota punya komitmen untuk bergabung dan membangun organisasi" pungkasnya.
Lebih lanjut, Ansi mengatakan mengenai prinsip dalam membangun organisasi diantaranya  program kerja, disiplin, dan pelaksanaan.

"Prinsip dalam membangun organisasi perlu dikerahui oleh kalian, diantaranya harus ada program kerja, harus disiplin dan pelaksanaan juga harus jelas" tuturnya.


Reporter: Ira Irmawati























(image)



PERISAI Akan Menggelar Pelantikan Pengurus Baru

2018-03-18T15:42:44.256+07:00


(image)
Pertemuan Lanjutan PERISAI (Foto ; Tari Jenahat)

Perhimpunan Mahasiswa Manggarai Langke Rembong (PERISAI) akan melaksanakan bina akrab sekaligus pelantikan pengurus PERISAI periode 2018/2019 pada Minggu, 25 Maret 2018 yang bertempat di Karot Cumbi, Gua Golo Curu.

Dalam pertemuan lanjutan Minggu, 18 maret 2018 bertempat di marga siswa PMKRI ruteng, PERISAI membahas beberapa item kegiatan yang dilaksanakan.

Adapun rancangan agendanya, diawali dengan sesi pelantikan, dilanjutkan dengan bina akrab yang mencakup sesi penyampaian motivasi setiap anggota, doa bersama, dan terakhir game kelompok yang bertujuan mempererat dan kekompakan anggota perisai.
Kegiatan ini merupakan kegiatan wajib yang bertujuan untuk membangun rasa persaudaraan setiap anggota, dan menjaga kekompakan dalam setiap pergerakan selama satu tahun kepengurusan. Hal itu disampaikan ketua umum perisai, Tary Jenahat pasca pertemuan berlangsung.

" kegiatan bina akrab ini, tidak hanya untuk berkumpul dan bersenang-senang saja, melainkan untuk membangun rasa persaudaraan setiap anggota, dan menjaga kekompakan kami selama 1 tahun ke depan " ujar Jenahat

Selain itu, kegiatan tersebut juga dilaksanakan di tempat terbuka, dengan tujuan untuk lebih santai dan rileks tetapi bukan untuk mengurangi keformalan acara dimaksud.

"Kegiatan ini dibuat lebih santai dan rileks, oleh karenanya dilaksanakan di tempat terbuka" lanjut Jenahat. (TJ/Pcl)(image)



Ini Pesan Moril tokoh Muda Manggarai, Heribertus Nabit Terhadap Gamasabar

2018-02-11T22:09:22.138+07:00

  • (image)
    Heribertus G. L. Nabit
    Foto : Dok. Gamasabar



Tokoh muda Manggarai asal Satarmese Barat Kabupaten Manggarai, Heribertus Nabit menyampaikan pesan moril kepada Organisasi Gabungan Mahasiswa Satarmese Barat-Utara (GAMASABAR) dalam kegiatan Bina akrab Anggota dan Pelantikan Pengurus baru GAMASABAR, periode 2018-2019, Minggu, (11/2) di Vila Alam Flores, Mbohang, Kecamatan Lelak, Manggarai.

(image)
Heri Nabit dan Istri, bersama Anggota GAMASABAR

Dalam kegiatan tersebut, Heri Nabit bersama istrinya, juga diundang untuk memberikan penguatan dan motivasi kepada semua peserta kegiatan.

Kehadiran beliau merupakan sebagai tokoh (orang tua) untuk berbagi pengalaman hidup berorganisasi untuk orang-orang muda.

Dalam pembicaraanya, tokoh muda Manggarai ini membicarakan kehidupan berorganiasi mahaiswa. Ia menyebutkan bahwa, Gamasabar adalah organisasi berbasis persudaraan. Gamasabar adalah sebuah organisasi kekeluargaan.

"Sebagai organisasi kekeluargaan, Gamasabar harus mampu merangkul semua orang (mahasiswa) dari Satar Mese Barat dan Utara dalam wadah ini" ujarnya

Ia menambahkan, semua anggota Gamasabar harus mampu menata diri dan membangun hidup bersama.

“Gamasabar adalah sebuah kelurga yang mampu membina tali persaudaraan yang sejati. Sebagai sebuah kelurga, setiap kita mampu belajar menata diri dan membangun hidup bersama demi menciptakan kesejahteraan bersama" imbuhnya

Tokoh Muda ini juga menambhakan, implementasi dari eksistensi gamasabar adalah sebagai fungsi kontrol terhadap semua anggota sebagai satu kelurga.

“disisi lain, gamasabar juga terdiri dari mahasiswa yangg masih kuliah diperguruan tinggi (STKIP Ruteng) oleh karena itu wajib mengontrol satu sama lain. Kita mesti saling menegur bagi mereka yang muncul kemalasan diri dengan dunia perkuliahan, itu yang saya harapakan” imbuhnya di hadapan ratusan peserta.

Selanjutnya, tokoh muda ini juga dalam pembicaraanya, menginginkan program kerja uggulan dari program kerja Gamasabar selain dibidang kerohanian. Salah satunya kegitan pemberdayaan masyarakat. Ia meminta merancang jenis kegiatan pemberdayaan masrayakat.

Program pemberdayaan masyarkat tentu akan mendapat dukungan darinya dan juga dan dari pihak-pihak yang bisa membantu.


Repoter :     Sergi Siswandy

Editor    :     Am/Pcl(image)



GAMASABAR Gelar Pelantikan Pengurus Baru dan Bina Akrab Anggota.

2018-02-11T23:56:38.491+07:00

(image)
Patrisius Jenapa (Kiri)
Foto: Dok Gamasabar

Gabungan Mahasiswa Satarmese Barat-Utara (Gamasabar) menggelar pelantikan pengurus baru dan Bina akrab anggota. Kegiatan berlangsung di Vila Alam Flores, Mbohang, kecamatan Lelak, Manggarai, Minggu (11/2).

Kegiatan yang diikuti ratusan mahasiswa asal Satarmese Barat-Utara tersebut berlangsung penuh dengan nuansa persaudaraan.
(image)
Para Anggota Bina Akrab dibagi dalam Kelompok

Patrisius Jenapa, Ketua Gamasar periode 2018-2019 dilantik secara resmi oleh Pembina Gamasabar, yang diwakili oleh, Servas Jemorang. Ia dilantik menggantikan, Karolus Tunduk.

Dalam sambutannya, Patrisius Jenapa, ketua Gamasabar mengajak semua anggota aktif gamasabar untuk bekerjasama dalam menyukseskan agenda Organisasi.

"Saya mengajak kita semua untuk menyukseskan berbagai agenda organisasi" Ujarnya.

Ia juga mengucapkan terima kasih atas segala dukungan dari berbagai pihak yang sudah menyukseskan kegiatan tersebut.

"Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak, khususnya para senior yang selalu setia mendampingi kami" imbuh mahasiswa PBSI tersebut.

Untuk diketahui, Patris Jenapa merupakan ketua ke lima Gamasabar sejak didirikan pada tahun 2012.

AM/PCL

(image)



GAMASABAR Gelar Rapat Persiapan Bina Akrab Anggota

2018-02-08T02:05:33.922+07:00


(image)
Peserta Rapat GAMASABAR
Foto : Sergi Siswandy

Ruteng,
 Gabungan mahasiswa Satarmese Barat-Utara (GAMASABAR) menggelar rapat persiapan kegiatan Bina Akrab Anggota (BAA) yang berlangsung di Tenda, Rabu (7/2).

Rapat dihadiri oleh pengurus, senior dan anggota aktif GAMASABAR. Rapat tersebut merupakan agenda perdana pasca terpilihnya ketua GAMASABAR, saudara Patrisius Jenapa, pada 30 Januari 2018 lalu.

Dalam rapat tersebut, beberapa agenda penting dibahas. Diantaranya persiapan Bina Akrab Anggota dan Pelantikan Pengurus GAMASABAR periode 2018-2019

Ketua Gamabasar, Patris Jenapa mengatakan kerjasama dari dari semua pihak sangat diharapakan untuk menyukseskan kegiatan.

" Saya sangat mengharapkan kerjasama dari kita semua baik dari senior, pengurus maupun anggota aktif untuk menyukseskan kegiatan" ujarnya.

Kegiatan Bina Akrab merupakan salah satu kegiatan wajib yang dijalankan dalam organisasi ini. Kegiatan ini bertujuan untuk mempererat tari persaudaraan antara anggota. Selain itu, dalam kemasan acaranya akan diisi dengan seminar dan permainan-permainan edukatif.

Kegiatan ini rencananya akan dilaksanakan pada tanggal 11 Februari 2018, bertempat di Vila-Mbohang, kecamatan Lelak.

Reporter : Sergio Siswandy
Editor      : AM/PCL(image)



Golo Lawis dan Kenangan Masa Kecil

2017-11-23T15:36:11.309+07:00

Golo Lawis, Foto by Apri ManturGolo Lawis merupakan salah satu bukit yang terletak di desa Kole, Kecamatan Satarmese Utara, Manggarai, NTT. Jika anda mendatangi bukit ini, anda akan disuguhkan pemandangan yang indah.Dari puncak bukit ini, anda bisa melihat hamparan persawahan satarmese yang memanjakan mata, aliran wae lolong yang berliku, plus deretan perkampungan di wilayah Satarmese. Selain itu, anda dapat menikmati angin segar yang mengusir kepenatan. Singkat kata, Golo lawis menawarkan sajian alam yang menakjubkan.Pada musim kemarau, bukit ini terlihat kusam, serupa wajah pucat tak berdarah. Tak ada rumput yang segar, semuanya pada kaku. Hal ini memancing tangan-tangan jahil untuk melemparkan percikan api. Lalu ludes terbakar. Bukit inipun rusak, berubah warna menjadi hitam, tidak elok dipandang, sebab hitam selalu identik hal-hal yang negatif.Bila musim dureng tiba, rumput-rumputan berlomba-lomba untuk tumbuh, menampakan keindahannya. Saat seperti ini, banyak warga sekitar membawa ternaknya seperti sapi dan kerbau untuk merumput di bukit ini. Tak hanya itu, pada musim dureng juga bukit ini diramaikan dengan buah-buahan pelepas dahaga. Hal inipun mengundang niat anak-anak yang tinggal disekitar tempat ini untuk bertandang.Masa kecil di Golo LawisSaya dan teman sebaya memiliki banyak kisah ditempat ini. Dulu, saat masih dibangku SD, sekitar tahun 2002-2007 Golo Lawis dijadikan tempat bermain. Tentu bukan karena, kami tidak memiliki ruang bermain selain tempat ini. Tetapi Golo Lawis memberikan kami kepuasan yang tiada duanya.Setiap hari, sepulang sekolah, beramai-ramai kami mendaki bukit ini, dengan jarak sekitar 500 meter dari jalan raya. Setiap kami, memiliki misi tersendiri ke bukit ini. Ada yang mencari kayu bakar, ada yang caling (memindai sapi dan kerbau untuk merumput). Dan saya kadang-kadang melakukan kedua hal tersebut.Terlepas dari dua hal tersebut, kami memiliki permainan kolektif yang menyenangkan. Yaitu nggosor (meluncur dari dataran tinggi ke dataran rendah). Permainan yang dilakukan dengan menggunakan pangka (sejenis dahan dari pohon enau dan kelapa). Teknisnya kita duduk diatas pangka tersebut dan meluncur pada tempat yang sudah dilicinkan dengan air.Jika bermain dimusim kemarau, permainan ini membutuhkan perjuangan yang panjang. Sebab untuk bisa menghasilkan kelicinan, kami menimba air menggunakan mulut dengan jarak tempuh sekitar 20 Meter. Sulit bukan? dan itu tidak menyurutkan perjuangan kami.Rasa capeh terbayar kala kami menikamti permainan tersebut. Poin penting yang dipetik dari proses ini kira-kira begini, "Untuk mendapat sesuatu, membutuhkan perjuangan" jelas pada waktu itu, kami tidak mengetahui makna ini. Sekarang baru terpikirkan. Ternyata sedari kecil kami sudah mengukir perjuangan.Permainan ini ekstrim, jika tidak lincah mengendalaikan, kaki dan tangan bisa patah. Lagi-lagi ini soal masa kecil, masa dimana kami belum bisa berpikir panjang soal akibat yang ditimbulkan. Bagi kami sepanjang permainan itu belum menuai kecelakaan semisal wotos domong, kamipun belum berhenti.Bagi saya berbicara tentang Golo Lawis, berarti berbicara tentang masa kecil saya. Indah dan penuh warna. Bermasa kecil di Golo Lawis berarti, sama seperti meyiapkan cerita untuk anak cucu kelak.Golo Lawis bukan soal bukit, tetapi soal siapa yang mempunyai kenangan ditempat ini.*[...]



Perjalanan Delegasi PMKRI Ruteng Menuju KSN Makassar

2018-02-15T00:27:42.280+07:00

Delegasi PMKRI RutengSore jumat, 22/9/2017, delegasi PMKRI Cabang Ruteng bertolak dari Ruteng menuju Labuan bajo, tempat awal berlayar menuju Makasar, tempat Konferensi Studi Nasional (KSN) PMKRI Santu Thomas Aquinas tahun 2017 diselenggarakan. Delegasi PMKRI Ruteng yaitu Dionisius Upartus Agat (Ketua Presidium), Engelbertus Apri Mantur (Sekretaris Jendral), Servasius Jemorang (Presidium Gerakan Kemasyarakatan) dan Donatus Juito Ndasung (Presidium hubungan perguruan Tinggi).Kami delegasi yang belum pernah mengikuti kegiatan di tingkat nasional pada kesempatan sebelumnya. Bagi kami, kegiatan seperti ini menjadi momen belajar, mengenal PMKRI ditingkatan nasional. Segalanya bagi kami perdana. Perdana keluar daerah, perdana mengikuti kegiatan nasional.Minggu malam, 24/9/2017, pukul 21.00, kami berangkat menuju Makasar, menggunakan kapal. Desiran ombak, hembusan angin, menemani  perjalanan kami selama kurang lebih 18 Jam, dari Labuan Bajo menuju Makasar mengukir kesan tersendiri. Tak ada dalam benak kami, di Kapal kami bersua dengan delegasi PMKRI Mataram. Bermalam di Kapal, berada dilaut lepas, kami berbagi cerita tentang kisah perhimpunan tercinta, benang fraternitas selalu mengikat kita dimanapun kita berjumpa tanpa memandang latar belakang.Senin sore, 25/9/17, sekitar pukul 15.30, kami tiba dipelabuhan Makasar.Senja belum pulang ke peraduaannya, gerimis mengiringi langkah kami melewati lorong-lorong yang asing bagi kami. Lima belas menit berlalu, kami tiba di Margasiswa PMKRI Makasar. Disambut gembira ria oleh tuan rumah. Seruput kopi mengisi perjumpaan kami. Se-jam lama berbincang, kami diantar menuju tempat  kegiatan KSN digelar. Kegiatan itu digelar di GOR Sudiang Makasar, Sulawesi Selatan. Kira-kira 60 menit waktu yang ditempuh dari Marga PMKRI Makasar. Barisan pepohonan hijau, menghiasi halaman di sekitar  Gedung.Tema KSN kali ini yaitu “Radikalisme dan Kesenjangan Sosial dalam Dimensi Pembangunan Nasional”. Rangkaian kegiatan kami jalani sejak tanggal 25-30 September 2017. Pembukaan kegiatan didahului sidang kehormatan dan dilanjutkan seminar nasional dengan menghadirkan narasumber-narasumber yang handal. Setelah itu, kami memulai kegiatan internal diawali dengan perkenalan, saling berbagi identitas, dan mendengar arahan dari panitia pengarah. Ratusan peserta KSN delegasi dari 34 Cabang yang hadir.Agenda demi agenda dilaksanakan sembari mengenal teman-teman dari cabang lain. Salah satu agenda yang elegan, ketika presentasi makalah dari setiap cabang. Pada kesempatan tersebut, PMKRI Ruteng mendapat undian presentasi diurutan ke-19. Sekitar seharian waktu presentasi dilaksankan.PMKRI Ruteng mengusung tema dalam makalahnya yaitu “Pemberdayaan Ekonomi Kreatif”.Dinamika presentasi sangat seru, hujan tanggapan datang dari berbagai perspektif. Pada akhirnya, kami delegasi PMKRI Ruteng dinobatkan sebagai presentasi terbaik dan mendapat juara satu. Rasa haru dan bangga menghiasi perasaan kami.“kami delegasi yang taampil perdana di forum nasional merasa bangga dengan pencapaian ini” ujar Patris, ketua PMKRI Ruteng.     Waktu kian berlalu, iklim panas Makasar terasa kala keringat membasahi tubuh. Sejuta harapan pada waktu yang berlalu agar kelak kami bisa berkisah hal serupa.OlehEngelbertus Apri Mantur, Sekretaris Jenderal PMKRI Ruteng.[...]



Secuil Kisah Dibalik Layar Kaca

2017-06-04T17:45:08.080+07:00

Minggu (4/6/2017) dini hari, pukul 02.45 Wita, barisan pendukung memadati gubuk kami yang bernama Margasiswa. Kik off babak pertama final Liga Champions 2017 antara Juventus vs Real Madrid menjadi alasan kita duduk bersama untuk menyaksikannya. Warna dukungan jelas berbeda, tetapi kita tetap tampilkan persaudaraan sejati. Mayoritas massa mendukung Real Madrid, termasuk saya. Sepuluh menit pertandingan berjalan, beragam komentar dilontarkan, gelombang dukungan digalakan untuk kedua tim. "Juventus, akan menang kawan, mereka sudah berpengalaman" Ujar Ito Ndasung, suporter Barcelona, yang pada kesempatan tersebut, mendukung Juventus. Entah alasan apa, yang terlintas dibenak sahabatku ini, padahal pada partai perempat final Juventuslah yang menyingkitkan Barca dengan agregat 3-0. Tapi saya bisa membaca hal ini, "Mungkin karena Real Madrid yang bertanding" ketusku dalam hati. Fenomena mendadak menjadi pendukung Juve, memang bukan hanya di tempatku saja, dimana-mana, hal ini terjadi. Entah, aroma Cristiano Ronaldo yang mengiurkan suporter lawan, atau hanya mencoba lari dari kenyataan karena Barcelona gagal merumput dipartai final. Sudalah, ini hanya asumsi saya sebagai pengamat dari kaca mata sepihak.Komentar-komentar sempat terhenti, pasca CR7 membobol gawang Juve. Sorak-sorai mengema di Gubuk kami, yang terletak di Belakang Gereja Katedral lama, Ruteng. Hal ini, sempat memancing emosi pendukung Juve, untunglah gol spektakuler dari Mandzukik, bisa membuka mulut sahabat kami, yang sebelumnya bungkam kembali terbuka lebar. Jual beli ejekan tak terhindarkan pasca keungulan berimbang, ujaran sinis tak terbendung sampai turun minum.Rehat sejenak, waktu yang tepat menyampaikan analisis dari berbagai sisi."Juventus pasti menang, terbukti gol indah yang dilesatkan oleh Mandzukic" kata Jhonas Padur, sambil berdiri ditengah kerumunan suporter El Real. Saya menanggapinya dengan senyum, dalam hati masih tersimpan rasa optimis. Terbukti, pada saat babak kedua berjalan sepuluh menit, sepakan jarak jauh Casemiro, kembali membuat sahabat kami patah semangat, ada yang berkali-kali pindah tempat duduk, ada juga yang tiba-tiba ngantuk. Inilah variasi ekspresi yang ditampilkan oleh mereka. Hal yang sama kembali terjadi, setelah CR7 membobol gawang Bufon yang kedua kalinya. Tetapi bedanya, keunggulan ini, membuat suporter Juve yang tadinya patah semangat, memilih beranjak dari tempat duduk. Bukan hal biasa, gol keempat Real Madrid yang dicetak oleh Marco Asessino, membuat sahabat kami langsung tidur, tanpa mengeluarkan sepatah katapun.Pluit panjang, tanda berakhir pertandingan, El Real, Resmi mengangkat 'Si Kuping Besar' secara beruntun. Tim pertama yang bisa mempertahankan gelar bergensi ini, melahirkan sejarah baru."Juventus, Anda memang hebat,tetapi Anda harus akui,Madrid masih yang terhebat! Jangan menangis,Anda masih peroleh juara 2. Terimalah itu dengan hati yang ikhlas! Akuilah rivalmu Real Madrid! Ada istilah, "masih ada langit diatas langit". Anda memang berada di langit, tetapi Real Madrid berdiri seribu kilo meter di atas Anda. Juventus, Anda harus paham bahwa esensi dari suatu pertandingan yaitu kalah dan menang. Ini tidak dapat dibantah! Hanya kemudian Anda berada di posisi kalah,maka dengan itu terimalah kekalahan yang saat ini sedang menggerogoti Anda. Hati ikhlas menerima kekalahan adalah suatu bentuk penghormatan terhadap hal prinsipil dalam suatu pertandingan. Janganlah berkecil hati! Nikamati saja piala yang di pikul saudaramu "REAL MADRID" karena mereka adalah Raja Bola dunia!" ketus Jho Gervasius, suporter garis keras Real Madrid, dalam postingannya diakun facebook.Kekalahan Juventus mengisahkan banyak cerita. Cerita bagi Club, pemain, sampai pada suporter. Ulasan ini merupakan bagian kecil kisah yang kami alami. Masih banyak, kisah-kisah yang tidak disematkan disini, yang mungkin lebih menarik, biarkalah waktu yang akan mengiatkan kisah [...]



0 Komentar

2017-05-27T08:50:25.627+07:00

PMKRI Kian Menatap SenjaPerhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia memasuki umur yang ke-70. Eksistensinya tak diragukan di Indonesia. Begitu banyak gagasan dan gerakan yang sudah dibuat untuk bangsa ini.Tak terasa, Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Sanctus Thomas Aquinas kian menua. Untuk seorang manusia umur 70 tahun merupakan umur senja, tapi untuk sebuah perhimpunan, seharusnya, umur tak menjadi alasan untuk tetap menjaga nilai-nilai gereja dan tanah air, seperti sloganmu Pro Ecclesia et Patria yang berarti untuk gereja dan tanah air.Terwujudnya keadilan sosial, kemanusian dan persaudaraan sejati, menjadi dasar engkau berarah. Dengan berjuang dengan terlibat dan berpihak pada kaum tertindas, melalui kaderisasi intelektual populis yang dijiwai nilai-nilai kekatolikan untuk mewujudkan keadilan sosial, kemanusian, dan persaudaraan sejati, sebagai jalan engkau melangkah.Dengan anggaran dasar dan rumah tangga, engkau bernaung, gubuk Margasiswa tempat berdialektika, beromantika, dan berdinamika dengan gagasan. Dari tempat sederhana itu dipetik sejuta cerita, segudang pengetahuan, dan pengalaman yang berharga. Begitu banyak kisah yang terabadikan dalam lembaran kenangan putra-putrimu.Kaderisasi dan perjuanganmu tercatat dalam sejarah. Dari generasi ke generasi, engkau wariskan kultur perhimpunan. Intelektualitas, spiritualitas, dan fraternitas yang menjadi benang merah dan mengikat setiap anggotanya dalam berproses. Memasuki usiamu yang ke-70, baret merah-bol kuning, tak akan pernah luntur dalam berjuang. Membenah diri, melalui sistem pembinaan formal, informal, dan nonformal.Dalam berproses, kader-kader PMKRI dibekali identitas kader untuk mencapai keunggulan pribadi dan berkarakter. Sensus chatolicus atau semangat man for others, sensus hominis atau pribadi yang menjadi teladan, universalitas dan magis semper. Usiamu kini menatap senja, lika-liku dinamika sosial engkau hadapi dengan tegar, sayapmu menebar dari sabang sampai merauke. Dari rahimmu, engkau lahirkan kader-kader tangguh yang tersebar ke selruh pelosok negeri. Engkau hadirkan jalan keluar dalam rangkaian persoalan bangsa.Umur 70 tahun menjadi momen untuk terus berbenah. Menjadi saat yang tepat untuk menatap senja dengan bijaksana dan ketenangan. Terus menua tanda dewasa, menatap senja dengan bijaksana. Senja tanda datangnya kegelapan, menggerus cahaya matahari, perlahan nan pasti. Tetapi senja itu indah, ketika warna yang tepat menghiasi.Senja bukanlah akhir, senja hanya proses yang harus dilewati. Menua bukan usang, namun dewasa. Dewasa dalam melahirkan gagasan, tenang dalam bertindak, namun pasti dalam melangkah. Sudah 70 tahun bendera perjuanganmu berkibar di Negeri ini. Petikan perjuang Pro Ecclesia et Patria akan selalu tergiang dan menggema. Dirgahayu PMKRI. Jayalah Selalu.Religio Omnium Scientiarum Anima !!!Pro Ecclesia et Patria !!! Penulis: Engelbertus Apri ManturSekretaris Jenderal PMKRI Cabang Ruteng Sanctus Agustinus Periode 2016-2017Sumber: http://www.pmkriruteng.com/2017/05/pmkri-kian-menatap-senja.html[...]



0 Komentar

2017-05-27T08:32:54.085+07:00

Golo Cador, Keindahan Yang TersembunyiBersahabatlah dengan alam, kira-kira itu makna yang bisa dipetik kala kita menemukan keindahan yang tersembunyi, di Kelurahan Golo Cador, Kecamatan Wae Ri’i, Kabupaten Manggarai, panorama yang menyejukan, dari atas bukit kita melihat hijaunya padi yang berbaris rapi di petak persawahan warga.Rabu sore (12/04/2017), entah apa yang terlintas dibenak kami, tiba-tiba ide itu muncul. Bosan dengan bisingan kendaraan dilingkungan sekitar, kami berkunjung di salah satu tempat wisata di Kecamatan Wae Ri’i. Tempat wisata yang cukup dikenal oleh kaum muda. Membutuhkan waktu kira-kira 15 Menit dari Kota Ruteng, dengan jalan yang cukup menantang kami tiba ditempat tujuan.Dengan tujuan rekreasi, kami yang berjumlah delapan orang memilih melepas senja di atas bukit yang bernama Golo Cador. Golo bahasa daerah setempat yang berarti bukit sedangkan Cador nama sebuah tempat. Misi mengabadikan momen menjadi alasan utama. Seorang dari kami, selalu mengamuk kala dilarang berselfie. Keindahan Golo Cador sangat memesona, tatapan mata terhipnotis oleh indahnya pemandangan, angin sepoi-sepoi yang menusuk tubuh bercampur suasana hati bergembira. Tak ada kata bosan ketika kami berteman dengan hijaunya rumput, membentangnya sawah berbentuk jaring laba-laba dibagian timur bukit ini. Menyegarkan pikiran sangat ampuh ditempat ini.“aku ga toe ma sanggup (saya tidak sanggup)” ujar Susan, salah satu dari kami, menyiratkan kekaguman, ketika menatap alam nan indah. Sebagian dari kami, menikmati senja yang kian tenggelam. Rangkain ekspresi diabadikan dalam jepretan. Edisi kunjung alam sangat menyenangkan. Tempat yang indah, Sayang kalau luput dari sentuhan pengunjung.[...]



Ketika Ruang Interaksi Direnggut dari Masyarakat

2017-05-21T00:45:31.050+07:00

Ketika Ruang Interaksi Direnggut dari MasyarakatPantai Pede | Photo: Instagram @nawaldillaSelasa (28/3) sore, senja masih nampak di dekat awan, belasan anggota Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Ruteng, bergegas menuju Labuan Bajo, ibu kota Kabupaten Manggarai barat, yang dikenal dengan kota pariwisata nanindah. Perjalanan dengan jarak 135 kilometer (km) dari kota Ruteng itu ditempuh dengan kondisi jalan yang dihiasi belokan-belokan tajam dan penuh lubang. Namun, hal itu tak menjadi penghambat oleh pasukan gereja dan tanah air itu.Bersama cuaca yang cerah dan bermodalkan sepeda motor, mereka melintasi jalan ditemani senja. Angin menusuk tubuh, tak dihiraukan. “Tidak apa-apa, kita sudah biasa dengan situasi seperti ini,” ujar Ketua PMKRI Cabang Ruteng Patris Agat sambil tersenyum.Agenda penolakan privatisasi pantai pede, menjadi target mereka bertolak ke Labuan bajo. Sekitar pukul 18.00 WITA, Patris dan anggotanya berhenti sejenak di jembatan Wae Longge, Manggarai Barat. Menikmati kopi, berdiskusi, menjadi sajian ditempat singgahan itu. “Biarkan tempat ini menjadi saksi perjuangan kita kawan,” cetus Celos, salah satu angggota.Tiba di Labuan bajo pukul 20.00 WITA, bersua dengan insan yang memiliki target yang sama. Di gubuk Kevikepan sebagai tempat perjumpaan bersama. Iklim labuan bajo yang panas, disambut dengan gagasan berlian dari para penentang penguasa. Rangkaian tuntutan dirampungkan dalam semalam, strategi dirancang sedemikian rupa.Rabu (29/3) pagi, menggunakan mobil yang dilengkapi pengeras suara. Ratusan massa berkumpul di Nggorang, sekitar 2 km dari kota Labuan Bajo, menggaungkan lagu perjuangan melawan panasnya matahari. Gerakan massa menyita perhatian warga sekitar. Melalui pintu rumah, mereka melihat dan memberikan semangat sambil teriakan “Hidup rakyat,” menggema.Dalam semangat membara, orasi dari Patris bergelegar dibarisan aksi. “Pantai pede, salah satu ruang publik yang tersisa di Manggarai barat, sangat disayangkan kalau dikelola oleh investor, pemerintah harus mempertimbangkan kebuthan rakyat, jangan mengutamakan kepentingan kapitalis,” tegasnya.Massa asksi bergegas menuju kantor bupati Mangarai Barat, didepan halaman kantor yang luas, dua peti mayat diletakan sebagai simbol matinya nurani pemimpin. Bertuliskan RIP Frans L dan RIP Gusti CD. Kehadiran mereka diterima oleh Wakil Bupati Manggarai Barat Maria Geong. Dengan semangat yang bergelora, mereka membacakan tuntutan dan nyatakan sikap menolak privatisasi pantai Pede. Dasar dari penolakan ini, merujuk pada UU No 8 Tahun 2003 tentang pembentukan Kabupaten Manggarai barat dan suratkeputusan (SK) Mendagri Nomor 170/3460/SJ pada 13 September 2016, tentang privatisasi pantai Pede. Dalam surat itu, Mendagri memerintahkan Gubernur NTT untuk menaati UU No 8 tahun 2003, dan meninjau kembali pengelolahan pantai Pede oleh PT. SIMMenanggapi tuntutan massa, pemeritah yang diwakili Maria Geong mengatakan, pihaknya akan berkoordinasi dan menyampaikan pesan ini kepada bupati. “Saya akan menyampaikan tuntutan ini kepada bupati Manggarai barat, karena bupati lagi berada diluar daerah,” kata Maria dihadapan massa sambil megernyitkan dahi seakan takut.Hampir tiga puluh menit, para pendemo berteriak dan menatap pejabat-pejabat birokrasi Mabar. Setelah itu, mereka melewati lorong-lorong kota Labuan bajo, suhu panas tak dirasakan, bagi mereka itu hal yang wajar. Mendesak wakil rakyat Mabar untuk bersama-sama melawan kebijakan sepihak pemerintah. Bersorak dengan semangat bersama, mereka mengajak DPRD kabupaten Mabar, untuk bersama-sama menduduki pantai pede yang luasnya 31.670 meter persegi yang selama ini dikenal sebagai natas bate labar atau ruang publik secara adat Manggarai.Tak berpikir panjang, semua anggota DPRD Mabar dibawah pimpinan Belasius Jer[...]



0 Komentar

2017-05-24T01:04:42.510+07:00

Fenomena  pondikdalam pesta demokrasi ManggaraiIlustrasiCerita rakyat daerah Manggarai dengan tokoh pondik merupakan salah satu cerita rakyat yang tak akan hilang. Bawasaannya cerita pondik mengisahkan seseorang dengan modus tipu muslihatnya untuk menggolkan sebuah kepentingan atau mengelabuhi lawan. Pondik identik dengan orang yang memiliki potensi dalam hal penipuan. Hal demikian terbawa dalam kehidupan sosial masyrakat, misalkan saja ketika ada orang yang suka menipu, masyarakat setempat langsung mevonisnya sama seperti pondik.Persepsi tentang pondik bagi orang Manggarai merujuk pada hal negatif. Masyarakat Manggarai cendrung mengajarkan anak-anaknya agar terhindar dari perilaku pondik. Perilaku pondik memang berpotensi menimbulkan konflik dan menggangu ketentraman dalam hidup bersama.Perilaku semacam pondik menjadi musuh bersama orang Manggarai. Kita memang tidak menginginkan perilaku semacam ini ada dalam wadah kebersamaan. Tetapi ketika orang cendrung berpikir pragmatis, maka segala hal pasti dilakukan.Fenomena pondik selalu nampak dalam setiap momen, adagium klasik dimana ada gula, disitu ada semut tepat untuk mendeskripsikan fenomena ini, artinya momen juga salah satu sumber lahirnya pondik.Dalam konteks pesta demokrasi Manggarai, kemunculan pondik memang bukan hal yang baru. Pasalnya para kandidat, tim sukses dengan caranya masing-masing dapat memprngaruhi masyarakat. Dengan jargon-jargon politiknya yang klasik dengan mengkampanyekan program-program mengiurkan.Kemunculan pondik dalam pesta demokrasi semisal pilpres, pilgub, pileg, pilkada dan pilkades semakin marak. Hal ini dibuktikan dengan tawaran program yang tidak menyentuh akar persoalan, janji-janji palsu, mengedepankan sentimen primordial dan hadir dengan tampilan  munafik.Pondik DemokrasiPolitik memang kotor, jika tidak kotor berarti bukanlah politik. Itulah slogan yang disampaikan para pengamat politik yang sering tampil di televisi. Slogan itu memang pas untuk mewakili realitas politik di Manggarai dalam kanca pesta demokrasi. Pondik politik muncul dari berbagai penjuru.Merayu dukungan massa dalam memenangkan pesta demokrasi bukanlah hal yang mudah. Takkala beragam strategi harus dimainkan dengan rapi. Kebusukan kandidit dibungkus dengan rapi agar massa tidak melihatnya, mencari kebusukan lawan dengan melontarkan statemen kontraversial. Inilah warna dalam pesta demokrasi kita, khususnya di  Manggarai yang sudah beberapa kali mengikuti pesta demokrasi.Tipu muslihat ala pondik merupakan sebuah patologi sosial, hal ini perlu ditanggalkan sejak dini. Jangan sampai hal ini terpola dalam setiap ajang pesta demokrasi. Pesta demokrasi sebagai ajang pemilihan pemimpin yang ideal. Pondik-pondik demokrasi perlu dibasmi. Demokrasi bersih, lahir dari proses yang bersih. Mari mewujudkan demokrasi beradap tanpa kehadiran pondik demokrasi.[...]



0 Komentar

2017-05-24T01:07:02.113+07:00

IA dan MIMPI
Berawal dari nada, berbisik pada daun yang jatuh. Akankah ada seorang untuk membantunya memberinya belahan senja? Pada matahari ia berpasrah, pada bulan ia mengadu, pada bintang ia berteriak, pada angin ia berlari, pada dinding ia memberikan bingkisan kelelahan. Ia mengejar sang pelayan takdir yang sembunyi dibalik pintu mimpinya. Mimpinya berkeliaran ke sana-kemari yang tidak dapat dirangkai secara sempurna dalam selimut berwarna-warni. Pagar pembatas jalan dihias oleh sekeping kegelisahan tak pernah roboh oleh badai air mata. Asinnya kenangan selalu menghiasi langkah pengawas mimpi. Mimpi yang tak pernah jeda diakhir pekan, selalu berlayar pada detak-detik senja yang tenggelam menemani awan. Ia dan mimpinya tak pernah bersama dalam melangkah selalu menghindar dipersimpangan peristiwa segitiga. Terkadang mimpinya tersandung pada batu pilar berwarna hitam-putih. Terkadang juga menghilang pada teka-teki silang
(image)



Sajak Kota Kecil

2018-02-10T23:30:04.545+07:00



Waktu terus berlalu, rasa untuk memiliki sebuah makna belum juga bisa diraih. Jembatan untuk melagkah roboh karena pikiran yang memandang pada secarik lintasan cita-cita terbang bersama burung pipit membawa kisah yang dirangkai oleh seorang penangkap mimpi memakai gelang tafsiran. Ladang perjuangan yang masih jauh telah dihiasi oleh masalah-masalah yang menumpuk di instansi-instansi birokrasi. Serpihan seruan, recehan tuntutan, ratusan keluhan menghiasi Kota Ruteng yang indah dengan senyuman para pedagang, tukang ojek dan para pelintas setapak. Tak pelak jika para pemangku kebijakan bermain petak umpet pada APBD yang digosipkan di rumah legislatif. Jatah untuk rakyat dibelokan ke tepi etape para pembalab sepeda yang datang karena ajang untuk melihat keindahan bumi congka sae katanya. Tangisan dari timur, barat, selatan, dan utara hanya menginap di ruangan janji. Janji untuk merakyat kini dibalut oleh jasa para sahabat yang mengantarnya pada puncak kursi empuk. Sahabat memang yang pertama, sahabat memang harus di manja, karena sahabat Ia bisa di andalkan dalam menggocek yang menantang. Akankah Kota ini dibiarkan tumbuh dengan sarang-sarang kemiskinan yang terus menjalar di persimpangan data. Harapan dari kalangan jelata agar sang komando kembali pada bantal peluk yang bermerek “merakyat”. Merakyat pada kata, merakyat pada perbuatan adalah kado yang harus dikemas dengan senyuman. Satu perubahan satu senyuman adalah langkah awal menuju revolusi.
(image)



0 Komentar

2017-05-24T01:16:58.987+07:00

Eksistensi Budaya dan Amnesia Identitas(Menilik Eksistensi Budaya “tengge” di Kalangan Kaum Muda Manggarai) Sekilas Tentang BudayaBudaya adalah sesuatu yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Budaya sebagai makan, minum dan rumah tinggal (home) untuk manusia. Budaya melahirkan manusia yang sungguh manusia yang mencapai kepenuhannya. Bagaimana itu dipahami? Sebuah perspektif bahwa manusia tanpa memliki budaya ia tidak menjadi seorang manusia yang mampu berpikir, bertindak, dan menentukan yang baik dan buruk, benar dan salah. Inilah peran budaya bagi manusia. Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Istilah untuk pendapat itu adalah Cultural-Determinism.Manggarai merupakan daerah yang kaya akan budaya. Hal ini terdapat dalam keanekragaman wujud budaya. Ada bahasa, sistem mata pencaharian, upacra adat, kepercayaan, kesenian dan wujud kebudayaan lainnya. Manusia sebagai pemegang kebudayaan, dan fungsi kebudayaan itu sendiri mengatasi  naluri untuk bertindak sewenang-wenang tanpa bertanggung jawab. Selain itu mengatur, menyelaraskan dan membatasi perbedaan kebiasaan setiap individu yang unik dan khas.Berangankat dari ulusan  pemahaman tentang budaya kita mencoba melihat wujud kebudayaan daerah manggarai yang terletak pada budaya tengge. Tengge merupakan kebiasaan orang manggarai yang tertanam pada setiap orang yang mengandung suatu perpektif yang wajib dan memilki nilai santunitas. Tengge berarti mengenakan kain tenun yang terletak di pinggang hingga kaki. Budaya tengge sebuah tradisi dari nenek moyang dahulu yang diwariskan secara turun-temurun. Tradisi ini digunakan dalam konteks seperti upacara adat, lonto leok, (duduk bersama) menerima tamu, dan urusan lainnya. Budaya tengge ini menjadi identitas atau ciri khas orang manggarai. Pada substansinya budaya ini mengikat dan melekat pada setiap insan kehidupan orang manggarai. Budaya “ Tengge ” di Kalangan Kaum Muda Mangarai  Modern ditandai dengan suatu kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Kemajuan yang pesat memiliki pengaruh positif dan negatif. Dengan adanya kemajuan membantu manusia mudah memperoleh kebutuhannya. Namun di sisi lain ada pengaruh negatif. Hal ini lebih spesifik dampaknya terhadapbudaya. Suatu fakta yang menunjukan eksistensi budaya termarginal karena pengaruh budaya asing yang terbawa oleh kendaraan globalisasi. Bagaimana dengan budaya tengge manggarai di kalangan kaum muda yang eksistensinya pada mula kokoh dan tercorak kini menjadi luntur dan terdegradasi?Kalau kita melihat sepintas akan menemukan beberapa faktor memengaruhi budaya tengge menjadi pudar ialah  kaum muda menganggap budaya tengge suatu yang kuno, budaya tengge tidak elegan, budaya tengge tidak gaul bagi anak muda. Faktor ini tentu berpengaruh pada kurangnya kecintaan untuk mempertahankan budaya tengge tersebut. Kurangnya pemahaman tentang budaya tengge meyebabkan kurang percaya diri  menunjukan identitas orang manggarai.Hal tersebut terkesan “Amnesia identitas” budaya sebagai identitas wajib dilestarikan dan dikembangkan dalam kehidupan. Keberadaan budaya tengge dikalangan kaum muda manggarai sangat memprihatinkan. Animo kaum muda yang konsumtif dan hedonis berpengaruh terhadap perkembangan budaya, karena anggapan tidak elok jika dikemas dalam setiap aktivitas dan budaya tengge juga tidak memenuhi kriteria dalam konteks modern.  Untuk mengembalikan budaya tengge ini pada relnya kita kembali pada diri kita sendiri, khususnya dikalangan ka[...]



Kukirim Rindu ini

2018-02-10T23:29:22.294+07:00

Pancaran bulan purnama bertabur bintang. Mengingatkan aku akan sebuah nama.  nama lama tetapi nama itu masih menari-nari dalam setiap imajinasiku. Angin sepoi  berhembus berlahan-lahan datang menusuk hati yang tengah galau. Jarum jam menunjukan pukul 12.00 . Suhu rindu mulai tensi tinggi dalam lamunanku, mengingatkan Dia yang pernah menjadi bagian dari jiwaku.*Racang Rak, Arit Ati*            Kisah 4 tahun lalu yang seakan telah ditelan waktu. Kisah itu memang kisah silam tetapi masih bekas dalam sebuah kenangan di Almamaterku. Dimalam yang begitu sunyi senyap bertabur dinginnya kota Ruteng. Aku termenung sendiri dalam dilema tentang sebuah nama.Dalam sajak-sajak kerinduan yang masih tersimpan bayangan sebuh nama dan senyuman manis manja itu.Terpampang pada bayangan sosok seorang gadis cantik, murah senyum dan selalu ceriah. Itulah yang membuat diriku sulit sekali untuk menghapus setangkai kenangan bersamanya.Disetiap detik-detik hembusan nafasku hanya ada Dia. Sejak perpisahan itu, kabar tentang Dia telah sirna ditelan waktu. Bahkan tentang  Dia sekarang aku pun tak tau lagi. Kemanakah Dia pergi ? apa yang sekarang Dia buat. Semua kabar tentang hidup gadis itu, telah sirna dalam sela-sela kisah cerita hidupku.Memang pada saat detik-detik perpisahan di Almamaterku tercinta. Dia menagis dalam pelukan perpisahanku. Aku coba menatap matanya yang penuh air mata, dan aku bertanya “ kenapa kamu menagis ? “ bukankah perpisahan berawal dari pertemuan ?Dia menjawab dengan penuh air mata “ perpisahan diantara dua insan yang terikat dalam kemasan asmara memang sulit, tetapi aku mencoba untuk menerima kennyatan ini dan kusimpan dalam dokumen kenangan, yang nantinya akan kubuka pada saat sang suria menyinari langkah hidupku dan langkah hidupmu”  Jawaban singkat tetapi syarat makna itu masih tersimpan di benakku dan masih tergiang ditelingaku akan kata-katanya. Akupun termenung dan ingin sekali membongkar kenangan yang selama ini terjepit dalam sebuah tembok kerinduan yang kian retak karena terkikis air mata. Tetapi kerinduan tak bisa hilang sekejap, akupun mengambil selembar kertas putih dan pena, dan mencoba menuangkan segala kerinduan yang mendalam, dan kukirim lewat angin agar alampun tahu bahwa aku sangat merindukan sosok yang pernah mendampingiku disetiap detak-detik kehidupanku. ***Dalam selimut, Oktober 2015** [...]



Bingkai Harapan

2018-02-10T23:28:24.293+07:00

*NeraWulang*Hari itu semenjak Rinus melihat denganya, Ia merasa seakan-akan apa yang impikan selama ini tidak sesuai dengan harapannya. Harapan akan bersama melangkah dengannya sudah pupus , setelah Ani yang selalu dia idamankan dalam mimpi tudurnya berpaling pada Laki-laki berambut kriting.Rinus yang kesehariannya selalu ceria kini tiba-tiba berubah menjadi kusut bagaikan bunga yang dijemur pada panasnya matahari, hatinya tenggelam, perasaannya melayang terbang dan terkadang mendarat pada ranting kering, perasaan yang selama ini tersimpan rapi pada bingkai harapan, kini tercecer tak tau arah, cinta yang dikemas dalam bingkisan kesetian kini tak tau kepada siapakah seharusnya ia berikan, apakah kepada awan yang selama ini menemaninya dalam setiap langkah hidupnya ? ataukah kepada angin yang selalu setia mengirimkan kabar tentangnya ? semua tidak akan terjawab, hanya air mata yang bisa membuktikan cinta seseorang.“ semoga ia bahagia dengan pilihannya ” keluh Rinus sebelum menutupi matanya dengan selimut. “ Apakah aku tidak pantas untuknya ? ataukah Apa aku tidak layak untuk memilikinya ? ucapnya dalam hatiHari berganti hari, bulan berganti bulan, Kabar dari Ani tak pernah tergiang ditelinganya, angin yang selalu memberi kabar juga tak pernah datang disetiap detik kehidupannya, sampai pada suatu hari alam menjadi saksi bisu ketika Rinus secara tak diduga, bertemu dengan Sang dambaannya di sebuah tempat Rinus terkejut dan diam seribu bahasa dan lebih terkejut lagi ketika Ani mengatakan “ Apa kabar “ ?, dengan lembut ia menjawab “ kabarku tak menentu karena perasaanku tak bisa mersakan apa yang sedang kurasakan ketika sesorang yang selama ini kuharapkan dalam mimpiku bertannya tentang kabarku ““ Apakah salah jika yang orang kamu harapkan itu pergi mencari setangkai pelangi dan membawa selembar puisi untuk seorang yang mengharapkannya” balasnya dengan seribu senyuman .“ Apa maksudmu ? tanya Rinus dengan penuh penasaran, “ haruskah aku menghapkan seseorang, yang sudah menjadi pelangi dihati orang lain”.“ Apakah perlu kucatat dalam sejarah bahwa pelangi yang selama ini kutunggu, kini sekarang mulai melukis di alam perasaanku, karena sebernarnya aku pergi untuk kembali “ ucapnya sambil memalingkan wajahnya pada Rinus.Mendengar itu Rinuspun berkaca-kaca sambil berkata “sejujurnya pelangi itu akan indah ketika kita bersama untuk melukiskan kehiduapan “. Hati Anipun bergelora dan bahagia, ia pun kembali mengatakan“ kisah ini akan kukenang, tak akan kubiarkan kisah ini menjdi asin.Sejak pertemuan itu Rinus dan Ani bersama dalam setiap nampak dan senjanya sang surya.*AM*November 2015*        [...]



Kegagalan Substansi Tugas Polisi

2018-02-10T23:27:34.861+07:00

(Aksi Solidaritas PMKRI Cabang Ruteng St. AgustinusMengecam tindakan Represif Polres Ende)Dalam beberapa edisi pemberitaan Flores Pos (Edisi tanggal 10 dan 11 Mei) mengupas tentang insiden represif yang dilakukan oleh aparat Polres Ende terhadap aktivis PMKRI Cabang Ende menuai kecaman dari banyak pihak. Hal ini tentunya menjadi indikator bahwa misi mengayomi dan melindungi masyarakat gagal dalam tataran implementasi. Tindakan yang mengkebiri perjuangan untuk mencapai bonum comunie justru terbentur oleh tindakan represif yang mengabaikan unsur dialogis dalam hal menanggapi kelompok (PMKRI Cabang Ende) yang mengemukakan pendapat. Menjadi tugas dan tanggung jawab mahasiswa dalam mengaktualisasi perubahaan sosial, reformasi sudah menjadi ruang gerak yang leluasa untuk berekspresi bagi siapapun. Hal ini seharusnya disambut gembira oleh banyak pihak termasuk kepolisian, apa yang dilakukan oleh kawan-kawan PMKRI Cabang Ende sejatinya adalah bentuk ekspresi untuk menyikapi berbagai polemik sosial yang terjadi di Ende. Tentunya diapresiasi bukan diintimidasi. Berangkat dari fakta diatas bawasannya polisi lupa pada tugas dan tanggung jawab yang diembannya.Sebagai negara yang hidup dalam ekosistem demokrasi bentuk penyampain pendapat semisal unjuk rasa, orasi, petisi dll adalah hal yang wajar. 18 tahun Indonesia sudah hidup dalam bingkai reformasi. Semenjak sang aktor orde baru lengser, kebebasan berekspresi menjadi kado yang harus dikonstruksi bukan didestruksi. UU No 9 Tahun 1998 tentang kemerdekaan menyampaikan pendapat di muka umun menjadi bukti administratif. Tentunya bumerang jika hak ini dicaplok oleh oknum-oknum polisi. Pencerahan pemahaman perlu dilakukan secara komprehensif terhadap aparat yang bertindak tidak sesuai dengan tupoksinya. Sadar akan posisi merupakan bagian dari menghargai diri sendiri, bertanggung jawab atas tugas bukan mengkianati, meludahi institusi, menunjukan mental animalitas yang menyebabkan dekadensi moralitas dalam kehidupan demokrasi. Jangan memasung demokrasi.Polisi dan PremanDiskursus tentang kriminal langsung merujuk pada preman. Preman dalam kehidupan sosial menjadi musuh bersama dari berbagai kalangan. Tentunya yang menjadi penilaian masyarakat adalah tindakan yang menggangu ketertiban publik bahkan sampai pada rana kesenjangan sosial. Sikap premanisme ini ada pada tataran aparat kepolisian yang notabene ada untuk melindungi dan mengayomi masyarakat. Polisi dan preman dalam hal ini sejatinya sama, hanya saja polisi punya seragam dan senjata yang menjadi instrumen pengenal. Sedangkan preman yang hanya bermodalkan kebengisan dan kebringasan. Dalam tindakannya tentunya sama saja lebih mengedepankan otot dari pada otak. Seragam dan senjata bagi polisi menjadi alat untuk mengintimidasi orang. Hal ini sangat miris dan ironis. Jika memang polisi ada untuk masyarakat akankah perilaku ini dipertahankan? Tuntutan untuk POLRI Apa yang terjadi di Ende merupakan salah satu dari tindakan represif yang mencoreng intitusi kepolisian. Hal ini menjadi refleksi dan evaluasi dari sistem kerja kepolisian. Kopolri harus mampu menyelesaikan konflik ini, proses hukum yang berlaku menjadi harapan masyarakat. Keputusan mencopot Kapolres Ende dari jabatannya dan memecat oknum-oknum yang terlibat dalam kasus tersebut menjadi tuntutan dan harapan dari berbagai kalangan. Proses menangani dan menyelesaikan adalah hal yang sulit dilakukan polisi dalam kasus ini, tentunya pengkawalan yang terus-menerus menjadi kunci untuk penyelesaian kasus ini. Langkah hukum yang sesuai dengan relnya menjadi agenda dari pihak terkait agar bisa menuntaskan kasus ini. Dala[...]